[11] Our First Day

70 4 0

"Aku menyukaimu!"

Langkah Kyungsoo terhenti. Lelaki itu tertegun sesaat, ia berdiri mematung di sana selama beberapa detik. Punggungnya sama sekali tidak ingin bergerak menghadap gadis itu. Ia merasakan jantungnya sempat terhenti selama sepersekian milidetik dan sekarang dadanya begitu berdebar. Sejak kapan Serin...

Wajah Serin begitu memerah. Ia tak menyangka tiba-tiba mulutnya bisa berkata seperti itu. Gadis itu menyipitkan matanya, sedikit menyesal dengan ucapannya barusan. Yang benar saja, Oh Serin.

Situasi canggung mencuat kembali di antara mereka berdua. Sebenarnya sudah beberapa waktu ini Serin terus terganggu dengan sosok Kyungsoo yang selalu menghantui pikirannya, awalnya ia berpikir mungkin ia hanya sedikit terlalu membenci Kyungsoo, namun belakangan ini ia sadar bahwa kenyataannya tidak seperti itu. Ia sadar bahwa tiap kali melihat Kyungsoo, jantungnya selalu berdebar dan telapak tangannya kerap menjadi dingin karena gugup.

Kyungsoo masih berdiri memunggungi Serin, matanya menatap lurus ke depan. Ia sama sekali tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Ia begitu pendiam sehingga orang-orang saja hampir tidak mengenalinya karena tidak seorangpun pernah berbicara dengannya. Tapi Oh Serin berbeda, entah bagaimana gadis itu yang memulai membangun hubungan lebih dulu dengan Kyungsoo, walaupun awalnya itu bukanlah sebuah hubungan yang baik.

Kyungsoo cenderung terbiasa melakukan semuanya sendiri, bahkan biasanya ia tidak pernah peduli pada orang lain, tapi sejak ia ditunjuk sebagai ketua kedisiplinan di sekolah, ia jadi terpaksa terlibat dengan urusan orang lain, tidak terkecuali Serin. Dan siapa sangka ketika tak sengaja ikut campur dalam kehidupan Serin, kini ia justru tidak dapat lepas dari bayang-bayang gadis itu.

Lelaki bertubuh pendek itu menoleh membalikkan tubuhnya. Dilihatnya gadis bernama Oh Serin yang sedang berdiri di hadapannya, gadis itu memasang wajah yang tak dapat dideskripsikan. Kyungsoo menatap gadis di hadapannya ini dengan seksama, dengan sorot mata tajamnya yang selalu dibenci Serin. Serin membalas tatapan itu seolah ia tidak pernah takut dengan tatapan itu yang seakan akan menusuk netranya. Ia mencoba tenggelam dalam tatapan Kyungsoo yang seperti sedang mengintimidasi tapi entah kenapa ia merasakan keteduhan di dalamnya.

Kyungsoo bukannya membenciku, ia hanya tidak tahu bagaimana harus bertindak di hadapanku.

Itulah yang ada di pikiran Serin.

Mata Kyungsoo terus menatap Serin yang juga belum melepas pandangannya dari tatapan akan dirinya. Dilihatnya wajah gadis itu lekat-lekat, ia mengamati dengan baik ekspresi gadis itu. Serin tidak cantik, pun terkadang wajahnya terlihat begitu dingin dan arogan, matanya yang sipit dan bentuk alis yang tajam, serta mulutnya yang kecil. Wajah seperti itu bukan tipe ideal menurut Kyungsoo, namun Kyungsoo sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana rupa seseorang, selama orang tersebut bisa membuatnya ingin terus melihatnya dan ingin selalu berada di dekatnya. Setidaknya Serin memiliki hal itu.

Kyungsoo sudah membuat keputusan. Ia akan berjalan pelan menuju Serin sambil berhitung sampai angka lima. Ia pernah mendengar jika laki-laki bisa langsung jatuh cinta pada seorang gadis hanya dalam waktu lima detik. Jika dalam lima detik itu ia merasakan perubahan atau jika dadanya semakin berdebar kala jaraknya semakin dekat dengan Serin, Kyungsoo akan membulatkan keyakinannya.

Dengan berani Kyungsoo mulai melangkahkan kakinya pelan menuju Serin. Gadis itu hanya terdiam sambil memerhatikan sosok Kyungsoo yang mulai berjalan pelan mendekatinya.

1...

Aku tidak yakin dengan perasaanku, tapi aku akan mencari tahu sendiri...

2...

Oh Serin, jangan bergerak, tetaplah di situ...

3...

Kumohon tetaplah di situ, kali ini aku yang akan datang padamu...

Universe in His EyesBaca cerita ini secara GRATIS!