Chapter 21

7.7K 1.5K 443
                                                  

A surprise when happy feelings explode

Malam nyaris naik semakin tinggi, aroma wine mahal yang semakin berdesakkan di dalam penciuman, alunan musik yang menyumpal telinga, tubuh-tubuh yang mulai panas dan berkeringat, serta Ahn Jira yang masih terpaku selama hampir beberapa detik yang krusial; stagnan pada tempatnya dengan mulut mengatup rapat.

"A-apa yang kau lakukan di sini?"

Iris kelam itu menerobos pertahanannya, mengirimkan desir aneh tentang keinginan menggebu yang merangsek keluar dari sirat mata menenangkan milik Seokjin.

Jemari itu merangkak naik, menyusuri perpotongan wajah yang masih diliputi oleh rasa terkejut, pasi, dan Seokjin terkekeh pelan. "Jika mengatakan bahwa aku datang untukmu, mungkin ini akan terdengar cukup mengada-ada, tapi ya, aku memang datang karena tahu kau akan datang. Anggap undangan dari universitas adalah opsi paling akhir untuk kupikirkan."

Mengatur raut wajahnya agar terlihat cukup baik untuk menolak pemuda itu, Jira justru baru saja mundur teratur sebanyak dua langkah, meninggalkan kedua tangan milik lawannya yang menggantung di udara bersama desahan pelan meluncur dari bibir yang dipoles menyala malam ini.

"Aku pikir kau menyuruhku untuk menunggu. Bukan begitu, Kim? Apa aku salah?"

Jira benar-benar hendak pergi saat telapak tangannya dicekal dari arah belakang dan menemukan pria itu berkata dengan nada tulus setengah frustrasi. "Kumohon, jangan memintaku untuk pergi. A-aku minta maaf. Sungguh."

Bohong. Bohong besar jika Jira tidak terenyuh ketika mendengar bagaimana nada memohon yang teramat itu mengalun dari kedua katup bibir milik Seokjin. Siapa yang bisa menolak? Bahkan ia tidak benar-benar yakin masih memiliki keinginan pergi setelah semua ini berlalu, sungguh, Kim Seokjin benar-benar mencuri segala bentuk pertahanan dirinya.

Memangnya apa yang bisa diharapkan setelah ini? Berlari kembali dan melakukan kejar tangkap seperti kucing dan tikus? Jangan bodoh.

"Apa yang kau inginkan?" Jira mendesis pelan, berusaha meredam suaranya agar tak mengundang jutaan pasang mata untuk meletakkan perhatian mereka padanya.

Seokjin hanya terkekeh pelan, setengah memiringkan kepalanya dengan kedua pipi yang terlihat memerah. Jira sepertinya terlalu sibuk membenahi isi kepalanya yang mulai dipengaruhi oleh alkohol sehingga melupakan satu hal penting tentang ruam merah serta iris setengah terjaga milik Seokjin; pria itu mabuk. Meski pada kenyataannya gadis itu juga sama-sama berada di dalam pengaruh alkohol, hanya saja Jira tidak semabuk itu untuk melakukan hal konyol di tengah pesta dengan berteriak dan berjoget seperti orang sakit jiwa mungkin, dia masih benar-benar menguasai isi kepalanya, hanya saja merasa sedikit pusing.

"Aku hanya ingin dirimu," ujarnya kelewat menggoda. Jira bahkan berusaha untuk tetap tenang meskipun ia meremang hebat akibat bisikan intens bernada rendah milik pria itu.

"S-Seokjin jangan seperti ini, kumohon."

Ada yang salah di sini. Jira tidak cukup bodoh untuk menyadari situasi yang nyaris terasa konyol. Aroma alkohol yang tercium cukup kuat, iris Seokjin yang terlihat setengah sadar, kepalanya yang bergoyang pelan mengikuti irama musik, serta tubuh yang sempoyongan adalah kunci jawaban di sini.

"Sepertinya kau mabuk, bung."

Pria itu menunjuk tepat pada wajahnya sendiri, mengalami cegukan sekali sebelum bertanya bodoh. "Aku? Mabuk? Tentu tidak sayang."

Ia menjeda sesaat, tersenyum begitu manis dengan netra yang mengatup lambat sebelum kembali melanjutkan, "Jika mabuk dalam artian lain yang kau sebutkan, mungkin ya, aku sedang mabuk. Lebih tepatnya mabuk karena terus memikirkanmu. Aku bahkan melihat Ahn Jira, tetangga sebelah rumah yang manis itu berdiri di atas pesta konyol membosankan ini seorang diri dengan pakaian terbuka. Aku pasti benar-benar mabuk."

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang