4. Pertemuan Yang Salah

11.6K 523 2
                                    

Part ini mundur ke beberapa tahun silam, pada awal pertemuan antara Andrea dan Revan.
Pertemuan tak terduga, dimana api kebencian bermula.
Dua insan yang berjodoh di masa depan...
Namun mungkin jua kebencian itu salah tempat dan masa. Mereka lebih pantas untuk bersanding dalam ikatan suci...pernikahan.

"Re, kumohon jangan pergi. Jangan tinggalin aku," rengek sosok gadis berpenampilan seksi, memohon pada pria yang membisu di depannya. Air bening mulai membanjiri pipinya yang merah.

Bahkan pria bertubuh atletis itu bergeming, risih dengan ulah sang gadis. Yang diinginkannya hanya mengenyahkan gadis itu dari pandangan.

"Apa maumu? sudah kubilang kita nggak pernah ada hubungan apapun!" ucap pria itu dingin sambil mencekal pergelangan tangan gadis yang nampak kalut. Kemudian dihempaskannya, hingga si gadis tersungkur di lantai.

Penampilan Wina sudah acak-acakan, makeup mulai luntur bersimbah air mata, kontras dengan kondisinya saat ini. Menyedihkan.

"Win?" teriak seorang gadis mungil berpenampilan casual berhambur memeluk Wina, kemudian membantunya untuk berdiri.

Pemuda itu masih tidak perduli, bahkan menatap keduanya dengan senyum mengejek.

Gadis mungil itu terlihat geram, melangkah cepat menghampiri pria yang masih diam membeku.

'Plak', tanpa disangka sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi kanan pemuda berwajah blesteran itu. Kejadiannya berlangsung cepat.

"Kurangajar!" gertak sang gadis.

Terkejut. Muka si pemuda merah padam, matanya terbelalak, berkilat bak pedang, siap menerkam mangsanya saat itu juga. Kedua tangannya mengepal menahan untuk tidak melayangkan tinju kepada gadis yang berdiri menantang di depannya.

Seolah membaca tanda bahaya, Wina buru-buru menarik tangan sahabatnya dan bergerak mundur. Suasana begitu tegang.

"An, ayo, sudahlah, kita pergi," tarik Wina, namun gadis mungil itu tetap bergeming di tempatnya. Bahkan dengan sengit membalas tatapan pria itu.

"Kamu nggak pernah belajar bagaimana menghormati wanita?" teriak Andrea masih dengan garangnya menghiraukan ucapan sahabatnya.

Dengan amarah berkobar berlipat-lipat, pemuda jangkung itu melangkah mendekati kedua gadis yang serempak bergerak mundur.

"Kamu!! Jangan ikut campur." Sang pemuda secepat kilat menyambar lengan Andrea, berusaha menahan diri untuk tidak lepas kendali. Tersenyum miring tepat disisi wajah Andrea.

"Lepaskan!" ucap Andrea, kali ini sedikit gugup. Perasaan takut menyergap ruang jiwa.

"Kamu akan membayar semuanya!" bisik pemuda tampan itu, suaranya serak terdengar mengerikan di telinga Andrea.

"Aku pastikan!" lanjutnya, maniknya berkilat tajam menusuk, seolah sanggup membunuh siapapun yang menatapnya.

Pria bermata elang itu kemudian berlalu meninggalkan kedua gadis yang masih sama-sama terpaku.

Karena Jodoh Tak Pernah SalahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang