"Lebih baik kita ngobrol di tempat lain aja yuk! Biarkan Azka dan Andhara mengobrol disini!" ajak Mama Azka, yang langsung diangguki oleh orang-orang di sekitar keduanya.

Keduanya, sama-sama terdiam. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Azka yang malas berdua dengan gadis yang berstatus sebagai istrinya, dan Andhara yang merasa canggung. Andhara bingung harus bagaimana ia memulai pembicaraan. Karena sepertinya percuma ia menunggu Azka berbicara lebih dulu.

"Makasih yah Ka, kamu sudah mau menerima aku jadi istri kamu," kata Andhara seraya tersenyum pada Azka.

"Nerima? Jangan mimpi!" respon Azka dengan tegas seraya tersenyum miris, dan membuang pandangan ke arah lain. Ia tak suka melihat wajah gadis di sebelahnya yang menurutnya sangat egois. Pancaran mata gadis itu menunjukan, jika dia sangat bahagia. Tanpa pernah dia tahu, jika pernikahan ini adalah mimpi buruk baginya. Azka yang memang sejak tadi duduk di kursi roda, memilih untuk membelokan kursi rodanya dan pergi menjauh dari gadis itu.

Andhara hanya bisa pasrah dan menerima sikap Azka yang memang tak menyukainya. Sejak awal ia yakin, hal ini pasti akan terjadi. Tapi karena rasa cintanya terlalu besar, Andhara rela merasakan sakit yang luar biasa karena Azka. Karena yang terpenting baginya, ia sudah menjadi istri Azka. Ia akan melakukan apapun supaya Azka perlahan bisa menerimanya. Andhara percaya, kerasnya hati Azka pasti akan hancur seiring dengan berjalannya waktu.

"Kok lo sendiri? Azka mana?"

Refleks Andhara menoleh saat ia mendengar suara Andra dari belakang. Ia pun beranjak dan berdiri menghadap Andra, seraya tersenyum. "Azka tadi bilang, kalau dia bosen disini. Jadi, mungkin dia pergi ke halaman samping buat cari angin." Mau tak mau Andhara berbohong. Ia tak mungkin menceritakan semua yang terjadi pada Andra mengenai Azka yang tak bisa menerimanya. Andhara tak ingin jika Andra membenci Azka dan membuat persahabatan mereka hancur. Dan yang paling Andhara takutkan, Andra akan memaksanya untuk meninggalkan Azka. Andhara tak mau itu terjadi. Setelah sepuluh tahun penantiannya, ia tak mungkin melepaskan Azka begitu saja. Tidak akan pernah.

"Terus lo nggak ada niat buat nemenin dia, gitu?" tanya Andra dengan dahi berkerut. Entah kenapa, Andra merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya dan juga Azka. Harusnya mereka bahagia dan menghabiskan waktu bersama, bukannya malah menyendiri. Namun Andra berusaha membuang pemikiran negatifnya jauh-jauh dan mencoba mempercayai Andhara.

"Nggak enak sama yang lain kak kalau gue juga ikut pergi. Tadi dia juga udah ngajak gue, tapi gue nggak mau. Gue mendingan disini, ngobrol sama lo." Di kalimat terakhir, nada bicara Andhara yang awalnya biasa-biasa saja berubah lirih. Ia pun langsung memeluk Andra untuk menumpahkan rasa sakitnya. Selama ini, dia yang jadi tempatnya bersandar. Selama ini, dia yang selalu ada saat Andhara butuh. Selama ini, Andra yang selalu menghiburnya dan mengembalikan tawanya saat ia ada masalah. Tapi setelah ini, ia takkan mungkin bisa melakukan kebiasaannya lagi. Setelah ini, ia harus siap menghadapi semuanya sendiri. Memendam rasa sakitnya sendiri tanpa ada pendengar. Ia harus belajar akan hal itu, meski sulit dan butuh waktu yang lama.

"Lo kenapa nangis?" Andra perlahan membalas pelukan Andhara dan mengusap lembut kepala adiknya.

"Gue nggak papa. Gue cuma pengen peluk lo aja kak, karena setelah ini gue nggak bisa kayak gini lagi sama lo."

"Siapa bilang?" Andra mengurai pelukannya dan memegang kedua bahu Andhara seraya menatap lekat wajah Andhara, "Sekalipun lo udah nikah, lo tetep bisa bisa kok datang ke gue saat lo lagi ada masalah. Sekalipun Azka itu orang baik dan nggak akan mungkin nyakitin lo, tapi yang namanya masalah dalam rumah tangga, pasti terjadi An. Dan saat hal itu terjadi, datang ke gue An. Gue siap untuk jadi tempat lo bersandar lagi."

The Perfect Wife (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang