Bima

10:30 A.M Instalasi Bedah Sentral, RSPD

Menurut ramalan cuaca yang gue denger pagi tadi di radio mobil, Bandung bakal kebagian hujan deres seharian. Gue sedikit banyak percaya sama ramalam cuaca, melihat gimana mendungnya Bandung pagi ini. Gue bukannya benci mendung apalagi hujan, gue cuma gak suka suasana hujan yang seketika akan berubah jadi abu-abu dan tidak mencerminkan warna-warna semangat lagi. Bawaannya kan pengen males-malesan aja di kasur.

Gue, bersama residen, konsulen, dan dokter lainnya berkumpul di lobi IBS, setelah 5 menit yang lalu diberitakan bahwa adanya kecelakaan bus yang terjadi tidak jauh dari sini. Bukan hanya gue yang mendadak sesak, tapi satu rumah sakit mulai sibuk. Dokter Tito, direktur rumah sakit sudah mengumumkan bahwa semua korban kecelakaan akan di bawa ke sini, dan akan mentitik-beratkan bagian bedah untuk mengambil alih. Dokter Bil langsung mengadakan rapat dadakan, mengumpulkan semua staf IBS, sebelum ambulans yang membawa korban-korban itu datang.

Seketika, dada gue sesak. Ingatan 5 tahun lalu, waktu gue masih belom seperti sekarang, waktu gue masih belum bisa bertindak sesuai logika gue. Gue hanya bisa diam, melihat, dan merelakan. Gue berharap waktu bisa berputar, tap nyatanya gak bisa.

"Kita akan kedatangan pasien-pasien trauma dari kecelakaan bus. Tolong tim trauma, bisa mulai sigap membagi tim dan ruangan di IGD karena pasien yang datang kurang lebih 30 orang, dengan rentang usia..." Dokter Bil terdiam sebentar dan menggelengkan kepalanya.

"Rentang usia 7 tahun sampai 60 tahun, use your skills and do the best. We need to minimize the victims. Save lives as much as you can, today. Terima kasih." Perkataan terakhir membubarkan kerumunan staf rumah sakit yang sedari tadi berkumpul di lobi IBS.

"Bim, hari ini kan.." April membuyarkan pikiran gue. Gue cuma tersenyum sedikit. Gue inget banget, 5 tahun yang lalu, tepat hari ini.

"Iya, beres dari sini gue ke sana kok,"

"Oke. Are you okay?"

"I'm fine, thank you for asking." Gue mengacak rambut April pelan, lalu pergi berbalik menuju IGD, tempat di mana gue dan staf rumah sakit menyambut puluhan pasien hari ini.

Gue kuat, kok. Gue mengeluarkan kalung yang selama ini gak pernah gue keluarin dari dalam kaos. Kalung dengan gandul sebuah huruf B yang memiliki arti yang sangat spesial buat gue.

Kamu lagi apa sekarang? Kangen, deh.

**

Brian

The Maliq's Resident, 2 jam sebelumnya

Gue membuka tirai kamar gue dan membiarkan sinar matahari masuk ke kamar. Gila, udah berapa hari kamar gue gak kemasukkan sinar matahari? Akhir-akhir ini gue emang jarang pulang ke apartment, karena kerjaan dan tugas gue banyak jadi terkadang setelah beres gue kecapekan dan gak sanggup nyetir pulang. Jadi, gue memilih bermalam di rumah sakit, kayak biasa.

Tapi, berhubung gue lepas jaga dari kemaren, makanya gue pulang ke apartment. Apartment yang selama ini cuma kayak tempat mampir tidur sama mandi doang. Gue udah gak pernah nonton tv, ke dapur buat masak apalagi beres-beres. Apartment gue udah berantakan kayak kapal pecah. Jatah lepas jaga gue juga masih berlaku sampai 20 jam ke depan, jadi gue sudah menyusun rencana untuk beres-beres apartment. Ya, sekedar ngilangin debu dikit lah.

Drrt. Drrt.

Felicia
Oooy
Pulang lo?

Gue lupa kalo gue punya tetangga sekarang. Gue lupa kalo akhir-akhir ini gue lagi rajin ngobrol sama seseorang lewat sosial media. Gue lupa kalo gue lagi seneng ngasih kabar dan cerita gimana hari-hari gue di rumah sakit sama seseorang. Gue lupa kalo mungkin, ada yang nungguin gue pulang ke apartment.

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!