MTPBB || 39

51.3K 4.9K 346

Maudy menyandarkan kepalanya di punggung Mahesa. Mereka berada di perjalan. Mahesa mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata.

Rasa bahagia Mahesa tak terhitung dengan banyaknya hitungan angka. Gadis yang berada di sandaran punggung nya telah memberikan perasaan yang tak pernah terduga telah membuatnya nyaman.

Dia akan menyimpan cintanya hanya untuk gadis nya yang sekarang berada di sandaran punggungnya. Menjaganya sampai akhir nanti. Mahesa tak ingin menyiakan-nyiakan Maudy yang sudah Tuhan pertemukan dengan nya.

Motor Mahesa berhenti di depan kedai Ice Cream.

Mereka turun dari motor. Mahesa merapihkan rambut Maudy yang sedikit berantakkan.

Mahesa menggenggam tangan Maudy. Lalu mereka masuk ke dalam kedai ice cream itu.

"Mau rasa apa?" tanya Mahesa pada kekasihnya.

"Apa aja."

"Maaf sayang, kalau rasa sayang dan cinta nggak ada. Jadi rasa vanilla aja ya." kata Mahesa sembari nyengir.

"Aku emang maunya rasa vanilla." ucap Maudy.

"Jadi rasa sayang dan cinta nya nggak jadi?"

"Mahesa, udah ya jangan bercanda. Malu di liat sama orang."

"Maaf sayang." ucapnya. Mahesa melihat pelayan wanita yang masih setia berdiri di hadapan mereka. "Rasa vanilla dua porsi." ucap Mahesa. Kemudian pelayan itu pergi.

Mahesa maupun Maudy mendengar gelak tawa dari dua orang wanita yang mereka kenal. Mereka menoleh sekilas pada wanita itu. Karena bagi Mahesa tak begitu memperdulikan nya.

"Kamu sahabatan juga sama Intan dulu?" tanya Maudy.

Mahesa menggeleng. "Enggak. Malah aku baru kenal dia."

"Terus Intan sama Alona."

Mahesa menaikkan kedua bahunya. "Enggak tau. Mungkin mereka temanan."

Maudy mengangguk. Tanpa sengaja Maudy menoleh pada Intan dan Alona bertepatan mereka melihat Maudy juga.

Maudy melempar senyum pada mereka. Namun hanya Alona yang membalas senyuman Maudy. Sedangkan Intan, hanya diam. Namun pandangan mata Intan tertuju pada Mahesa.

Mahesa tak menyadarinya, sesekali dia membalas group chat dari sahabat-sahabatnya.

Tak lama ice cream pesanan mereka datang.

"Makasih mbak." ucap Maudy pada pelayan itu.

Intan terus saja memperhatikan Mahesa, meskipun di situ ada Maudy kekasihnya.

"Kenapa sih lo liatin Mahesa terus?" tanya Alona.

"Dia itu manis. Gue suka aja kalau mandang wajahnya dia." sahut Intan. "Tapi gue nggak suka liat cewek itu."

Tiba-tiba alis Intan mengerut. "Lo kenal Mahesa?" tanya Intan.

"Dia sahabat gue waktu SMP." sahut Alona.

Alona semenjak sekolah di luar Negeri dan sampai berteman baik dengan Intan. Dia tak menceritakan tentang Mahesa, Arthur atau bahkan Salwa.

"Kenapa lo nggak cerita. Kalau lo punya sahabat kayak Mahesa." kata Intan.

"Yah gapapa."

"Dan kenapa yang selalu lo ceritain Naresh mulu?"

Alona hanya diam. Intan tak begitu menanggapi terdiam nya Alona. Dia berdiri dari tempat duduknya.

"Kemana?" tanya Alona.

"Mau samperin Mahesa." sahutnya sembari meraih ponsel nya yang ada di atas meja.

Mahesa The Perfect Bad Boy (Completed)Baca cerita ini secara GRATIS!