💦o2

349K 15.9K 872
                                    

"Pagi dunia! " sapa Saras saat baru membuka matanya.

Hari ini semangatnya lebih menggebu gebu.

" Alhamdulillah, makasih ya Allah hari ini Saras masih bisa nafas " syukurnya sebelum beranjak dari kasur, sesegera mungkin ia merapikan tempat tidur, mengambil air wudhu, lalu segera menunaikan kewajibannya.

Sholat Subuh.

Setelah selesai, ia segera ke dapur membantu budhe Tati yang sedang memasak sarapan untuk orang di rumah.
" Budhe! ini cabenya mau di ulek ya? "

" Iya nduk, tolong di ulekin ya, habis itu kamu masukin ke masakan yang ada di dalem panci itu " tunjuk budhe ke arah panci yang ada di atas kompor gas.

Dengan cekatan, Saras mengikat rambutnya dengan karet gelang bekas mengikat sayur buncis. Ia ingat kebiasaannya di kampung saat memasak, kata ibu kalo masak harus iket rambut, biar rambutnya gak masuk ke makanan. Duh baru sehari, udah kangen aja sama ibu di kampung.

Selesai memasak dan menyusun piring di meja makan, Saras segera mandi dan berganti pakaian.

Di tatapnya pantulan dirinya yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu di dalam cermin.

" Wah sekarang aku sudah pake seragam SMA , coba aja ibu lihat, pasti ibu seneng deh " Lagi-lagi ia teringat ibunya .

" Saras pengen deh telpon ibu sama adek, tapi kan Saras ndak punya handphone "

Tak ingin terlalu lama larut oleh rasa rindu , Saras langsung mengambil tas jinjingnya untuk segera berangkat ke sekolah.

©©©©

Pagi ini dia berangkat ke sekolah bersama Ninda menggunakan mobil yang biasa di pakai Ninda ke sekolah,tapi tentu saja dengan seorang sopir yang selalu setia mengantar jemput.

Saras turun dari mobil yang terbilang mewah itu, matanya tak berhenti membelalak melihat bangunan besar yang ada di depannya.

" Wow, ini beneran sekolah ku? Kok gede banget Ya kayak bukan sekolah " Tanyanya dalam hati. Sementara Ninda sudah jauh meninggalkannya yang masih juga terkagum-kagum. Maklumlah dia malu jika harus bersebelahan dengan Saras yang sangat terlihat jelas kampungannya.

" Freak Yuckh! " gerutu Ninda yang sudah meleenggang pergi bak seorang dewi.

Saras segera masuk ke kelas yang katanya sih khusus kelas anak-anak orang terpandang dan berpunya, tapi dia? Boro - boro terpandang, wong ibunya saja cuma kerja panas-panasan di sawah demi sesuap nasi untuknya dan Mutiara adik satu-satunya yang sekarang masih kelas 6 SD.

Saras celingak celinguk, tidak tau dengan siapa dia harus berteman. Apa ada yang mau jadiin dia teman?

" Hei , nama lu siapa? Kenalin nama gue Fania Anastasya Christabelle putri dirgantara, hehehe nama gue kepanjangan ya? " Sapa seorang gadis yang sebangku dengan Saras, gadis itu dengan ramahnya menyapa dan bahkan menyodorkan tangannya pada Saras yang terlihat sangat kampungan.

" Engg... , nama aku Saras " ia segera menyambut uluran tangan gadis itu dengan hangat .

" Eh By the Way , lu bisa panggil gue Fani aja biar gak ribet " Gadis yang di sapa Fani itu kembali menebar senyuman pada Saras yang membuat Saras cukup senang, gak nyangka ada anak Jakarta yang masih begitu baik kepadanya yang notabene hanya orang kampung. Apa selama ini Saras lah yang terlalu kebanyakan nonton sinetron jadi pikirannya pun ikut terkontaminasi sama pemahaman yang tidak selamanya benar.

( Not )  A dream wedding [BACA AJA, JANGAN DI BELI YA BUKUNYA] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang