[14] SM Entertainment

66 5 0

Kyungsoo memerhatikan sebuah kartu nama yang baru saja diberikan oleh seorang pria dewasa kepadanya. Kartu itu bertuliskan Han Semin, SM Entertainment. Dahinya terenyit. SM? Bukankah itu adalah perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan?

"Ahjussi nuguseyo?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.

Pria itu tersenyum. "Aku? Aku adalah orang yang akan membantu membesarkan namamu."

"Ne?"

"Datanglah ke alamat itu hari Sabtu akhir pekan ini, kutunggu kedatanganmu di kantor." jawab pria itu singkat lalu berbalik pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri terpaku sambil memandangi punggungnya.

Kyungsoo menatap kartu di tangannya sekali lagi. Apa maksud pria itu barusan? Apakah ini artinya... ia tak sengaja untuk diundang audisi? Kyungsoo tertawa kecil mendengar jawaban dari pikirannya barusan.

Audisi? Yang benar saja.

Ia meremas kartu nama itu dan segera memasukkannya ke dalam saku celananya.

***

"Apakah harimu menyenangkan?" tanya Serin lewat telepon.

Kyungsoo tersenyum sambil memutar-mutar bolpoinnya. "Tentu saja."

Malam itu Serin dan Kyungsoo sedang bercakap-cakap melalui panggilan telepon. Sudah lewat beberapa hari sejak kepulangan mereka dari Tokyo, namun keduanya belum sempat menghabiskan waktu bersama. Bahkan untuk curi-curi waktu untuk berdua saja sudah susah karena selain Kyungsoo yang kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua kedisiplinan di sekolah, Serin juga tak kunjung lepas dari kedua sahabatnya Baekhyun dan Chanyeol, sehingga Kyungsoo enggan mencuri momen berdua dengan gadis itu.

"Kau sedang apa?" tanya Serin.

"Hanya... belajar." jawab Kyungsoo sambil menaruh goresan pada buku catatannya. Ia berbohong, sebenarnya ia tidak sedang belajar, melainkan sedang menggambar sketsa wajah Serin. Awalnya ia memang sedang belajar, namun ketika Serin menelepon ia jadi tidak bisa fokus pada catatannya dan kini otaknya hanya tertuju pada gadis itu.

"Aku mengganggu ya? Mian."

"Aniya," Kyungsoo tertawa. "-malah kebetulan aku memang sedang suntuk, untung kau menelepon disaat yang tepat."

"Cih, bohong."

Kyungsoo tertawa lagi mendengar respon Serin. Entah kenapa suara gadis itu selalu terdengar menyenangkan baginya. Andai saja Serin sedang berada persis di hadapannya, Kyungsoo yakin netranya sudah pasti tak akan pernah lepas dari sosok gadis itu.

"Bogoshipo." kata Serin tiba-tiba.

"Kan sudah ketemu di sekolah."

"Aniya, aku belum pernah punya kesempatan untuk bertemu dan mengobrol berdua denganmu, apalagi kita beda kelas. Kau tahu kan teman-temanku itu selalu menempel padaku. Chanyeol sih tidak seberapa, tapi Byun Baekhyun– ah... dia itu seperti permen karet."

"Dia itu hanya terlalu terbiasa denganmu." Kyungsoo sangat memahami kedekatan Serin dan Baekhyun. Setelah mendengar cerita Serin bahwa ia dan Baekhyun sudah mengenal sejak kecil, ia sangat percaya bahwa hubungan di antara keduanya memang benar-benar murni hanya sebagai sahabat. "Kalau begitu coba carikan dia pacar." usul Kyungsoo tiba-tiba.

"Heol, kau tidak tahu saja sudah berapa kali aku coba mendekatkan dia pada gadis lain, tapi entah kenapa dia tidak pernah bisa pacaran lama. Lebih buruknya lagi, aku sudah berkali-kali dilabrak mantan-mantan Baekhyun karena mereka bilang akulah penyebab putusnya mereka karena cemburu melihatku terlalu akrab dengannya."

Universe in His EyesWhere stories live. Discover now