Chapter 25

8K 1.5K 694
                                                  

Reality that has been hidden

Elektrokadiograf masih menjadi satu-satunya bising di sana, ditemani desis alat respirasi udara yang menempel pada hidung Jungkook, dan sedikit bagian datang dari pemanas ruangan yang dinyalakan. Jika beruntung beberapa perawat mungkin datang dengan sedikit gaduh saat nerkaben dan gunting serta jarum suntik saling bertubrukan, setidaknya itu menjadi alunan suara lain yang baik untuk Seokjin tangkap.

Kepala diisi banyak hal, seluruh beban di dalam kepala rasa-rasanya tengah bercokol hebat di dalam perutnya, Seokjin tidak bergerak sama sekali, mungkin akan pergi dan memindahkan bokongnya dari sana hanya untuk sekedar membasuh wajah agar dapat terus terjaga jika Jungkook tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

Kantung matanya melebar, wajahnya cukup berminyak pagi ini, rambut hitamnya berantakan, dagunya ditumbuhi bintik hitam samar, jika dilihat dengan lebih lekat dan jelas, Seokjin mungkin butuh untuk bercukur sesegera mungkin. Tetapi ketimbang melakukan hal itu, Seokjin jauh memilih untuk tetap diam pada tempatnya, menatap malaikat mungilnya yang masih terbaring kaku, satu-satunya hal yang membuat Seokjin merasa bahwa Jungkook masih di sana dan Jungkook masih hidup adalah alat bantu hidup yang terpasang pada sekujur tubuhnya.

Ini melukainya, sungguh.

Melihat Jungkook hanya mampu bernapas, selebihnya hanya terbaring kaku bersama mata terkatup rapat membuat Seokjin hampir-hampir gila rasanya.

Ayah mana di dunia ini yang tidak akan merasakan hal demikian jika melihat satu-satunya harta yang ia miliki dalam keadaan yang membingungkan seperti ini. Berada diantara hidup dan mati.

Matanya bengkak dan merah, hidungnya berair, kepala berkedut, pening, sesekali Seokjin terdengar meringis menahan sakit di dalam dada, menjatuhkan bulir-bulir airmata yang membasahi kedua belah pipinya. Tangannya menggenggam jemari Jungkook erat, Seokjin sekarat, benar-benar sekarat jika harus kehilangan Jeon Jungkook.

"K-Kook-ie bertahan ya. Ayah ada di sini untuk Kook-ie. Jangan takut di sana, Ayah akan tetap menjaga Kook-ie dari sini."

Parau. Suaranya terdengar parau, kerongkongannya kering, sakit, dan Seokjin benar-benar dalam fase sekarat sebab gravitasinya, dunianya seperti baru saja runtuh di atas kepalanya. Yang dia lakukan selama dua hari ini hanya berharap banyak bahwa Jungkook akan bertahan sebentar lagi, ya, sebentar lagi sampai persiapan pendonoran selesai. Sementara ia harus terus mengontrol kondisi pendonor yang sudah dijanjikan padanya.

Airmatanya kembali jatuh, Seokjin terisak pelan, menggumam seperti orang bodoh yang kehilangan otaknya. "Ayah takut, Kook-ie. Ayah takut meninggalkan Kook-ie sendirian di sini, Ayah takut Kook-ie akan mencari Ayah nanti, Ayah takut tidak ada yang bisa merawat Kook-ie sebaik Ayah, tetapi lebih dari itu Ayah lebih takut jika Kook-ie yang meninggalkan Ayah." Tangan kanannya terulur menyentuh surai legam milik putranya, mengusapnya begitu sayang sebelum kembali melanjutkan, "ayo sembuh, sayang. Pesawat jet Kook-ie tidak akan pernah bisa terbang jika Kook-ie tidak bangun."

"Kook-ie bangun ya, Ayah merindukan Kook-ie. Ayah rindu main perang-perangan seperti dulu. Bermain raja dan pangeran, atau menghabiskan makan malam yang menyenangkan bersama Kook-ie apalagi ketika Kook-ie makan dengan lahap dan menghabiskan semua masakan yang Ayah masak untuk Kook-ie."

Seokjin benar-benar kehilangan suaranya kali ini. Dia hanya menatap Jungkook lekat, memeluk balitanya bersama tumpahan airmata yang banyak, ia tidak peduli apapun lagi, tidak pada nyawanya sendiri, Jungkook, hanya Jungkook harta dan satu-satunya yang ia miliki di dunia ini, dia akan melakukan apapun untuk membuat putra kecilnya itu tetap bisa melanjutkan hidup.

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang