Chapter 19

8.3K 1.6K 269
                                                  

Effort to restore the situation

Hidup Jira terasa cukup berbeda selama sepekan ini. Ia merasa kehilangan sekaligus mendapatkan sesuatu yang istimewa di sini. Entahlah, pikirannya mengatakan bahwa ia baru saja mendapatkan jackpot besar, akan tetapi hati kecilnya bersuara lantang dalam nada sumbang tentang ia yang tidak benar-benar merasakan euphoria itu bekerja di dalam dirinya.

Jimin baru saja mendedikasikan seluruh waktu yang ia miliki untuk dirinya, mengatakan banyak hal yang jujur saja hanya terasa lalu dari dalam pendengaran Jira tanpa benar-benar melekat di dalam kepalanya. Ia menerima segalanya─Park Jimin serta hati dan perhatiannya─namun jauh di dalam sana ia justru hanya merasa luar biasa bersemangat sebab Jimin ada setiap hari untuk ia jahili, tidak lebih. Hanya saja, mungkin Jimin yang nyaris menunjukkan perasaannya dengan cara yang lebih terbuka dari sebelumnya. Jira hanya menganggapnya seperti Jimin yang akan seperti itu, tidak berubah, hanya saja semakin lebih berlebihan.

Jadwal praktikum di tengah malam membuat Jimin terjaga hingga pagi hari. Ia mendapatkan waktu istirahat yang baik namun justru ia pakai untuk mendedikasikan waktunya pada omong kosong murahan yang bagi dirinya hanyalah pengorbanan yang sepele. Mengabaikan kantuk, rasa lelah, serta pening yang menyerang pada pembuluh kecil di dalam kepalanya, Jimin justru menculik Jira hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama, membalas beberapa hari tanpa jeda bersama praktikum hebat di instalasi gawat darurat. Bukan hal yang baru, sebab Jimin sejak mereka masih mengenakan seragam, akan selalu berada di sisi Jira, menempelinya seperti tikus yang terkena lem tikus.

Jimin datang dengan kantung mata yang menenggelamkan wajahnya, menopang kelopak matanya dengan kopi hitam yang membakar pangkal lidah agar terus terjaga seharian. Kurang lebih seperti itu, sebab pada kenyataannya Jimin benar-benar berhasil memberikan waktu yang luar biasa menyenangkan untuk Jira. Jimin berpikir mungkin ini waktu dan kesempatan yang baik untuk mencuri perasaan Jira, tetapi Jimin hanya tidak menyadari bahwa Jira hanya menatap Jimin sebagai sasaran empuk untuk direpotkan setengah mati. Jadi, hanya Jimin yang berpikir berlebihan, sebaliknya tidak untuk Jira. Jangankan untuk kembali menumbuhkan perasaannya yang pernah ada untuk Jimin, saat ini saja dia tengah kepayahan untuk menyelesaikan masalah internal pada hati juga perasaan sukanya pada Kim Seokjin, sebab bohong jika Jira tidak pernah memikirkan pria itu selama hampir sepekan tak bertemu dengan cara yang baik seperti sebelumnya.

Menghabiskan sepanjang hari di sebuah taman bermain, makan malam di restoran daging terkenal di Shinsa-dong, duduk bersama kopi manis pada genggaman dan iris pada riak tenang air dari sungai Han. Sempurna. Jimin bahkan menemukan satu senyuman menyenangkan sebagai bonus luar biasa hari ini.

"Apa kau cukup bersenang-senang hari ini?"

Gadis itu mengangguk pelan, tersenyum kecil saat menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya pelan dan meletakkan irisnya pada eksistensi Jimin yang berdiri tepat di hadapannya bersama rasa lelah menggantung pada wajahnya.

"Tentu. Hari ini luar biasa hebat, terima kasih, Jim. Kau selalu dapat kuandalkan."

Jimin menemukan tenaganya terisi kembali saat menemukan senyuman hangat itu mengarah tepat pada dirinya, mengundang satu senyuman manis lainnya menggantung pada kedua belah bibirnya.

Ini bodoh! Memangnya apa yang sedang terjadi di dalam sini? Jira bahkan tidak ingat apa yang terjadi setelah Jimin jatuh tak sadarkan diri saat mereka terjebak di tengah derasnya hujan bersama mobil Jimin yang mogok, yang ia pahami setelah hari itu berlalu hanya lah, Jimin yang semakin sering berkunjung dan memberi kabar semakin intens, mengucapkan beberapa kalimat manis sebelum tertidur, menghabiskan banyak hal menyenangkan dalam beberapa hari ini, dan untuk beberapa perlakuan istimewa yang jujur saja sangat berbeda dengan apa yang Jira terima dulu. Tetapi setelah menggalinya lebih dalam lagi, Jimin juga pernah melakukan hal ini beberapa kali sebelumnya, saat Jira patah hati karena diputuskan secara sepihak oleh mantan kekasihnya, juga saat ia gagal ikut tes seleksi di universitas favoritnya. Jadi, ini bukan hal yang baru untuk Jira, anggap saja ini adalah pengaturan khusus yang Jimin ciptakan saat gadis itu dilanda stres yang berlebih.

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang