Chapter 12 : Boncengan Berdua

1.1K 68 3

Cowok itu sekarang sedang sibuk memainkan dua buah pulpen dan satu buah tip-ex cair yang ada dihadapannya. Enggan mendengarkan pelajaran Bu Har mengenai matematika peminatan yang mematikan. Menurutnya, mending ia memainkan sesuatu untuk mengusir jenuh saat pelajaran Bu Har daripada ia tertidur. Setidaknya, masih ada ilmu yang masuk ke dalam gendang telinganya.

Saat masih asyik memainkan tiga benda itu, tiba-tiba,

Kring!!

Suara bel berbunyi.

Indahnya surga di siang hari ini menurut Gibran. Sepertinya baru lima menit ia bermain dengan dunianya. Tahu-tahu bel pulang sudah berbunyi. Gibran langsung tersenyum sumringah seraya memberi kiss bye kepada Bu Har dari jarak jauh.

"BU HAR KU, HATI-HATI IN THE STREET YAA!" teriak cowok itu yang dibalas kiss bye dari guru gaul tersebut.

Jadi, pelajaran apa yang Gibran dapatkan hari ini? Jawabannya, tidak ada.

Gibran asyik cengengesan ke arah Revan yang masih sibuk membereskan alat tulisnya. Hari ini teman sebangkunya begitu rajin. Mencatat segala apa yang Bu Har katakan. Sampai Revan turut mencatat curhatan kecil Bu Har mengenai masa mudanya dulu.

"Ajiiib, rajin banget ayang Evan ku!"

Revan mendelik. "Brisik."

"Kesambet apa dah?"

"Kesambet cintanya Kara."

"RAAAA, MASA SI REV--" belum saja menyelesaikan kalimatnya, leher Gibran sudah dijepit oleh lengan atletis Revan. "ADU DUH! PEA, LEPASIN!!"

Kara langsung menoleh. Menatap Revan dengan tatapan mengancam. Namun cowok itu tetap tidak peduli. Ia semakin menjepit leher Gibran dengan menggunakan lengan kirinya.

"EH, ANJING ANJING, MATI GUA!! GUA BELOM MAU MATI, VAN!"

"Revan lepasin, ih! Itu kasian si Gibran!" kata Kara yang membuat Gibran tersenyum.

Revan yang melihat senyum menyebalkan Gibran, langsung memutar bola matanya dengan malas. "Gak mau! Mulutnya comel sih!" balas Revan dengan nada kesal.

"IH, VAN, JANJI DEH GA COMEL LAGI! KALO COMEL LAGI, LU CIUM GUA AJA!" ucap Gibran yang membuat Revan semakin menjepit lehernya.

"Lu kata gua homo?!"

"WIDIIIIH, ADA KDRT NIH!" sahut Arkan yang sudah nangkring di depan kelas XI IPA 2. "Permasalahannya apa nih? Selingkuh?" tambah Arkan yang membuat Revan menatap kesal kearahnya.

"YAYANG DIANNN, HELP!!!" teriak Gibran yang menangkap wajah Ardian di sebelah Arkan.

Ardian mendecih. "Ogah." balas cowok itu dengan seadanya.

"AH JAHAT KALIAN SEMW-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, mulut Gibran sudah dibekap terlebih dahulu oleh Revan. Membuat Gibran semakin sulit mencari bala bantuan.

"Berisik!"

"Van, udah lepasin..." Kara meminta.

Kemudian cowok itu menoleh. Menatap Kara yang sedang memohon dan menampilkan wajah puppy eyes-nya. Akhirnya, Revan kalah dengan tatapan Kara.

Revan mulai melonggarkan lengannya. "Inget. Ini karena Kara. Kalo bukan mah, lo udah gue tendang!"

Yang diajak bicara pun hanya mengibaskan tangannya sambil memasang tampang cuek. Beberapa detik kemudian ia memberi cengirannya kepada Kara. "Makasih, Princess Kara."

"Enggak sama-sama ya, Gib."

"Hehe.." balas Gibran seadanya.

Kemudian, Gibran duduk diatas mejanya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Milea. Ia tersenyum sebelum berkata, "Lea, pulbar kuy! Ya keles ga kuy!" ajaknya.

Hujan & SenjaWhere stories live. Discover now