07. Phobia

100 32 4

"Elo nggak ngampus kan hari ini?" tanya Sehun duduk di samping gue.

Gue meletakkan buku yang tadi gue baca, lalu menatap Sehun.

"Enggak, kenapa?"

"Ikut gue ke kantor. "jawab Sehun.

Alis gue terangkat tinggi mendengar ucapan Sehun."Ngapain? Males ah." tolak gue lalu kembali membaca buku.

Sehun merebut buku yang gue baca lalu menyembunyikan nya di samping tubuh nya.

"Nggak ada penolakan, Nyonya Ooh."

"Sehun.. "rengek gue lalu ngedanga liat muka dia.

"Hm?" balas Sehun menatap gue.

"Gue capek. Biarin gue istirahat. "keluh gue memasang muka melas.

"Gue udah bilang, nggak ada penolakan." sela Sehun.

Gue memberengut. "Gue mager ih."

"Buruan ganti baju. "titah Sehun yang udah tegak.

"Males." ujar gue.

"Ganti baju sendiri atau gue yang gantiin?"tanya Sehun yang langsung bikin gue menatap dia.

"Kalo gue yang gantiin. Bisa jadi leher lo banyak tanda nya. Mau?"sambung nya yang bikin gue membelalak.

Gue mendecak kesal. Lalu bangkit dari kursi. "Ganti sendiri."

"Yah, sayang banget. Padahal gue pengen ngegantiin loh. "suara Sehun sok sedih gitu.

"Gue tabok juga lu lama-lama." gerutu gue.

"Uuuu, mau dong di tabok, "ucap Sehun."make ini." sambung dia menunjuk bibir nya sendiri lalu nyengir ke arah gue.

"Dasar pedofil. "cibir gue.

"Gini gini gue pacar lo tau." sela Sehun.

"Aduh. "gue langsung memegang kepala."gue tiba-tiba amnesia, lu siapa ya?" tunjuk gue ke Sehun.

Sehun memajukan kepala nya.

Cup

"Udah inget?"tanya dia setelah nyium bibir gue singkat.

Mata gue membulat.

"Belum ingat ya? Apa mau lagi?"

"Iya, iya! Gue inget! Lo Ooh Sehun, pacar gue. "sela gue sebelum si albino gila ini nyium gue lagi.

Sehun terkekeh."Padahal gue---"

"Ashhh, shut!"gue meletakkan jari di depan bibir Sehun. "Nggak usah banyak bacot."

Gue berjalan menuju kamar. Lalu mengganti pakaian dengan pakaian yang agak formal.

"Ayo. "ajak gue berdiri di depan Sehun.

Sehun menatap gue dari atas sampai ke bawah. Lalu kembali lagi.

"Ngapain lo liatin gue kayak gitu, hah?"hardik gue karena pandangan Sehun yang bikin gue risih.

"Galak amat. "cicit Sehun seraya bangkit dari duduk nya.

"Bodo amat." balas gue.

"Yaudah ayok. "ajak Sehun berjalan mendahului gue.

Satu jam kemudian, gue dan Sehun udah sampai di kantor nya dia. Gue turun duluan dari mobil. Sehun merapikan jas nya lalu berjalan ke samping gue.

Langkah gue agak lebih cepat ketimbang Sehun. Gue pengen cepet cepet masuk ruangan dia. Karena di sini lumayan panas. Sedangkan gue make baju yang agak kebuka.

ScandalBaca cerita ini secara GRATIS!