EPILOG 2.2

20K 564 24

SELAMAT MEMBACA

BONPICT ARIN DAN REZA KECIL

ARIN

REZA

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

REZA

RENA DARA ANNGITA POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

RENA DARA ANNGITA POV

"Bang Leza jangan nakal, bunda liat deh bang Leza coret-coret gambar aku," ujar Arin anak perempuanku yang berumur 5 tahun.

"Reza jangan suka jailin adek kamu," ujarku lembut pada Reza anak laki-lakiku yang berumur 7 tahun.

"Bunda dia duluan yang coret gambar aku," ujar Reza cemberut.

"Dia boong bunda, liat nih gambar kau jadi rusak gara-gara bang Leza," ujar Arin dengan suara khas anak kecilnya, lucunya mereka.

"Ada apa si ribut-ribut, dari luar ayah bisa denger suara kalian loh," ujar Daniel yang baru masuk .

"AYAH!!" seru Arin dan Reza senang lalu berlari menghampiri Daniel lalu memeluknya.

"Ayah bawa sesuatu buat kalian," ujar Daniel lalu mengeluarkan sesuatu dari paper bag besar yang dia bawa lalu duduk menyamai tinggi badan Reza dan Arin.

"Ini untuk Reza," ujar Daniel lalu memberikan kotak yang berukuran sedang pada Reza.

"Ini apa ayah?" ujar Reza menatap Daniel polos.

"Kamu buka aja," ujar Daniel sambil tersenyum.

Reza membuka kotaknya dan selang kemudian raut bahagia terpancar di wajahnya.

"Wah ayah ini kan mobil remot yang aku mau, makasih ayah," ujar Reza lalu memeluk Daniel erat.

"Sama-sama sayang," ujar Daniel lalu mengelus pundak Reza pelan lalu Reza melepaskan pelukannya.

"Aku mau main di kamar aja." ujar Reza lalu berlari ke kamarnya.

"Ayah untuk aku mana?" ujar Arin menatap Daniel polos.

"Maaf ya sayang ayah nggak bisa beliin kamu," ujar Daniel mengelus kepala Arin lembut.

"Ya udah deh aku main ama bang Leza aja." ujar Arin sedih lalu berjalan ke kamar Reza.

Daniel menghampiriku lalu duduk di sampingku tapi aku enggan untuk menatapnya. Masa Arin nggak di bawain mainan, dasar pilihkasi.

"Kamu kenapa sayang?" ujar Daniel.

"Kamu tuh, masa Cuma Reza aja yang di beliin mainan, kamu nggak liat Arin tadi sedih banget pas kamu bilang nggak beliin dia mainan," ujarku kesal.

"Oh jadi itu toh. Mbak bawa masuk barangnya," ujar Daniel lalu mbak laras masuk bersama seorang pria yang kutahu dia adalah asistennya Daniel, mereka membawa kardus besar.

"Kalian bawa ke kamarnya Arin ya," ujar Daniel lalu mereka mengangguk dan berjalan ke kamar Arin.

"Ya udah yuk kita panggil Arin," ujar Daniel.

"Untuk apa?" ujarku bingung.

"Ikut aja." ujar Daniel lalu menarikku pelan.

Kami sampai di kamar Reza, di sana terlihat Arin yang memandang Reza yang sedang asik memainkan mainan barunya. Aku menatap Arin sedih.

"Tuh liat si Arin cuma ngeliatin doang, kok kamu tega sih ngeliat anak kamu kayak gitu," ujarku cemberut namun Daniel tidak menjawab melainkan menatapku sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Arin sini sayang," panggi Daniel lalu Arin menatap Daniel polos lalu Arin berjalan ke arah Daniel.

"Ikut ayah yuk," ujar Daniel lalu menggendong Arin.

Kami berjalan ke kamar Arin lalu Arin menatap bingung pada Daniel.

"Ngapain ke kamal? aku kan masih mau ngeliat bang Leza main mobil lemot," ujar Arin polos.

Daniel membuka pintu kamar Arin lalu menurunkan Arin.

"Kamu liat deh ke dalam kamar kamu," ujar Daniel lalu Arin menatap ke dalam kamarnya seketika raut bahagia terpancar di wajahnya.

"Ayah itu kan lumah Balbie yang aku mau," ujar Arin bahagia.

"Iya sayang itu yang kamu mau kan, ayo main sama barbienya." ujar Daniel lalu Arin berlari ke mainan barunya dan bermain bersama barbienya.

"Yuk ke kamar aku juga mau nunjukin sesuatu ke kamu." ujar Daniel lalu menggenggam tanganku dan menuntunku berjalan bersamanya.

Sesampainya di kamar kami, Daniel menutup pintu kamar lalu kembali menatapku. Daniel maju mendekat ke arahku lalu menggenggam ke dua tanganku, Daniel mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, aku terkejut menatap apa yang di keluarkan Daniel, sebuah kalung yang biasa tapi terkesan mewah, aku tahu pasti harganya sangat mahal.

 Daniel maju mendekat ke arahku lalu menggenggam ke dua tanganku, Daniel mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, aku terkejut menatap apa yang di keluarkan Daniel, sebuah kalung yang biasa tapi terkesan mewah, aku tahu pasti harganya sangat m...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ini untuk siapa?" tanyaku.

"Untukmu," ujarnya sambil tersenyum.

"Aku tau harga kalung ini tidak lah murah, aku tidak pernah menyuruhmu untuk membelikanku sesuatu, tapi mengapa kamu sangat suka menghamburkan uangmu untukku," ujarku menatap Daniel.

"Uang tidak berarti bagiku. Kamulah yang paling berarti dalam hidupku, kamu yang jadi penyemangat hidupku selama aku masih hidup, dan juga kamu telah memberiku dua malaikat kecil dan aku sangat menyayanginya," ujar Daniel mengecup lembut punggung tanganku.

"Tapi aku tidak suka jika kamu menghabiskan uangmu untukku," ujarku sedikit kesal.

"Baiklah ini yang terakhir kalianya tapi aku tidak janji," ujar Daniel.

"Sini aku pasangkan," ujar Daniel lalu berjalan kebelakangku dan memasang kalung itu di leherku. Kalung itu sangat indah.

Daniel memelukku dari belakang dan menaruh dagunya di pundakku.

"Aku mencintaimu." ujar Daniel pelan di telingaku.

"Aku mencintaimu." balasku dan menggenggam tangan Daniel yang memelukku.








TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Baca cerita ini secara GRATIS!