15

513 23 2

"Berbohong itu sama seperti pakaian kotor, akan terus menumpuk jika tidak segera dicuci."

                              ^^^^

       "Aldan, " gumam Asya tak percaya. Saking kagetnya, Putera sampai berdiri. Entah sejak kapan Aldan berada disana, tapi keduanya tahu kalau rahasia yang mereka tutupi bisa saja terbongkar, jika memang tadi Aldan mendengarkan percakapan mereka.

       Untuk sesaat, Aldan terlihat tanpa ekspresi, tapi beberapa detik kemudian dia mulai mengembangkan senyuman lalu menghampiri meja mereka. "Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Aldan santai, dia langsung menarik kursi dan duduk.

       Asya dan Putera masih berada di posisi mereka masing-masing, kebingungan harus bersikap seperti apa. "Hei, ada apa dengan kalian? Ayo, duduk!" ajak Aldan.

       Asya dan Putera mengikuti keinginan Aldan, mereka duduk dengan tegang. Asya bahkan tidak berani memandang ke arah Aldan. Dia takut, kalau Aldan melihat bekas air matanya tadi. "Asya kamu kenapa? Kamu baik - baik saja, kan!"

       "A-aku ba-ik, tidak apa-apa." jawab Asya agak terbata. Baru kali ini, dia merasa setegang itu. Dia merasa seperti baru ketahuan berselingkuh dengan suami orang.

       "Sedang apa kamu disini?" tanya Putera coba mengalihkan perhatian, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan, terlebih ekspresi khawatir yang dia tunjukkan.

       "Ah ya, aku tadinya mau menemui Asya, tapi kebetulan sekali aku melihat kalian disini. Jadi aku memilih menghampiri kalian." jawab Aldan jujur, "Lalu apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Aldan pada Putera.

       Pertanyaan Aldan cukup untuk membuat Putera kehilangan kata - kata. "Tadi katanya, dia butuh bantuanku." jawab Asya mencoba membantu.

       "Bantuan apa itu?" tanya Aldan tanpa ekspresi. "Apa sangat rahasia, sampai kalian begitu tegang melihat kedatanganku!" tatapan Aldan terlihat menyelidik.

       Asya yang sudah mulai menetralkan perasaannya, kembali was-was mendapat pertanyaan seperti itu. Sekilas dia melirik Putera, tapi Asya tahu dia tidak akan bisa menjawab apapun. "Sebenarnya ini memang rahasia. Tak apa-apa kan, kalau aku mengatakannya?" tanya Asya minta persetujuan Putera. Putera yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk.

       "Sebenarnya, Putera ingin memberi kejutan untuk Naila. Tapi dia takut Naila tidak menyukainya, jadi dia meminta bantuanku." Asya sudah mencoba memberi alasan yang menurutnya paling logis. Apakah Aldan percaya, Asya hanya menggantungkannya pada nasib.

       "Kenapa tidak bilang dari tadi, kurasa aku tahu semua hal yang Naila sukai." ungkap Aldan.

       "Kalau begitu, lanjutkan saja pembicaraan kalian! Aku pergi dulu." Aldan pun berlalu setelah menepuk pundak Asya halus. Kepergian Aldan cukup untuk membuat keduanya merasa lega.

       "Kupikir lebih baik kita akhiri saja pembicaraan ini." Asya sudah berniat pergi tapi Putera menghentikan langkahnya.

       "Sejak kapan kalian saling mengenal? Apa kamu menyukainya, Sya?" tanya Putera tiba-tiba serius. "Aku tidak tahu." jawab Asya acuh, dia langsung berlalu tanpa berniat menjelaskan apapun.

                              ****

       Asya pulang dengan langkah cepat, dia ingin merebahkan diri di tempat tidurnya dan segera melupakan kejadian tadi siang. Bagaimana tidak? Aldan telah berdiri tak jauh dari tempat mereka bicara, dan Asya sama sekali tak sadar sejak kapan dia ada disana. Hingga tubuhnya telah terbaring di tempat tidur, Asya bahkan masih mempertanyakan sikap Aldan waktu itu. Dia takut kalau Aldan mendengar pembicaraan mereka, tapi berpura - pura tidak tahu.

       'Kenapa aku harus mengkhawatirkan hal ini? Bukannya, semakin cepat Aldan tahu maka semakin cepat pula Naila tahu?' pikir Asya kebingungan. 'Siapa yang sebenarnya aku khawatirkan disini?'

       Ketukan di pintu membuat pikiran Asya teralihkan. Pintu pun terbuka dan Nira yang masuk. "Kak, diluar ada tante Yuli. Dia bilang mau ketemu kakak!" ujar Nira memberitahu.

       'Mama Aldan datang kemari! Ada urusan apa dia ingin menemuiku. Semoga saja bukan hal penting.' gumam Asya. "Kamu yakin, dia ingin bertemu denganku? Jangan - jangan dia mau ketemu ibu!" Asya coba meyakinkan.

       "Dia yang bilang sendiri. Cepat temui saja!" perintah Nira kesal. "Iya, iya,"

       Mama Aldan duduk menunggu di ruang tamu, hanya di temani secangkir teh yang Nira buatkan tadi, sebelum memanggil Asya. Asya yang melihat itu segera menghampirinya, lalu duduk dan mencoba bersikap tenang. "Maaf ya tante, pasti tante sudah menunggu lama!" ujar Asya coba berbasa-basi.

       "Ah tidak. Nira bilang kamu baru saja pulang dari toko, pasti kamu masih lelah." tebak mama Aldan. Asya memang sedang lelah, bahkan lahir dan batin. Tapi mana mungkin dia mengatakan hal itu.

       "Tante sengaja kemari, pasti ada hal yang perlu dibicarakan. Kalau tante butuh bantuan, pasti akan aku bantu." ungkap Asya tulus.

       Mama Aldan tersenyum, "Tante hanya ingin bertanya mengenai hubungan kalian?" Asya terkejut mendengarnya. Dia mulai menerka apa maksud dari kedatangan mama Aldan menemuinya. "Bagaimana pendapatmu mengenai Aldan?"

       'Pertanyaan macam apa ini! Ah, tolong aku!' teriak Asya dalam hati. Walaupun begitu, dia masih mencoba tersenyum, "Aldan adalah pria yang baik tante," jawab Asya seadanya.

       "Apa hanya itu?" tanya mama Aldan tak percaya. Tanpa sadar, Asya mulai menggaruk tangannya yang tak gatal. "Apa kamu tidak menyukainya?"

       "Ah...ya, tentu saja tante. Siapa yang tidak menyukainya, sejak pertama kali kami bertemu, aku sudah sangat tertarik padanya." jawab Asya seenaknya. 'Semoga saja jawabanku tidak terdengar murahan.' gumamnya kemudian.

       "Kalau seperti itu, apa kamu mau menikah dengan Aldan?" tanya mama Aldan tiba - tiba. Napas Asya seakan tercekat mendengar pertanyaan mama Aldan yang mendadak seperti itu.

       "Kurasa aku tidak cocok dengannya tante, mungkin saja dia menyukai orang lain." ujar Asya mencari alasan. Mama Aldan justru tersenyum penuh arti mendengar jawaban Asya.

                              ****

       'Aku bosan mendengarnya. Katakan saja, kamu ingin aku menjauh darimu dan Naila, kan! Kamu ingin aku bungkam! Sampai kapan itu? Aku tak bisa selamanya berbaik hati seperti kemarin.' ucapan itu masih segar diingatan Aldan. Dia masih tak percaya, Asya ternyata menutupi hal yang sangat besar dibalik ekspresi wajahnya yang selalu tak tertebak.

       Aldan merasakan angin malam yang berhembus menerpa wajahnya. Atap gedung kantornya memang tempat yang paling strategis untuk menenangkan diri. Aldan menarik napas kesal, dia merasa telah ditipu. Asya dengan sengaja berbohong padanya, demi menutupi kebusukan Putera. Dalam hati, Aldan sangat marah, dia sangat ingin menghancurkan wajah Putera yang terlihat begitu menyebalkan. Tapi, Aldan masih mencoba sabar dengan bersikap seakan tak tahu apa - apa.

       Waktu itu, awalnya Aldan berniat menemui Asya di toko, tapi dia malah melihat Asya tengah bersama Putera di salah satu tempat makan. Tadinya dia ingin mengejutkan mereka, tapi justru dia sendiri yang terkejut. Dia tanpa sengaja mendengar sedikit pembicaraan mereka, tak ketinggalan airmata yang sempat mengalir di wajah Asya.

       "Jadi ini, yang selama ini kalian tutupi!" gumam Aldan menahan amarah.

My ChoiceBaca cerita ini secara GRATIS!