Part 26

1.8K 97 2

~~~

Pagi yang cerah menjadi penyambut hari ini untuk Faldo. Matanya mengerjap beberapa kali karena sinar matahari yang masuk melalui celah jendela kamarnya. Ia meraup wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang masih tertinggal.

Faldo bergegas turun dari tempat tidurnya dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Diraihnya handuk berwarna biru tua lalu ia letakkan di bahunya.

Beberapa menit setelahnya, Faldo sudah siap dengan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana training hitamnya. Ia menuruni anak tangga untuk ikut sarapan dengan ayah dan bundanya.

“Pagi, Ayah, Bunda.” sapa Faldo yang masih menuruni anak tangga.

“Pagi, sayang.” balas Lyla yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

“Loh, kamu nggak sekolah, nak? Kok belum pake seragam?” tanya Gery seraya membenarkan kacamatanya.

“Sekolah kok, Yah. Tapi Faldo pake seragamnya nanti habis sarapan, takut kotor,” ujar Faldo.

Gery tersenyum ramah pada anaknya itu. “Tumben banget kamu kaya gini,” tutur Gery.

“Iya, Do. Kamu lagi kenapa kok jadi rajin gini?” tanya Lyla menimpali.

“Semalem ada yang bilang ke Faldo kalo Faldo tampil tertata dan terencana, dia bakal jadi pacar Faldo,” dustanya sambil tersenyum senang.

“Ah kamu ini ada-ada aja, Do.” seru Lyla tak mempercayai ucapan Faldo.

“Bunda nggak percaya? Ya udah nggak apa-apa. Ayah? Percaya nggak?” tanya Faldo meledek.

“Ayah? Emm, kalo nggak?” ledek Gery seraya menaikkan satu alisnya.

“Oke, kalo ayah sama bunda nggak percaya. Tapi, kalo dalam waktu dekat Faldo bawa cewek ke rumah buat Faldo kenalin ke ayah sama bunda buat jadi menantu ayah sama bunda, jangan kaget ya, Yah, Bun.” tutur Faldo dengan penuh keyakinan.

“Ya udah terserah kamu aja, Do.” Lyla menggelengkan kepalanya karena perkataan anaknya itu.

“Oke, Faldo buktiin.” janji Faldo.

Seperti biasa, keluarga itu makan dengan penuh keheningan dan hanya ditemani oleh suara dentingan sendok dan piring. Menurut Faldo, tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan waktu yang ia habiskan bersama keluarga dan orang-orang terkasihnya.

“Ya udah, Faldo ke atas dulu ya, mau pake seragam,” pamit Faldo.

“Iya udah sana kamu siap-siap habis itu berangkat sekolah,” perintah Lyla.

“Oke, Bun.” Faldo bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

Faldo mematut dirinya di depan cermin yang ada di kamarnya. Ia menata rambutnya dengan rapi layaknya anak biasanya. Seragam yang biasanya tak dimasukkan kini Faldo masukkan. Dasi yang biasanya ia biarkan kini ia pakai.

Sepertinya, Faldo benar-benar ingin mengubah dirinya seperti apa yang ‘Putri’ katakan. Mengubah dirinya menjadi laki-laki yang lebih tertata dan terencana. Mengubah dirinya menjadi laki-laki yang lebih mengenal apa itu tata tertib dan disiplin dalam masalah sekolah.

Karena memang benar, jika pertemanan mereka berdasarkan ketulusan maka dengan tampilanmu yang bagaimana pun mereka pasti akan selalu bersamamu. Lain halnya jika kamu berteman dengan anak-anak yang hanya mementingkan penampilan dan uang. Ketika kamu berada di titik kehancuranmu, diantara mereka tidak akan ada yang sudi untuk mengenalmu bahkan mendekatimu untuk memberikan dukungan.

♦♦♦

“Syeila.”

Sye menoleh ketika namanya terpanggil oleh seseorang. Semburat senyum muncul di wajahnya dengan penuh keramahan.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!