PROLOG

16 4 0

"Abi, semua teman Qila punya mama. Kok Qila ngga?"

Rifki terdiam, seperti ada hantaman keras di dadanya saat mendengar pertanyaan Aqilah. Berdenyut, meninggalkan efek nyeri. Bagaimana caranya menjelaskan pada gadis kecil berusia lima tahun itu, kalau dia juga punya mama, tapi tak menginginkannya.

Rifki mengabaikan pertanyaan itu, meski terasa masih berdenging di telinganya. Dia mengubah posisi tidur yang semula terlentang, mengapit Aqilah di bawahnya, lalu menggelitik gadis itu hingga kegelian.

Itu satu-satunya cara mengusir nyeri yang masih terasa. Mendengar tawa Aqilah.

***


Saat hanya suara dengkur halus yang terdengar dalam lelap yang nyenyak,seorang perempuan menempelkan kening pada bumi di dalam kamar. Bersujud, mengadu pada Rabb-nya akan sesak di hati. Berharap rindu yang menggerogoti bisa teredam dalam isakan. Hingga terasa sebuah elusan pelan pada bahunya yang masih bergetar, barulah dia mengangkat wajah.

"Jangan begini. Menikahlah dan punya anak. Berhenti menolak pinangan yang datang." Suara sang ibunda bergetar karena berebut dengan isak yang juga akan keluar.

Perempuan berbalut mukenah putih itu menggeleng, menanggapi ucapan ibunya.

"Menikah dan punya anak lagi tak lantas membuat seorang ibu melupakan belahan jiwanya yang sudah ada, kan, Ma?"

Senyap, sang Ibu tak bisa menjawab. Hanya rengkuhan hangat yang bisa dia berikan untuk putrinya.

***

APARTBaca cerita ini secara GRATIS!