SEDERHANA ITU INDAH, TAPI SULIT, RAS!

10 0 0

Belajarlah dari pucuk padi

dari tegak yang kosong

tunduk penuh berisi

Pagi dingin ditingkah lantang kokok ayam jago, membuat Laras terbangun. Masih mengenakan mukena, rupanya ia tertidur habis sholat Subuh. Segera dibereskannya peralatan sholat, lalu bergegas keluar kamar.

Di dipan ruang tamu, Bhaskoro masih tidur berbalut sarung. Ngorok pula! Ih! Iseng Laras menciprati muka temannya itu dengan air mineral yang ada di meja.

"Bangun, Bhas! Udah pagi!" Laras berulang kali menciprati.

"Tolong! Tolong! Saya tenggelaaam!" Bhaskoro gelagapan sambil meronta-ronta. Laras ngakak melihat ulah temannya.

"Awas lo, Ras!" Bhaskoro yang tinggi cungkring itu beranjak ke kamar mandi dengan cemberut.

Laras menyapu ruang tamu, sebagai penghormatan pada tuan rumah, keluarga mas Ando, kakak Bhaskoro. Badung-badung juga Laras tahu dirilah, gimana kalau menginap di rumah orang. Nggak boleh seenaknya, bantu-bantu apa yang bisa.

"Mbak..." Tunjung, anak empat tahun berdiri di depan kamar sambil mengucek mata. "Ibu, mana?"

Laras tersenyum mendekat, "Lagi ke pasar kali, sama bapak. Tunjung tidur lagi aja, ya?"

Balita lucu itu masuk lagi ke kamar. Laras mengintipnya sebentar, memastikan tertidur lagi.

Usai menyapu, Laras hendak mandi dan buang hajat. Saat itulah ia mendengar percakapan suami-istri, Mas Ando dan Mbak Yuni. Mereka berdua sedang mengeluarkan belanjaan bahan-bahan Ledre, makanan khas Bojonegoro, yang menjadi usaha rumah tangga. Kebetulan jarak dapur dan WC tidak jauh.

Sebenarnya jengah juga Laras, tapi harus diterimanya kondisi seperti itu, bukan bermaksud menguping pembicaraan.

"Kemarin kan nelepon, ngasih tahu keputusannya, nggak jadi nyeponsori..." Mbak Yuni buka suara.

"Wah, ini bisa bikin down mereka, padahal udah semangat mau punya kostum baru!" keluh Mas Ando.

Terdengar denting gelas dan air yang dituang. Lalu sendok kecil beradu dengan gelas. Harum kopi sampai di hidung Laras yang lagi jongkok.

"Assalaamu'alaikum!" seru seseorang di muka rumah.

"Wa'alaikum salaam!" Mas Ando buru-buru beranjak. Sesaat kemudian Mbak Yuni mengikuti tergesa.

Laras lega, ia tak perlu mengusik perbincangan. Cepat ia membersihkan diri.

"Ada undangan ke rumah Pak Kaji Syuaib, nanti malem," Mas Ando membaca surat yang diserahkan tamu. Mbak Yuni dan Bhaskoro ikut membaca.

"Acara apa, Mas?" Laras ingin tahu.

"Aqiqahan, istrinya habis melahirkan anak kelima. Pak Kaji itu orang terkaya di desa ini. Wah, ini bakal lek-lekan, melek sampek pagi! Cuma ada yang istimewa, anak-anak Persibo juga diundang!" Mas Ando menatap istrinya penuh harap.

"Waaah! Kesempatan, Mas! Ini undangan buat siapa? Cuma buat sampeyan, apa boleh bawa anak-anak LU?" Mbak Yuni tampak cemas. LU adalah singkatan dari Ledre United, sekolah sepakbola milik Mas Ando.

"Ini ditulis, kepada ye te ha saudara Basunando dan anak buah, Ledre United, Bojonegoro," Mas Ando tersenyum.

"Berarti boleh bawa anak-anak LU!" Mbak Yuni tertawa kecil gembira. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Tadi yang anter surat itu bilang, acaranya gede-gedean, banyak orang Jakarta yang diundang. Coba sih, Mas, kita tawarkan produk kita, sebagai oleh-oleh buat orang-orang Jakarta itu! Sampeyan rak cedhak karo Pak Kaji, siapa tahu beliau mau!"

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!