13.. Cry

478 49 0

SRAKKK!

DUAK!

Kaing!

Kaki tak beralas Radius baru saja menendang pingsan seekor heyna dihutan. Wajah cantik nya nampak seperti wajah boneka manekin, tanpa ekspresi tanpa emosi.

Mata olive nya memandang tajam penuh selidik kesetiap sudut tempat. Sehelai tudung merah berkibar menutupi kepala nya, tudung itu merah pekat, compang camping penuh sobekan dan berkesan sangat mengerikan karena di area kepala tudung itu terdapat lubang seperti sepasang mata dan ujung kain tudung nya serabutan seperti rumbaian akar beringin.

"Rad.. kau tak langsung mencabik-cabik nya?". Tanya sebuah suara wanita serak dan dalam, terdengar seperti seorang nenek psikopat sejati dan ngeri nya lagi suara itu berasal dari tudung merah dikepala Radius.

"Terlalu membosan kan kalau langsung dibunuh". Jawab Radius datar dan dingin.

"Hihii.. aku suka ide mu..". Kata si tudung yang mengeluarkan tawa mengerikan dan membuat beberapa orang meremang takut mendengar nya.

"Aku sudah beberapa kali melihat nya tapi tetap saja tak terbiasa". Bisik Silas pada Will.

"Kau benar". Sahut Will.

"Aku juga, tudung asli Red Riding Hood terlalu menakutkan". Mark meninpali.

"Aku dengar itu pecundang hihii...".

Ketiga pria itu sukses merinding disko. Padahal mereka sudah mencoba berbisik sangat pelan dari jarak yang cukup jauh tapi tudung setan itu masih tetap bisa mendengar mereka.

Kelompok gabungan yang dipimpin oleh Will sudah sampai kemarkas musuh. Tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa rencana mereka langsung menyerbu markas musuh tanpa berniat membunuh mahkluk-mahkluk itu, mereka hanya membuat mereka kehilangan kesadaran lalu dengan sadisnya mereka menyiksa mereka hingga mencapai kematian.

Mereka melakukan aktivitas itu tanpa belas kasihan sama sekali. Banyak mahkluk kegelapan yang memilih untuk melarikan diri, kelompok Will tak teralu perduli karena inti penyerangan ini adalah merebut Sky kembali.

Reniel benar-benar membuktikan ucapan nya, ia sudah mengingat semua wajah yang menyakiti Sky. Ia mencabik-cabik mereka hingga hanya tersisa potongan-potongan kecil daging dan darah yang membanjir dimana pun Reniel melangkahkan kaki serigala nya.

Ggrrr..

"ALPHA!". Seru seorang pria yang menghambur masuk keruangan Reniel yang sibuk menyelesaikan urusan nya.

"Ada apa?!". Tanya Reniel dengan kesal.

"Mate!". Kata pria itu tergesa-gesa membuat Reniel heran.

"Ada apa dengan nya?!". Tanya Reniel cepat tapi ia merasa ada yang aneh dan bergerak ketempat pria itu menggiring Reniel.

"Maaf Alpha, ketika ia ditemukan.. dia.. sudah seperti ini".

"Hihii.. ahahaa.. hahahaa.. hihihii..".

Reniel langsung jatuh bersimpuh dengan kedua lutut nya. Kaki nya lemas kehilangan tenaga nya. Hati nya sangat hancur saat ini, hancur sehancur-hancur nya.

"Siapa kalian?! kalian mau apa?!".

"Ihihii.. kalian mau mengambil anak ku bukan?! hahahaa.. tak akan kubiarkan.. hahaha..".

"Hiks.. hiks.. siapa kalian?!.. huu.. jangan sentuh anak ku!!".

"Hiks.. hiks.. hi.. hihihii.. ahahaa.. hahaa..".

Reniel tak bisa membendung air matanya, hati dan jiwa nya hancur.. ia hanya bisa menangis, menangis sekeras yang ia bisa dan ber do'a kalau semua ini tak nyata.

Little Red Riding Hood [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang