SAD TO THE MAX!

20 2 0

Harusnya mentari hangatkan

hati yang rusuh

bukan membakar amarah tersisa

sebab ia diciptakan

demikian adanya

Ini seperti dejavu bagi Larasati. Dikepung bau karbol dan obat-obatan, memaksa perut Laras bertahan dari mual. Dulu ia menghadapi ini ketika nungguin Darmanto, cowok yang punya arti agak istimewa buatnya. Saat itu Dar jatuh dari motor trail di dalam Tong Setan, di areal Sekaten Yogya.

Laras menghela nafas dan mencoba senyum. Sedang apa sekarang cowok itu ya? Sesekali kirim pesan pendek, lalu lama tak berkabar. Kemarin hari nongol ngasih kue blackforrest, lalu ngilang lagi.

Tanpa sadar Laras menggeser trackpad BlackBerrynya ke arah menu contacts. Ditekannya tombol "D", perlahan disusurinya deretan nama di situ. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Mau apa, Ras? Nelepon? Kangen ya, sama Darmanto?

Laras mengelak dari tuduhan batinnya. Mengingat Darmanto juga udah cukup baginya.

"Mbak Laras..." suara perempuan setengah baya di sebelahnya menyobek kesendirian Laras. Back to the fact, Ras! Bau antiseptic kembali tercium. Diam-diam Laras merasa seperti kembali dengan mesin waktu ke saat sekarang, di ruang tunggu UGD RSU Dr. Soeroto, Ngawi, Jawa Timur.

"Ya, Bu? Dina udah bangun?" Laras menatap Bu Muji, ibunda Dina, teman barunya di kota ini.

"Belum. Setelah sadar tadi, dia ngeluh pusing, lalu tidur, sampek sekarang," lesu wanita itu menghela nafas panjang. Kerut-kerut di kulit tangan, leher dan wajahnya menambah tampak tua dan sengsara. Siapapun akan iba melihatnya.

Setelah kejadian Dina pingsan di air terjun Srambang, sebuah lokasi wisata di Ngawi, Laras membawanya ke RSU. Beruntung Laras tahu rumah Dina berdasar ancer-ancer teman lama Dina yang kebetulan ketemu.

Tapi saat siuman dan melihat kedua orangtuanya ada di dekatnya, Dina malah seperti terganggu. Tawaran ibunya untuk makan dan minum ditolaknya. Bapaknya yang hendak mengupaskan pisang diomelin. Makanya Laras memilih tunggu di luar ruangan, membiarkan Dina bersama orangtuanya.

"Anak itu memang keras-kepala, Mbak..." Bu Muji mengikat ulang kuncir rambutnya yang kering dan beruban banyak. "Kata dokter tadi, kalok sudah bangun dan kondisinya baik, nggak usah nginep nggak apa-apa. Atau kalau mau nginep ya semalem aja."

Laras paham, ini masalah finansial para orangtua. Ia tak paham hitung-hitungannya. Sama seperti kalau dia lihat wajah lelah Mama memeriksa tagihan-tagihan keuangan. Sesekali Mama membicarakan dengannya, tapi tidak dengan mengeluh. Mama selalu yakin, persoalan uang dapat diatasi asal punya strategi.

"Iya, Bu, kayaknya kondisinya udah baikan," Laras berdiri melongok ke dalam ruangan. Pak Muji, bapak Dina masih duduk di kursi menunggui Dina yang tidur.

"Bapak capek kayaknya, Bu," Laras kembali duduk di samping Bu Muji.

"Biarinlah, biar dia nyadar, anaknya juga bisa berontak," wanita itu mengeraskan rahang. Kelelahan di wajahnya tak dihiraukan. Tampak sekali keterpaksaan untuk bertahan. Laras mati kutu, nalurinya menyuruh segera menghindar dari urusan keluarga orang lain.

"Bapaknya dari dulu nganggep Dina itu anak laki-laki," Bu Muji bicara lirih dengan mata tertuju ke lantai. Laras pasrah, sudah pasti ia harus dengar curhatan ibu-ibu.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!