BLACKFOREST FOR LOVE

8 1 0

Cobalah perlahan

saat menikmatinya

ada manis, pahir, asam,

seperti seluruh rasa dalam hidup!

Pagi itu kelas Larasati, di SMA Pelita Hati amat riuh. Beberapa siswa merubung kursi Laras yang masih kosong. Penghuninya belum datang. Bambang, Retno, Iin, Tatik dan beberapa teman berdebat, siapa pengirim bingkisan yang tertera di atas kardusnya: 'untuk Larasati, dari A'.

Bhaskoro yang duduk di pojok depan enggan bergabung. Mukanya kusut. Dia melamun. Matanya menatap keluar kelas, bersirobok dengan Larasati yang baru datang. Laras tersenyum riang dari jauh. Bhaskoro cuma membalas dengan malas. Laras mendekat dengan heran.

"Kenapa loe, Bhas?" Larasati menunduk meneliti muka Bhaskoro. "Kamu sakit?"

Teman-teman Laras memanggil heboh, tapi Laras sedang konsentrasi pada Bhaskoro.

"Biarin dulu, Ras. Gue lagi sedih, kakak gue yang di Jawa Timur lagi sakit, bapak minta gue nengokin."

"Ya udah, tengokin sana!" Laras mengangkat alis.

"Gue males, karena pernah berantem sama kakak gue itu," Bhaskoro mengacak-acak rambutnya.

"Kamu mending, Bhas, masih punya kakak!" Laras mengangkat bahu. "Ntar gue temenin kalo gitu! Weekend ini, mau nggak?" Laras melambai pada Retno yang memanggil-manggil.

"Ya, makasih. Tuh, ada kado buat elu!" Bhaskoro bangkit lagi semangatnya. Buat dia, masalahnya setengah selesai. Penting rasanya ada yang nemenin bepergian, menemui seseorang yang pernah ada masalah dengan kita.

Laras heran melihat kardus mika ukuran sedang, dengan sebuah kue blackforest berbentuk jantung hati, berhias ceri merah segar dan coklat batang tipis yang ditata melingkari sisinya.

"A?" Laras mengerutkan kening membaca selembar kertas kecil di permukaan mika. "Siapa A?" Tapi nggak ada yang menjawab. Bambang mendesaknya untuk segera dipotong.

"Jangan-jangan isinya bom," desis Laras curiga.

"Jangan-jangan itu dari Boni," sahut seorang teman. "Mungkin dia dendam sama elu, Ras. Bokapnya kan ditahan, Boni terpaksa pindah sekolah, siapa tahu dia malu karena kalah sama elu, trus balas dendam!"

"Jangan-jangan beracun!" Bhaskoro berteriak. "Potong dikit aja, Ras, kasih ke kucing, kalo kucingnya mati, kita buang kuenya!"

"Sadis! Jangan kasih ke kucing, kasihan kucingnya! Mending ke tikus wirog tuh, di belakang sekolah!" Retno protes, didukung Iin dan Tatik.

"Coba denger dulu, ada bunyi detiknya gak?" Bambang langsung ngasih kode ke teman-temannya supaya diam. Sontak sekelas hening.

"Bom sekarang nggak bunyi tik-tik-tik lagi! Itu bunyi hujan!" seorang teman nyeletuk. Bambang tidak menggubris, tetap diam mendengarkan. Tiga menit mereka diam, sampai pada bosan.

"Bentar lagi bel sekolah, Mbang! Potong aja, lah!" beberapa teman sudah tak sabar. Bhaskoro menahan.

"Bentar, potong dikit dulu buat tikus!"

"Halah! Sudah, kalo nggak bunyi, berarti bukan bom! Kalo beracun, kita ke rumah sakit rame-rame!" sahut seorang teman, disambut yang lain dengan kompak. Bhaskoro mengalah sambil mengangkat tangan.

Laras pun setengah tak peduli. Ia sedang berpikir siapa si "A" ini.

Kue diiris oleh Retno dengan pisau plastik yang tersedia di samping kardus. Retno melakukannya perlahan. Teman-temannya mengikuti tidak sabar. Di lapisan selai kedua Retno berhenti mengiris. Wajahnya curiga dan heran. Laras menarik nafas, cemas.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!