EPILOG 1.2

19K 640 9

SELAMAT MEMBACA


DANIEL ANGGARA POV

"Aaaaaa... Kamu jahat ama aku," ujar Rena yang sedari tadi tidak hentinya menangis.

"Kamu kenapa sih sayang. Coba deh kamu ngomong, kan aku nggak tau kamu kenapa sampe nangis kayak gini," ujarku terus bersabar menghadapi Rena.

"Pokoknya kamu jahat ama aku. Aaaaaaa... " ujar Rena dan tangisannya makin pecah.

Aduh, bagaimana cara menghadapi wanita hamil kayak gini. Aku jadi bingung harus ngapain.

"Sayang coba deh kamu ngomong. Kamu mau apa, hmm," ujarku dan tersenyum simpul pada Rena.

"Aku nggak mau apa-apa," ujar Rena kemudian memanyunkan bibirnya kedepan.

"Terus kamu kenapa nangis?" ujarku tersenyum paksa.

Aku harus bersabar mengahadapi Rena yang tengah mengandung enam bulan. Kadang sifat Rena tidak menentu, biasanya marah-marah, nangis tanpa alasan. Kayak sekarang, dia menangis dan aku tidak tau apa masalahnya.

"Kamu jahat," ujar Rena cemberut dan melipat kedua tangannya di depan dada.

Kan benar. Tadi dia nangis sekarang malah cemberut gini, kan aku jadi pusing.

"Aku jahat kenapa sih sayang, perasaan aku nggak ngelakuin kesalahan deh," ujarku bersabar.

"Kamu jahat. Hiksss... hiksss," kan mulai lagi. Dia nangis lagi, aduh.

"Iya sayang tapi jahat kenapa?" ujarku terus bersabar.

Rena menatapku dengan air matanya yang terus mengalir.

"Kamu marah ya sama aku?" ujar Rena sedih dan tetesan air matanya tak kunjung berhenti.

Aku menghela nafas kemudian beralih memeluk Rena. Sungguh, aku tak sanggup melihat Rena menangis seperti ini. Aku memeluknya erat sambil mengelus kepalanya lembut.

"Makasih," ujar Rena dan memelukku erat.

Tuh kan, tadi dia bilang aku jahat sekarang malah bilang makasih sama aku. Rena ini kenapa sih. Apa memang ibu hamil seperti ini.

"Iya sayang. Sekarang kamu tidur ya, ini masih pagi buta," ujarku kemudian melepaskan pelukannku pada Rena.

Rena berbaring dan aku ikut berbaring di sampingnya. Aku menyelimuti tubuh aku dan Rena hingga sebatas dada kemudian memeluk Rena dari samping.

"Niel. Aku belum bisa tidur," ujar Rena manja dan menatapku memelas.

"Trus kamu mau ngapain, hmmm," ujarku dan mengelus kepala Rena lembut.

"Aku cuma mau nanya," ujar Rena polos.

"Mau nanya apa?" balasku kemudian mengecup singkat kening Rena.

"Kamu sayang nggak sama aku," ujar Rena polos dan aku membalasnya dengan senyuman.

"Sayang banget malah," ujarku tersenyum manis padanya.

"Kalo aku sayang nggak sama kamu," ujar Rena seperti anak kecil.

"Kok kamu nanya gitu ke aku, harusnya aku dong yang nanya gitu ke kamu. Kamu sayang nggak sama aku," ujarku mengelus kepala Rena lembut.

"Aku sayang banget ama kamu. Melebihi kata sayang," ujar Rena tersenyum simpul.

"kam- " ujarku terpotong.

"Awww... " jerit Rena kecil sambil memegang perutnya.

"Kamu kenapa sayang?" ujarku khawatir.

"Babynya nendang-nendang," ujar Rena mengelus perutnya yang sudah membesar.

"Aduh ternyata Baby ayah lagi main bola ya di perut bunda. Jangan keras-keras ya sayang nendang bolanya, bunda nanti sakit kalo kamu nendang terlalu keras," ujarku mengelus perut Rena dan mengecup lama perut Rena.

Aku menatap Rena sambil tersenyum dan dia membalas senyumanku. Aku kembali mengecup perut Rena yang di dalamnya sudah ada anakku dan yang akan lahir di bulan ke sembilan.

"Ayah sayang kamu. Kamu bobo ya, bunda sama ayah juga mau bobo," ujarku mengelus lembut perut Rena.

Aku beralih menatap Rena kemudian kembali berbaring di sampingnya dan memelukknya hati-hati.

"Kamu tidur gih." ujarku kemudian mengecup singkat kening Rena.

"Iya." ujar Rena kemudian menutup matanya untuk tertidur.

Aku pun menutup mataku kemudian tertidur lelap.








TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITA AKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang