Epilog

20.9K 4.3K 692

Multimedia:
Back To You - John Mayer

****
A/N : KAKANYA BOONG DEEEENGGG EPILOGNYA DAH ADA :P

****

EMIR

Satu setengah tahun kemudian...

Gue menghentikan langkah setelah keluar gate kedatangan domestik bandara Halim Perdanakusuma. Baru mau telepon Adrie, gue udah bisa lihat dia dari jauh, lari ke arah gue. Sebuah senyuman mengembang dari bibir mungilnya itu. Seperti ada yang merekah dalam dada gue melihat dia lari ke arah gue. Kemudian... brukkk! Dia langsung memeluk gue, kenceeeeeeng banget! Gue pun membalas pelukannya dengan erat.

Adrianna gue. Gue kangen banget, banget, banget!

Perlahan dia melepaskan pelukannya. Cuma senyam-senyum nggak ngomong apa-apa. Tipikal Adrie, gengsi banget mau ngomong kangen doang! Tapi sekalinya ketemu langsung nomprok gitu!

"Apa kabar, Ibu Hanandio Emir?"

"Alhamdulillah baik, Bapak Hanandio Emir," jawabnya. "Ada kabar baik buat Bapak. Adik bapak lagi hamil tiga bulan!"

What?! Gue kaget banget. Asli! "Anak Kiki? Kiki temen gue yang dulunya suka main dota itu?!" pekik gue ke arah Adrie.

"Ya iyalah, anak siapa lagi!" tukasnya cepat sambil tertawa.

"Sampe rumah, mau aku pukul dia!"

"Kok gitu?"

"Ya abis, dia udah hamilin adek aku!"

"Kan dia suaminya, sayaaang!"

"Tetep aja, harus kupukul! Biar dia jadi bapak yang bener buat calon keponakan aku!"

"Untung banget ya kamu, aku nggak punya kakak cowok!" ujar Adrie yang disusul dengan tawa karena mendengar penuturan gue tadi dan melihat mimik gue yang sudah dibuat-buat. Tawanya itu renyah, lucu banget.

Butuh empat tahun buat gue dulu supaya dia bisa ketawa buat gue. Ketawa bareng gue. Dan kalo udah ngeliat itu, gilaaa gue ngerasa empat tahun gue jadi manusia super sampah depan dia nggak sia-sia!

Karena sekarang gue bisa ngeliat dia ketawa dari gue buka mata sampai gue tidur lagi. Ya, walaupun kadang kita LDR sih karena sama-sama masih mau nikmatin kerja.

Everything has expiry date. Sebuah hubungan bisa berakhir dengan berpisah, berakhir karena salah satunya dipanggil Tuhan, atau berakhir ke fase selanjutnya.

Dan sebelum hubungan gue sama Adrie expired untuk yang kedua kalinya, gue dan dia sama-sama mengolah hubungan tersebut sampai ke fase selanjutnya.

Tiga bulan setelah dia pamit ke Bandung, dia dateng-dateng ngembaliin kotak cincin yang pernah gue kasih. Gue udah deg-degan aja kalo dia nggak mau sama gue (FYI, cincin itu sebenernya udah gue simpan lama banget dari sebelum dia putusin gue waktu itu, dia keburu mutusin gue). Taunya, dia balikin kotaknya karena dia bilang dia mau pakai cincinya! Kampreeetttt!!! Minta disayang banget anaknya!

Karena kata John Mayer (laki-laki lain yang gue cemburuin setengah mati karena Adrie lebih suka sama dia daripada gue), cuma ada friends, lovers, dan nothing-in-between dalam tiap hubungan. Jelas gue nggak mau Adrianna gue itu cuma jadi teman, apalagi jadi nothing-in-between, jadi ya udah, kita langsung berencana ke jenjang yang lebih serius. Dalam kurun waktu 10 bulan kita nyiapin semuanya.

Adrie selalu bercanda nyebut dirinya Ibu Hanandio Emir. Seorang Adrianna Amaira yang dulu jijik banget sama gue, akhirnya menyebut dirinya dengan sebutan "Ibu" dan di belakangnya itu nama gue. Nama gue!

Gue nggak ngerti, kok bisa, kegilaan gue sepuluh tahun yang lalu bisa berakhir manis kayak begini? Berawal cuma suka ngeliatin Adrie karena mukanya dan posturnya yang lucu. Tipe gue banget. Kemudian dilanjutkan jatuh cinta sejak gue dengar namanya, Adrianna.

Gue selalu bercanda menyebut dia dengan sebutan "Adrianna gue". Lalu berakhir dengan dia benar-benar jadi Adrianna gue. Milik gue.

Perjalanan panjang sepuluh tahun ini akhirnya terbayar dengan amat sangat manis.

****

Back to YouBaca cerita ini secara GRATIS!