Bagian 12

140 18 32

Aisha terpaku untuk beberapa saat. Ia meraba-raba apa yang sedang dirasakannya. Kemudian ia malu pada jingganya langit yang ia berikan sepenuhnya untuk sore dan pada matari yang belum juga mengucap kata perpisahannya. Aisha tertunduk kemudian meninggalkan Rafa tanpa sekalipun berbalik, "assalamu'alaykum warrohmatullohi wa barrokatuh",hanya itu yang ia ucapkan. Kalimat itu sudahlah cukup menutup hari ini. Aisha berlalu, ia yakin bahwa Alloh lebih tahu yang terbaik untuknya dan Rafa. Biarkan Dia menunjukkan jalan terbaik dan waktu akan mengabarkannya mungkin pada burung yang terbang rendah atau bahkan pada angin yang berhembus semilir di sore hari.

Rafa pun di sana hanya terduduk memandang lurus ke arah alam yang seakan enggan meninggalkan waktu, semburat cahaya jingga melintasi wajahnya. Ia tersenyum membiarkan Aisha pergi seiring matari yang akhirnya dengan berat hati mengucapkan salam perpisahannya pada siang. Memang seperti itulah harusnya. Tidak ada yang bisa dilakukan Aisha. Dia harus pergi, apalagi? dia akan ketinggalan sore karena malam akan sangat tidak baik baginya, pikir Rafa.

Hari itu.

Ketika Aisha membangunkannya dengan selembar penggaris besi, Rafa tidak langsung pulang. Ia membawa brosur milik satpam gedung, membacanya, dan itu adalah brosur pengajian. Angin apa yang membuat Rafa membelokan mobil ke arah masjid yang dimaksud adalah kehendak Nya. Mungkin alasan yang paling mudah diterima adalah materi pengajian, entahlah.

Rafa memarkir mobil di luar halaman masjid. Jemaah membludak, ia teringat dulu di masjid bogor, persis membludak seperti ini. Tukang parkir dan beberapa yang lalu lalang melirik ke arahnya, ada yang sengaja menatapnya ada yang diam-diam melirik dari ujung mata kemudian segera berpaling seakan takut ketahuan. Rafa sadar mobilnya terlalu mencolok di sana.

"Gak salah parkir mas?" tanya si tukang parkir yang kemudian diikuti tawa renyah. Rafa melirik sekilas, ia hanya mengangguk penuh arti.

Ia mengikuti arus manusia menuju masjid. Akhirnya ia mendapat tempat persis dekat pintu keluar. Rafa berusaha duduk senyaman mungkin diantara himpitan manusia yang antusias. Tidak satu orang pun mengeluh, raut muka yang terpancar adalah semangat. Rafa heran saja, mereka ini bukan bapak-bapak, hampir semuanya pemuda usia sekolah dan mahasiswa. Baru kali ini melihat masjid isinya anak muda semua. Eee, tapi kapan juga Rafa ke mesjid selain ke mushala SMA untuk tidur dan kini jauh lebih baik karena ikut sholat juga di mushala kantor.

Rafa tersenyum canggung ketika seorang anak muda, kira-kira seumuran dirinya mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

"Kita pernah bertemu," ucapnya.

Rafa mengernyitkan kening, mengingat-ingat.

"Bogor," ucapnya lagi sambil tersenyum.

Rafa semakin mengernyit, kedua alisnya hampir bertaut mencoba mengingat, "eh?"

"Aisha," ucapnya masih tersenyum.

"Oo...h, ya, ya, Lu yang mau ribut itu kan? Eh, sorry, maksud gue..."

"Iya gak papa mas, maafkan saya ya."

Rafa tertegun, ia kemudian ikut tersenyum kecut.

"Saya tinggal di Jakarta mas," katanya masih berlanjut sambil menunggu sang ustadz memulai materinya.

Rafa manggut-manggut, sepenting itukah, pikirnya.

"Oiya kita belum berkenalan, Angga?" katanya meminta jawab.

"Heuh?" Rafa tidak langsung menjawab, ia melihat ke arah Angga memperjelas wajahnya. Memakai kacamata berlensa tebal. Rambutnya lurus rapih. Tipe laki-laki sederhana tidak menuntut penampilan, cukup bersih dan rapi. Bajunya sederhana, kaus berlengan panjang dan celana semi denim. Bukan tipe Rafa berkenalan bahkan ia dengan Aisha tidak pernah berkenalan. Dia tidak berkenalan, dia dikenal!

AishaBaca cerita ini secara GRATIS!