Part 30

2.1K 99 4

"Aku bukan terlalu mengejar. Tapi, aku hanya berusaha untuk meraih apa yang dari awal belum aku dapatkan. Masalah bisa atau tidaknya, semua kembali aku serahkan pada yang menciptakan kita dan semua."

~~~

Faldo melangkahkan kakinya menuju lokernya yang berada di lantai dua. Tangan kanannya memegangi tas ransel yang ia gendongkan di bahu sebelah kanan. Mulutnya asik mengunyah permen karet yang ia bawa dari rumah ketika hendak berangkat sekolah tadi. Tampilannya hari ini masih seperti tampilannya beberapa hari belakangan ini. Masih dengan seragamnya yang dimasukkan ke dalam celana osisnya dengan rapi, rambut yang disisir dengan tertata, dasi yang dipakai sebagaimana mestinya, dan tali pinggang yang ia pakai sesuai dengan aturan sebenarnya.

Dibukanya loker dengan kode F05 ketika ia sampai di depan lokernya. Tangannya dengan sigap mengambil semua kiriman dari mulai coklat, setangkai bunga mawar, dan surat yang setiap harinya selalu menumpuk di dalam lokernya lalu membuangnya ke tempat sampah yang berada di dekatnya. Diambilnya seragam basket miliknya dari dalam tasnya lalu ia tata dengan rapi di dalam lokernya.

Belum sempat Faldo menutup kembali lokernya, ia merasa bahwa ada yang memegang bahunya sebagai tanda panggilan untuknya. Faldo menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memegang bahunya.

“Ngagetin aja lo,” ketus Faldo yang kemudian kembali pada posisinya lalu menutup lokernya dan menguncinya dengan benar.

“Parno banget lo. Gue cuma megang bahu doang udah kaya dipegang setan aja,” sewot Rey seraya mengambil permen karet yang ada di saku baju Faldo lalu memakannya tanpa izin.

“Bodo.” tukas Faldo seraya berlalu pergi meninggalkan Rey yang mengekor di belakangnya.

Faldo berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang sangat santai tanpa memedulikan jika sebentar lagi bel akan berbunyi. Pandangan matanya mengedar di setiap kelas yang ia lewati dan sudah banyak siswa dengan kegiatan yang berbeda di dalamnya. Tangannya merogoh saku celananya lalu mengambil earphone dan memakainya. Kepalanya mengangguk mengikuti alunan musik yang terputar. Bibirnya sering kali bergumam mengikuti lirik yang didengar.

“Do, pinjem tugas matematika lo,” pinta Bisma yang baru saja datang.

Merasa tak mendapat jawaban dari Faldo yang masih asik dengan ponselnya, Bisma memutuskan untuk langsung mengambil buku tugas Faldo di dalam tas ranselnya. Disalinnya semua tugas yang sudah Faldo kerjakan tanpa ada satu yang dibedakan. Faldo yang mulai menyadari kehadiran Bisma di sebelahnya pun menoleh lalu melepas earphone dari telinganya.

“Woy, lo ngambil tugas gue kok nggak izin dulu sih?” sewot Faldo seraya merebut buku tugasnya lalu memasukannya kembali ke dalam tasnya.

“Nggak izin nenek lo pikachu! Gue udah izin, lo nya aja yang budeg segala pake earphone kan jadi nggak denger,” ucap Bisma membela diri dari ocehan Faldo.

“Masa?” tanya Faldo tak percaya seraya menaikkan satu alisnya.

“Iya, Junaedii!” ketus Bisma dengan nada yang sedikit naik dari sebelumnya.

“Iya udah ambil aja noh di tas gue, Jaenal,” balas Faldo yang kemudian kembali memasang earphonenya.

Bisma mengambil kembali buku tugas Faldo di dalam tasnya. Disalinnya kembali tugas yang belum selesai ia tulis karena Faldo yang sudah lebih dulu mengambil bukunya.

Bel berbunyi degan nyaring di seluruh penjuru sekolah yang menandakan bahwa jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Bisma yang belum juga selesai menyalin tugasnya terlihat gugup karena guru yang akan memasuki kelasnya tak segan-segan menghukum anak-anak yang ketahuan tidak mengerjakan tugas ataupun menyalin tugas temannya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!