THE SECRET OF NARROW STREET

10 0 0

Menyusurinya membuat ngilu

seperti biasa, tak ada tabu

semua suka jadi semu

saat pulang tergugu

Sehabis makan malam dengan menu Sego Sambel Mak Yeye di Gang Jagir, Wonokromo, Surabaya, Larasati dan Mamanya diajak Tante Trini melintasi Gang Dolly.

Yup! Dari dulu Laras pengen banget lewat lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara itu. Sekarang kan ada alasannya, nyari remaja cewek binaan perpustakaan Tante Trini, yang namanya Ratmi.

"Dia itu hidup sama neneknya yang sudah tua, di kampung kumuh, dekat perpustakaanku, Rin..." papar Tante sambil menyetir. Suaranya tak sesemangat sebelumnya. Wajahnya juga murung, seperti halnya Mama Laras.

"Kasihan banget ya," gumam Mama sedih.

Tiba-tiba ponsel Mama berbunyi. Dari Papa Laras, yang sedang menjalani pengobatan alternatif di Surabaya. Mama menghela nafas setelah menutup telepon.

"Aku harus ke klinik, dokternya mau ngejelasin proses terapi. Gimana?" Mama menoleh ke Tante.

"Ya udah, kuanter ke sana, ntar kujemput lagi. Laras, gimana, mau ikut Tante apa Mama?" Tante santai melihat Laras lewat spion.

"Aku mau ikut Tante ya, Ma?" Laras menyambar cepat, membuat Mama nggak punya pilihan. Terbukti Mama mengangguk meski menatap setengah khawatir.

Setelah Mama turun di klinik alternatif tempat Papa Laras diterapi, Tante Trini meneruskan perjalanan. Laras dimintanya tetap di jok belakang, karena Tante akan menjemput seorang teman, sesama relawan perpustakaan.

"Buat jaga-jaga, Ras. Yang ini mantan preman, jadi amanlah kita, kalau harus berantem kan ada dia," Tante mengangguk yakin sambil menelepon seseorang. Laras cuma membatin, kalau soal berantem dia juga berani.

Heh, masih berani kalo ngelawan orang-orang di Dolly? Batinnya mengejek, dan Laras memilih mengaku kalah sebelum bertanding.

Di pinggir jalan besar, Tante meminggirkan mobil. Seorang lelaki berjaket kulit hitam dengan perawakan tegap melambaikan tangan, lalu masuk ke mobil. Ditengoknya ke belakang, sambil tersenyum lebar, memperlihatkan gigi ompong satu di barisan tengah atas. Laras menatap bengong.

"Hai..." suaranya ramah dan berat. "Kenalkan, saya Dono. Panggil Mas Dono. Kamu pasti Laras, ya? Backpacker badung itu?"

Hah? Backpacker badung? Buat cewek semanis gue? Laras berasa bertanduk merutuki nasibnya. Ia melirik lewat spion atas, dengan keki melihat Tante Trini yang cekikikan.

"Mbak Trini suka nyeritain kamu, malah katanya pengen kamu jadi anaknya..." giliran Mas Dono tertawa keras. Lucu dengernya, karena suaranya ngebass gitu. Apalagi dengan gigi ompongnya!

Laras cengar-cengir aja. Nggak kebayang kalau jadi anak si Tante, kompaknya karena sama-sama heboh dan suka jalan. Tapi mungkin banyak bentroknya, kayaknya si Tante juga berwatak keras. Juga tampak sedikit galak.

"Itu ceritanya gimana, kok si Ratmi bisa balik lagi ke Dolly?" Tante serius ngobrol sama Mas Dono.

"Yo gak weruh," Mas Dono menggelengkan kepala resah, jaket kulitnya yang imitasi sedikit berbunyi gemerisik jika ia bergerak. "Kayaknya dihasut sama temennya yang dulu itu, si Saryati. Tahu-tahu nggak masuk kerja berapa hari, perpustakaan gak ono sing nyapu! Gak ono sing ngurus!"

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!