FALLS ON SRAMBANG WATERFALL

7 0 0

Bersiaplah selalu

apapun yang terjadi

di hadapanmu

Surabaya masih pagi saat Larasati menyandang backpack memasuki klinik terapi tempat Papa dirawat. Rencananya hari ini Laras mau pamitan pulang, setelah bolos sekolah dua hari, sesuai batas waktu yang diberikan Mama. Alasannya bolos adalah demi mengantar Papa terapi ke Surabaya.

Daun-daun kering akasia di pelataran, gugur menimpanya, menyadarkan Laras betapa ia amat bersyukur dan mencintai hidupnya yang rumit tapi indah. Papa dan Mamanya telah bercerai, tapi masih rukun demi anak semata wayang, Laras.

Tiap pagi hingga sore Mama menemani Papa menjalani berbagai terapi Qi Gong. Malamnya, Mama menginap di rumah Tante Trini, sahabatnya. Kini Tante mengantar Laras berpamitan, lalu mencari bus Surabaya-Solo.

"Langsung pulang ya, Ras!" begitu pesan Mama ketika Laras berpamitan. Tante Trini tersenyum dan mengajak Mama keluar untuk membicarakan sesuatu. Laras jadi punya kesempatan bicara dengan Papa.

"Baik-baik di sekolah, Pumpkin..." Papa tersenyum di pembaringan. "Turuti Mama, langsung pulang..."

"Ehm..." Laras berpikir. Menatap Papa sambil tersenyum. "Kalau bolos sampai Jumat, boleh? Tanggung, Pa... weekend pulang, kok..." suara Laras dikecilkan, takut terdengar Mama.

Papa tersenyum, "Asal sepanjang Surabaya-Solo aja... dan jangan hitch hike, langsung naik bus ke tempat tujuan..."

Laras hampir melonjak kegirangan. Tapi diurungkannya karena akan membuat Mama curiga. "Iya, Pa. Laras akan tetap kasih kabar.." Laras merogoh saku depan backpacknya. Sebuah BlackBerry hitam disodorkan ke tangan Papa. "Ini Laras kembalikan, Papa sudah pulang, kan! Jangan ngilang lagi, ya..."

Papa tersenyum dan menggeleng, "Kalau sudah sembuh nanti, kita bisa backpacking berdua, Pumpkin!"

Laras mencium punggung tangan Papa, dan menggenggam jari-jari lelaki gagah itu, dan saling meninjukan kepalan tangan.

Di luar ruangan, Tante Trini masih bersemangat cerita tentang Ratmi, mantan pelacur Gang Dolly. Laras ikut menyimak sambil duduk di samping Mama.

"Biarin dia ikut aku aja, mbebek terus!" Tante tertawa. "Tapi di kantor banyak yang harus dikerjakan, sampai malam juga, jadi dia nggak punya pikiran mau balik ke Dolly! Si Dono tuh, yang ngajarin komputer, sampe pusing!"

"Tapi untungnya Ratmi mau belajar, ya!" Mama menepuk bahu Tante, "Siapa tahu ini ibadah buatmu..."

Tante Trini mengangguk senang, lalu berpaling ke Laras, "Siap?"

Laras mengangguk, lalu cium tangan Mama dan memeluknya. "Pulang dulu ya, Ma... sehat selalu..."

Mama tersenyum dan mengacak-acak rambut Laras. Entah kenapa kali ini Laras rela diperlakukan begitu, bahkan seharian kalau Mama mau!

"Kamu nanti turun di depan, Ras, ada banyak bus lewat sini," Tante Trini meminggirkan mobilnya ke tepi jalan di dekat rambu bergambar bus. "Mau ditungguin?"

Itu penghinaan buat backpacker macam Laras. Spontan dia menggeleng. Tante tersenyum. Laras mencium tangannya.

"Hati-hati di jalan, jangan meleng, jangan tergoda sama cowok," senyum Tante tidak bisa menutupi pandangan matanya yang terharu dan tergenang air mata.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!