BAGIAN 24

16K 663 6

SELAMAT MEMBACA

RENA DARA ANGGITA POV

Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak, aku melihat jam yang tergantung di dinding, waduh udah jam delapan malam, waktu kok cepat banget jalannya, lama juga ya aku tidur. Aku menyibakkan selimut yang aku pakai lalu pandanganku tertuju pada Daniel yang masih tertidur di sampingku dan tangannya masih memeluk perutku, aku menyingkirkan tangannya lalu aku berjalan keluar dari kamar kemudian berjalan ke dapur.

Sesampainya di dapur aku mengambil sesuatu yang bisa di makan, aku sangat lapar. Kemudian aku duduk di mini bar yang terhubung dengan dapur lalu memakan makanan yang aku ambil kemudian merenung sesaat.

Besok adalah ulang tahunku yang ke delapan belas, nggak kerasa banget aku udah makin tua. Nggak ada yang tau tanggal ulang tahunku biar pun itu Sarah atau Vino, aku tidak memberi tau mereka, entahlah kenapa aku nggak mau orang lain tau ulang tahunku, kurasa hidup dengan rahasia lebih menyenangkan.

Aku menghabiskan makananku lalu meminum air putih yang ada di atas meja. Setelah itu aku kembali ke kamar dan kembali berbaring di samping Daniel. Kok dari tadi aku tidak melihat Gali dan Rayhan, mungkin mereka kelelahan dan masih tertidur.

Aku menyamankan posisi tidurku kemudian menutup mataku, aku harus bangun cepat besok, aku akan pergi ke suatu tempat.

SKIP

Aku terbangun pukul 04:45 dini hari, dengan gerakan cepat aku berdiri dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi untuk memulai ritual mandiku.

Setelah mandi aku memakai seragam sekolahku. Aku melihat Daniel yang masih tertidur dengan nyenyak, aku mengambil kertas kecil lalu menulis sesuatu di sana dan menyimpannya di atas nakas.

Aku mengambil tasku lalu bergegas keluar dari rumah, aku melihat jam tangan yang bertengger di tangan kiriku, pukul 05:05 astaga aku sudah sedikit terlambat, mungkin hari ini aku akan terlambat ke sekolah, aku harus mengunjungi suatu tempat yang sangat penting.

Aku berjalan kaki ke arah tempat itu karena tidak mungkin ada kendaraan umum jam segini. Ini akan memakan waktuku lebih lama, kalo gitu aku lari aja, aku berlari di tengah jalan karena belum ada kendaraan yang lewat. Aku berlari dengan memakai seragam sekolah, ku harap aku tidak mengecewakannya karena aku terlambat mengunjunginya.

SKIP

Aku sudah sampai di pemakaman, aku berlari menuju pemakaman bunda dan ayah, sesampainya aku langsung terduduk di antara pemakaman mereka.

"Bunda. Ayah, maafin aku ya, aku telat datengnya," ujarku berbicara sendiri pada makam bunda dan ayah.

"Bunda. Ayah, hari ini aku ulang tahun yang ke delapan belas, kok bunda sama ayah nggak pernah ucapin aku selamat ulang tahun sih, aku berharap bunda sama ayah mengucapkan selamat untukku walau hanya dalam mimpi itu sudah sangat membuatku bahagia," ujarku lalu setetes air keluar dari mataku.

"Bunda. Ayah, aku rindu dengan kalian," ujarku lalu air mataku mengalir di pipiku.

"Kenapa bunda dan ayah pergi terlalu cepat. Aku ingin ikut bersama kalian," ujarku dan meremas gundukan tanah yang menimbun bunda dan ayah dengan kedua tanganku.

Aku menangis sejadi-jadinya, air mataku keluar dengan derasnya. Aku tidak bisa menahan rasa rinduku pada mereka. Aku merindukan mereka. Aku merindukan kasih sayang mereka. Aku ingin di hari ulang tahunku yang ke delapan belas ini bunda dan ayah mengucapkannya padaku, tapi mereka tidak mungkin bisa, kami sudah ada di alam yang berbeda.

Aku menundukan kepalaku dan air mataku tak berhenti mengalir di pipiku.

"Rena," panggil seseorang, aku berbalik dan menatap orang itu. Aku membulatkan mataku terkejut.

"Bunda. Ayah?" ujarku terkejut, bagaimana bisa mereka ada di sini?

"Sini sayang," ujar ayah lalu aku berlari ke arah mereka lalu memeluknya erat. Apakah ini mimpi jika ini hanya mimpi tolong jangan bangunkan aku.

Aku melepaskan pelukanku lalu menatap mereka sambil tersenyum bahagia. Bunda menghapus air mataku yang masih mengalir lalu ayah mengelus kepalaku lembut.

"Bunda. Ayah, apakah ini nyata, kenapa kalian baru muncul sekarang, aku merindukan kalian," ujarku tersenyum bahagia.

"Kami hanya sebentar sayang," ujar bunda lembut.

"Kenapa hanya sebentar, kenapa kita tidak tinggal bersama seperti dulu lagi," ujarku pada mereka.

"Kita sudah di alam yang berbeda Rena," ujar ayah tersenyum padaku.

Wajah mereka sangat bercahaya, dan baju mereka serba putih, aku tersenyum menatap mereka dan mereka membalas senyumanku.

"Selamat ulang tahun sayang," ujar ayah lalu mengecup dahiku lama.

"Selamat ulang tahun ya sayang, semoga kamu bisa hidup bahagia bersama calon suami kamu," ujar bunda.

"Terima kasih," ujarku tersenyum, aku tak pernah merasa sebahagia ini.

"Ayah aku minta maaf, aku tidak bisa menepati perjanjian yang ayah buat," ujarku.

"Perjanjian?" ujar bunda bingung.

"Perjanjian yang ayah buat untuk aku, ayah membuat perjanjian dengan sahabatnya kalau dia akan menikahkanku dengan anak sahabatnya pada saat umurku tujuh belas tahun tapi aku tidak bisa menepatinya, aku sudah delapan belas tahun sekarang. Maafkan aku ayah," ujarku merasa bersalah.

"Tidak apa-apa sayang, umur bukan masalah bagiku yang terpenting kamu menikah dengan pria pilihan ayah," ujar ayah sambil tersenyum.

"Ku rasa kami harus pergi," ujar bunda lalu menatap ayah singkat sambil tersenyum.

"Pergi? kenapa cepat sekali, aku masih rindu dengan kalian, apakah kalian tidak merindukanku," ujarku sedih.

"Kami rindu sayang tapi tugas kami sudah selesai untuk memberikanmu ucapan selamat ulang tahun," ujar bunda sambil tersenyum.

"Apa tidak bisa lebih lama lagi," ujarku cemberut.

"Waktu kami sudah habis sayang, kamu juga harus ke sekolah nanti kamu telat. Apa telinga kamu nggak sakit mendengar ibu Ratih mengomel karena ulahmu," ujar ayah sambil tersenyu jahil.

"Ayah tau?" ujarku bingung.

"Kami tau apa yang kamu lakukan di dunia sayang, kami selalu mengawasimu walau pun kamu tidak pernah melihat kami," ujar bunda.

Aku tersenyum menatap mereka lalu memeluk mereka dengan erat. Ini adalah pelukan terakhirku dengan mereka. Mereka melepaskan pelukannya lalu ayah mengecup dahiku lama kemudian bunda mencium pipiki lembut, bunda dan ayah memberiku senyuman dan aku pun membalasnya dengan senyuman.

"Salam buat Daniel ya sayang," ujar ayah lalu mereka berjalan meninggalkanku kemudian menghilang tanpa jejak.

Aku sudah sangat bersyukur karena telah di pertemukan dengan bunda dan ayah walau pun hanya sebentar itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia. Rasa rinduku sudah terbalasi dan aku sangat bahagia.

Aku berjalan keluar dari pemakaman lalu kembali berjalan ke arah sekolah. Sekarang sudah pukul 07:15, aku sudah terlambat. Ya udah lah biarin aja yang penting aku sudah bertemu dengan bunda dan ayah.








TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Where stories live. Discover now