Chapter 20 - Emit

604 72 48




Kisar baskara membina adu domba

urungkan ganjaran abu para peri.

Menunda jamuan siksa, kata masa padanya,

"Sejenak menanti."

dan aku menanti

makhluk neraka mengemuka.

Makhluk neraka ... mengemuka.

Emisi sihir menggelintar melalui serakan dedaunan kering di hutan. Kedua mataku membuka, menyambut julang-julang batang yang berderet rapih di sekeliling dengan aroma basah tanah dengan rambatan akar-akar tua. Menyambut aura itu, kulitku meluruh seperti besi yang meleleh karena api. Paru-paruku pun mengecil, membuat frekuensi napasku semakin cepat. Gertakan transformasi belulang agak memerangkap organku yang menyusut lebih lambat. Pakaian mantel putihku pun berkerut menyesuaikan ukuran tubuhku. Aku menghirup napas, merasakan udara yang jauh lebih dingin dan bentangan jeruji alam yang semakin mengangkasa.

Cahaya perak samar memendar semakin terang dari rambut cepak pendekku. Kuangkat kedua tangan, dan jemari mungil dengan kulit seputih gading terlihat begitu polos, seperti hati yang tak ternoda. Dengan tangan-tangan mungil itu, kuraba wajahku sendiri, dan merasakan konfigurasi tengkorak belia dengan lapisan kulit tambun. Terkejut dengan wujudku sendiri, aku tersentak mundur. Gersak daun kemarau terdengar renyah di bawah sepatuku.

"Siapa itu?"

Setelah mematung beberapa lama, sumber aura itu bergerak mendekat, dengan cahaya ivory yang mengingatkanku pada warna kambium kayu. Di balik juluran dedaunan yang dibentangkan ranting-ranting, bilah yang tajam ditebaskan ke arahku. Bau getah segar menguar tatkala dedaunan runtuh itu mengeksposnya.

Kedua tanganku refleks terangkat untuk melindungi mataku dari silau cahaya itu. Sosok wanita yang menjulang begitu tinggi itu membuatku terlihat seperti kurcaci mungil di dekatnya. Aura magisnya membawa gelenyar serupa desir darahku. Ia menarik napas ketika kedua kakiku gemetaran, tetapi cahayakulah yang membuatnya lebih terkejut. Kedua matanya memantulkan bias perakku, persis dengan bilah pedang yang dicengkamnya. Desing pedang yang teredam menandakan senjata itu telah tercanang pada sarungnya, dan aku menurunkan tanganku perlahan.

"Seorang bocah hellbender?" Wanita itu terkesiap, memusnahkan ketajaman roman wajahnya. Aku bergeming saat wanita itu menoleh ke kanan dan kiri dengan linglung. "Mengapa kau bisa ada di sini? Dari mana asalmu?"

Aku menunduk ketika insting kanak-kanakku menyuruh untuk menjawab ragu. Cahaya perak yang benderang membuat tanah di sekitarku terlihat lebih pucat. Aku mengedikkan bahu.

"Aku tidak tahu."

Wanita itu mendecakkan lidah dan bertanya lagi, "Di mana orang tuamu?"

Aku mengusap-usapkan kedua telunjuk dengan pilu. "Aku ... tidak ingat."

Menghela napas panjang, wanita itu berjongkok di hadapanku sehingga cahaya perakku mengusir bayangan yang terbentuk dari kontur wajahnya yang kuat, beradu dengan cahaya ivory dari rambut panjang bak duri-duri landak. Kedua tangannya menggenggam bahuku, agak terlalu kasar.

"Kalau begitu, apakah kau mengingat namamu sendiri, anak kecil?"

Aku terdiam sejenak. Degup cekatan quartz dari dalam dadaku seakan telah menjawabnya. Kepolosan semurni apapun takkan membuatku melupakan identitas, untuk waktu yang teramat lama. Tidak setelah semua yang kujalani di muka Fantasia Cosmo.

"Emit."

Lidahku amat lancar mengucapkan namaku sendiri. Wanita di hadapanku itu mengangguk.

Shine and Shadow (Dark and Light, #2)Baca cerita ini secara GRATIS!