Why(3)*16*

542 20 0


Hati... Semua yang berhubungan dengannya begitu rumit.. Bahkan rasanya aku ingin menjerit. Seolah hanya itu obat untukku bangkit.

*******

Bella POV's

"Bella!!"

Degh!

Aku terlonjak kaget mendengar teriakan itu. Teriakan yang sukses membuka paksa kedua mataku dan menarikku paksa dari dunia mimpi.

Langsung saja kutegakkan badanku dan duduk tegap layaknya patung pancoran.

Aku mencoba mengingat hal terakhir yang kulakukan tadi sebelum akhirnya aku terlelap. Tapi semuanya sia - sia saja yang kuingat hanyalah sebuah mimpi aneh, tentang seorang gadis kecil dan bocah lelaki yang entah sedang apa di sebuah taman yang nampak begitu familliar.

Kini Bu Arum sudah ada di sampingku, menatapku bengis dengan sorot mata setajam elang. Aku mencoba menduga-duga, bahwa mungkin beliau sudah sedari tadi memanggil namaku. Hal itu lantas membuatku semakin kalut dalam ketakutanku sendiri.

Kucoba menetralkan degub jantungku yang kini mungkin sama kencangnya dengan orang yang berlari maraton. Sekelebat bayangan tentang hukuman yang akan diberikan Bu Arum mulai terlintas di benakku, membuat nyaliku kian menciut.

Walau Bu Arum berada tepat di sampingku, aku tak berani melihat langsung ke matanya yang mungkin bisa disamakan dengan sosok Medusa. Aku memang tak bisa melihat langsung wajah guru bahasa inggrisku itu, Tapi aku yakin, beliau pasti benar benar sangat marah.

'Sial'

Sungguh malang nasibku hari ini. Mungkin semesta memang sedang tak berpihak padaku, hingga masalah kian menerpaku secara bertubi-tubi.

Setelah dipermalukan di pelajaran seni musik tadi. Kini, aku harus kembali menanggung derita dari hasil perbuatan setan gila yang entah bagaimana caranya berhasil membujukku hingga aku berani tidur di pelajaran Bu Arni yang killernya minta ampun.

'Ya Allah!!!!! Kenapa hamba begitu sial hari ini! Kenapa bukan orang lain saja yang mengalami semua ini! Semoga kali ini enggak disuruh untuk maju lagi Ya Allah.. Amiiiinn!!'

"Bella!" panggil Bu Arum.

"I-iya buk!" sahutku terkejut mendengar panggilan beliau yang begitu dingin.

"Bisa kau jelaskan apa kesalahanmu?" ujarnya dingin.

"A-anu.. Ma-Maaf bu, tadi.... Saya ketiduran" ucapku tergagap-gagap sambil menundukkan kepala.

"Ketiduran? Emang ini

jam berapa hah?! Sampe sampe kepalamu udah ngelosor aja di atas meja! Sekalian aja pasangin paku di atas kepalamu biar nempel terus sama tuh meja!!" 

BroSist ComplexsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang