Bab 2. (Permohonan antar sahabat)

1.6K 66 8

Ustad in love

Bab 2.

Permohonan antar sahabat.
.
.
.

Warning : segala hal yang kutulis didalamnya tidak bermaksud merugikan pihak manapun, typo, gaje, dan hal-hal absurd lainnya #plak. Okay happy reading all......

.
.
.

~Aku bertekad untuk menjadi mubtada' , memulai sesuatu. Menjadi fa'il yang berawal dari fi'il.~

.
.
.

Pandangan memuja terus saja terlihat dari hampir semua pengunjung saat seorang pemuda yang mengenakan kaos putih polos dipadukan jaket bewarna biru donker dan celana jins dengan warna senada itu memasuki cafe. Bahkan pelayan yang menawarkan menupun tak berkedip sedetikpun saat mancatat pesanannya tadi.

Pemuda tersebut tak lain adalah Muhammad Hasbi Muzaki yang kini tengah menjadi seorang Hasbi. Ia benar-benar datang ke cafe sesuai dengan pesan yang diterimanya kemarin malam. Manik arangnya menelisik sekitar dan mendengus kesal serta menampilkan wajah datar saat mendapati beberapa pengunjung diam-diam memotretnya, seolah dia adalah aktor yang terdampar disini.

Jam menunjukkan pukul 09:05 saat Hasbi menyesap coffee latte kesukaannya. Sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk berharap orang yang membuatnya menunggu segera menunjukkan batang hidungnya. Namun hingga lima belas menit kemudian seseorang yang dimaksud belum juga datang.

"Ck, tau begini lebih baik tadi aku ikut abi saja ke rumah paman Khairy." Gumamnya kesal dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Tapi baru berdiri beberapa detik ia dikagetkan dengan seseorang yang memekik didepannya.

"Ma'af telat." Ucap seorang pemuda berambut kecoklatan dengan lantang dan nafas yang memburu. Sontak saja hal itu membuat beberapa pengunjung mengalihkan pandangan kearah mereka walaupun hanya sesaat.

"Hn, kuharap kau punya alasan masuk akal kali ini." Kata Hasbi datar dan duduk kembali sementara pemuda tadi hanya tersenyum kikuk dan duduk di depannya.

"Ano... etooo tadi aku harus membantu kucing yang tersesat dijalan bernama...... kehidupan." Balas pemuda tadi dengan cengiran khasnya yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan oleh Hasbi.

"Ckckck, tatapanmu itu tidak mempan padaku Gus" . Ucap pemuda itu lagi, tak lupa memberi penekanan pada kata 'Gus' dengan wajah tanpa dosanya yang membuatnya Hasbi mendengus kesal.

"Jangan memanggilku begitu. Ingat, kita tidak sedang berada dilingkungan pesantren Fan." Ucap Hasbi dingin.

"Kau sama sekali tidak berubah ya Bi." Kata pemuda bermata sayu itu.

Dalam hati pemuda tadi tersenyum, sungguh Ia sangat menyukai sikap Hasbi yang apa adanya, disaat sebagian orang berlomba-lomba menunjukkan kealiman mereka, berpakaian layaknya ustad besar yang berakhlak , sahabatnya yang sebenarnya adalah sosok Gus yang begitu dihormati dan berhati mulia justru menjelma menjadi pemuda biasa yang seakan-akan tidak mengetahui banyak hal tentang ilmu agama. Ia suka dengan sifat apa adanya itu meskipun terkadang ia juga tak habis pikir bagaimana bisa seorang Gus Muzaki bisa berubah 180 derajat saat menjadi Hasbi. Tapi ia lebih menyukainya daripada penampilan mereka yang menurutnya lebih pantas disebut dengan pencitraan.

Ustad in love Baca cerita ini secara GRATIS!