LEDRE UNITED, SO KEWL!

9 0 0

Hidup kita seperti bola,

menggelindingkan kisah-kisah

tak terduga...

Pukul Sembilan malam, Larasati dan Bhaskoro sampai di tujuan, rumah kakak Bhaskoro di dusun Sumber Rejo, Bojonegoro, Jawa Timur. Pengemudi pick up yang mereka tumpangi ternyata bersedia mengantar sampai mulut desa.

Sepanjang berjalan kaki menuju lokasi, hamparan pohon tembakau di bawah langit malam menyambut kedatangan dua manusia yang sudah kecapekan dan kelaparan. Laras menghirup kuat-kuat aroma udara malam berbaur tanah basah. Dicarinya jejak bau daun tembakau.

"Emang di sini ada pabrik rokok, Bhas?" Laras masih mengembang-kempiskan hidung.

"Hmm..ada," Bhaskoro menggumam pendek dengan wajah murung, membuat Laras heran.

"Panik ya, mau ketemuan sama kakak lo?" Laras ikut bersimpati.

Bhaskoro cuma angkat bahu dan menghela nafas. Matanya menatap ke depan, saat keramaian desa mulai ditembus.

"Whealaaah.... ta'kiro gak sido teka!" setengah berteriak Mbak Wahyuni, kakak ipar Bhaskoro menyambut tamunya. "Ayo, masuk! Silakan duduk...temanmu ini jenenge sapa, Bhas?"

"Saya Laras, Mbak," dengan senyum manis Larasati mengenalkan diri. Tambahnya jahil, "Tapi sumpah, Mbak, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Bhaskoro, selain pertemanan biasa."

Mbak Yuni tertawa terkekeh, sementara Bhaskoro cuma senyum kecut. Hatinya masih rusuh menjelang pertemuan dengan kakak kandungnya.

"Mas Ando sedang tidur, kalian juga istirahat dulu. Bentar, aku mau ngangetin makanan dulu, ya!" Mbak Yuni beranjak ke dapur.

Laras duduk dan memperhatikan sekeliling. Ruang tamu yang sederhana, tak ada hiasan macam-macam. Cuma banyak foto pemain bola tergantung di dinding, tapi tak satupun yang Laras kenal, setidaknya tak ada pemain top yang sering muncul di TV.

"Itu pemain Persibo, sepakbola di kota ini," Bhaskoro berbisik sambil membuka sepatu. "Masku itu merintis sekolah sepakbola. Dari dulu, tapi nggak maju-maju, sampai hartanya ludes. Bolaaa aja yang dipikirin!" kini suara Bhaskoro berubah jadi bisikan kesal.

"Nanti mbak Laras tidur sama Tunjung, ya, anak perempuanku satu-satunya," Mbak Yuni muncul sambil membawa baki berisi piring dan mangkok dan dua gelas air putih.

"Sini, Mbak! Apalagi yang bisa dibantu?" Laras bergegas berdiri. Tapi Mbak Yuni melarang dengan gelengan halus. Laras duduk lagi.

"Nggak usah dibantu, wong adanya cuma ini. Ayo, makan dulu! Pasti kalian sudah laper dari tadi!" Mbak Yuni menata dua piring berisi nasi, sepiring kecil tempe goreng dan semangkuk kecil sambal kecap.

"Wah! Kayaknya enak, nih!" Laras memuji tulus. Setulus kecepatannya menghabiskan makanan, mengalahkan Bhaskoro yang tak bernafsu.

Malam itu Laras tidur bersama Tunjung, gadis kecil umur empat tahun yang tidurnya lasak menguasai kasur. Akhirnya Laras memilih tidur di lantai beralas sleeping bag, yang untung dibawanya.

Bhaskoro kebagian tidur di balai-balai ruang tamu, beralas tikar pandan. Biasanya tuh anak maunya yang enak-enak melulu, nggak mau susah. Tapi lantaran ada masalah dengan kakaknya, itu anak harus menerima kondisi yang diberikan padanya, termasuk tidur di dipan tanpa kasur ditemani nyamuk-nyamuk gendut yang rajin nyamperin telinga.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!