Top Hallyu : 01 [Part 1]

37.2K 5.9K 422
                                    

Musim Dingin, Las Vegas.

Bisa dibilang hari ini adalah hujan salju paling buruk selama bulan Desember. Udaranya sangat dingin, meskipun tidak sampai membekukan air sungai. Tapi seberapa pun dinginnya suhu udara, tidak akan menghambat jalannya Kasino tempat Fara bekerja. Kasino ini akan selalu ramai oleh suara musik yang ada di lantai bawah. Para DJ bermain diikuti liukan para penari twerk yang membut seorakan kagum bagi kaum pembawa testosteron. Mereka menari menikmati surga Las Vegas. Para pejudi bersorak senang ketika mendapati uang mereka berlipat ganda dalam hitungan menit, sedangkan beberapa dari mereka harus menelan pil pahit karena kehilangan uang. Bisa dibilang Las Vegas bagai surga dan neraka yang bercampur di wadah yang sama.

Pemandangan itu adalah hal biasa bagi Fara. Ia mengantarkan tequila dengan nampan mewah sambil menawarkannya secara gratis kepada penjudi. Fara mengenakkan kemeja putih, dan celana panjang sebatas mata kaki. Ya, Fara menyamar menjadi laki-laki untuk bertahan hidup.

Las Vegas adalah kota yang kejam, tapi setidaknya kota itu cukup aman untuk dijadikan tempat persembunyian. Setidaknya sampai 10 tahun ke depan, Fara harus puas tinggal di negeri yang masih terasa asing untuknya. Karena sangat mustahil jika Fara kembali ke Korea. Dia bisa mati jika sampai menginjakkan kaki di negara kelahirannya itu. Untuk sekarang ini bersembunyi adalah pilihan yang tepat.

"Will! William!" seorang pria berteriak dari sisi kiri meja tempat mereka bermain poker.

Fara memutar bola matanya. Seperti si Babi yang bernama Richard kalah lagi. Pria itu menghabiskan 50 USD setiap menit hanya untuk bermain poker.

"Kenapa, Rich? Aku sedang bekerja." Fara mengambil segelas tequila, "Tequila, Tuan?"

Beberapa pria yang ada di meja menggeleng. Richard menoleh, lalu menarik lengan Fara. "Aku kalah lagi! Kau gantikan aku bermain dengan si brengsek itu. Nanti uangnya kita bagi dua."

Fara mengernyit. Richard memang sering menyuruh Fara menggantikan posisinya jika dia hampir kalah. Fara memang gemar bermain judi. Tapi sayangnya dia tidak memiliki uang, dan selama ini uang Richardlah yang Fara pakai--tentunya jika pria itu yang menawarkannya.

"Tapi aku sedang bekerja." Fara melirik ke arah manajer yang sudah berdiri di sudut ruangan. Pria tua itu selalu mengawasi pegawainya. Richard mendengus, "Aku akan meminta izin padanya. Kau tunggu di sini."

Fara meletakkan nampannya di sebuah trolli makanan yang kebetulan lewat. Suasana Kasino menjelang malam benar-benar ramai. Sumua permainan penuh, seperti permainan dadu misalnya. Para wisatawan yang kebetulan singgah di Las Vegas pasti menyempatkan diri untuk bermain dadu, karena permainan itulah yang paling mudah dan tidak terlalu banyak menghabiskan uang.

Fara melirik ke arah Richard, sepertinya pria itu berhasil meluluhkan hati si manajer.

"Bagaimana?" tanya Fara.

"Dia hanya mengijinkanmu bermain selama 2 jam." Richard langsung menggiring Fara ke meja. "Kita dapatkan 100 juta. Kau pasti bisa."

Fara menyeringai, ia merenggangkan otot-ototnya lalu duduk berhadapan dengan beberapa orang penduduk lokal. Richard sangat bodoh, pantas saja dia terus-terusan kalah, mengingat lawan yang dia pilih penduduk asli Las Vegas. Mereka semua datang tiap hari untuk bermain judi, jadi akan terlihat sangat bodoh jika pemain amatir seperti Richard bermain bersama mereka.

"Ck! Seharusnya kau datang ke lantai dua ruang TAO. Di sana ada orang-orang mabuk yang frustasi, jadi kau bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Sialan kau, Rich! Kita tidak akan bisa menang," bisik Fara.

Richard hanya menggaruk tengkuknya, "Aku mempercayakan 20 juta USD-ku untukmu, Dude."

"Sialan!" Fara mengumpat, lalu mulai bermain saat kartu dibagikan.

***

Jam menunjukkan pukul 5 dini hari, Fara baru saja pulang dari Kasino. Ia menyusuri jalan setapak sambil memeluk uang sebanyak 75 juta USD. Ya, Fara berhasil memenangkan permainan poker, dan malam ini dia juga beruntung karena mendapatkan jackpot di permainan dadu.

Fara memeluk uang itu erat-erat. Satu dollar pun sangat berarti bagi Fara. Uang adalah hidupnya.

"Fara Kim! Mau kemana kau?"

Fara tersentak, ia menoleh ke belakang lalu mendapati 3 orang pria bertubuh tinggi menyeringai mengejeknya.

"Siapa kalian?"

Pria itu mendekat, lalu menampilkan wajahnya tepat di bawah lampu jalanan.

"Kau---" Fara tercekat, tapi itu tidak berlangsung lama, karena Fara sudah berlari sekencang-kencangnya. Dia tidak memperdulikan licinnya jalanan karena tiga pria itu mengejarnya.

Fara masuk ke gang-gang kecil, lalu tembus di jalanan besar. Ia menyebrang jalan untuk pergi ke sebuah hotel mewah yang cukup sepi.

Fara menyelusup ke kawasan hotel, lalu naik saat melihat security lengah. Fara bisa melihat 3 orang pria itu ikut masuk tapi terhenti karena security memeriksa tubuh mereka.

Buru-buru Fara memencet lift untuk bersembunyi di lorong hotel. Napasnya terengah-engah karena berlari di cuaca dingin.

"Sial! Bagaimana bisa mereka menemukanku!" pekik Fara. Ia memukul dinding lift.

Ting!

Lift berhenti di lantai 5 dan seseorang masuk ke dalam. Buru-buru Fara menstabilkan raut wajahnya. Ia melirik sekilas ke arah si pria. Dandanannya terlihat aneh. Orang itu memakai masker dan napasnya terengah-engah. Sepertinya pria itu sedang melarikan diri. Sama sepertinya.

"Kau orang Korea?" tanya Fara.

Pria itu membuka maskernya, "Hem."

Fara merenggut. Kenapa banyak sekali orang Korea di Las Vegas?

"Kau perempuan?" tanya orang itu.

Fara melotot, "Bukan! Aku laki-laki."

"Aku bisa melihat payudaramu dari balik breast binder. Meskipun tidak terlalu besar, tapi tetap saja aku bisa melihat putingnya."

Fara melotot. Ia memegang dadanya. Ternyata breast binder yang ia kenakkan melorot. "Sial! Jaga matamu."

"Tidak ada yang bisa dilihat. Ukurannya terlalu kecil. Aku yakin nanti kalau kau punya anak, putingmu tidak akan bisa mengeluarkan ASI!"

"Ya, Tuhan mulutmu!" Fara tidak bisa berkata-kata saat mendengar nyinyiran laki-laki di depannya ini. Wajahnya memang tampan, manis, dan terlihat seperti orang kaya. Tapi saat membuka mulutnya, pria itu membuat Fara naik darah. Mulutnya busuk, seperti limbah belerang.

"Dengar, Tuan---siapa namamu? Ah itu tidak penting, yang jelas aku tidak terima saat---"

Ting!

Lift berhenti di lanti 20 dan sebelum pintu lift terbuka, pria itu langsung menarik tubuh Fara lalu mencium bibirnya.

Fara memekik, tapi belum cukup rasa terkejutnya, Fara hampir limbung saat melihat puluhan paparazzi menunggu di balik pintu lift.

Mereka berteriak histeris sambil memotret dirinya dan pria itu.

"Namaku Byun Baekhyun. Dan aku membutuhkan bantuanmu." Pria itu berbisik di telinga Fara, lalu mencium gadis itu sekali lagi.

" Pria itu berbisik di telinga Fara, lalu mencium gadis itu sekali lagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Top Hallyu and Me (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang