BAGIAN 20

15.7K 640 6

SELAMAT MEMBACA

BONPICT CLARA CEK MULMED DI ATAS

RENA DARA ANGGITA POV

"Bawa dia masuk, jangan sampai dia mencoba untuk lari, awasi dia terus," ujar wanita itu.

"Lo siapa sih? Berani banget lo nyulik gue kayak gini," ujarku penuh amarah.

"Lo mau tau siapa gue," ujarnya dan menatapku sengit.

"Gue Clara," ujarnya singkat yang sukses membuatku membulatkan mata kaget.

Apa, jadi dia si Clara yang terobsesi sama Daniel. Tapi kenapa di menculikku?

"Lo udah rebut Daniel dari gue, dan gue nggak akan biarin siapa pun wanita yang berani mendekati Daniel kecuali gue," ujarnya dan mencengkram daguku keras dan menatapku tajam.

"Dasar jalang, cuiihhh," umpatku kemudian meludahi wajahnya dengan penuh keemosian.

Clara menutup matanya dengan menahan amarhnya, lalu kembali membukanya dan menatapku tajam. Dengan kasar, Clara melepaskan cengkaramannya dari daguku kemudian menamparku keras hingga membuat wajahku terpental kesamping.

"Dasar bocah kurang ajar. Kalian bawa dia masuk," ujarnya kemudian masuk lebih dulu.

Para pengawal itu membawaku masuk dan aku terus berusah untuk di lepaskan.

"Woii lepasin gue!!" ujarku pada pengawal yang terus menarikku masuk ke sebuah club malam.

"Lepasin gue bangsat!" ujarku lagi dan terus meronta untuk di lepaskan.

Pengawal Clara masuk ke dalam club itu dan dua pengawal lainnya mencengkram lenganku dengan sangat kuat hingga aku tidak bisa lepas darinya.

Aku dan para pengawal Clara masuk ke dalam club malam. Ketika masuk banyak asap rokok dan bau alkohol yang menyeruak ke indra penciumanku. Sungguh aku tidak suka dengan asap rokok atau pun bau alkohol, itu adalah dua hal yang paling aku benci.

Aku tidak bisa lagi melawan. Lenganku di cengkram sangat keras, jika aku terus meronta aku akan terluka. Yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa melarikan diri dari pengawal yang terus memegangku ini.

"Ayo bawa dia ke kamar yang sudah di persiapkan untuknya. Di kamar itu sudah ada yang menunggunya," ujar Clara dengan angkuhnya.

"Gue nggak mau, mending lo lepasin gue, atau lo gue lap- " ujarku terpotong.

"Lo mau laporin gue ke siapa hah! Ke polisi, oh atau ke Daniel. Gue nggak takut ya sama anceman lo. Basi," ujar Clara sombong dan mengalihkan pandangannya dariku.

"Lo kenapa sih, kayaknya nggak bisa banget lepas dari Daniel," ujarku pada Clara tapi dia tidak membalas ucapanku.

"Lo itu cantik pasti banyak cowok yang suka dan cinta ama lo dengan tulus. Di dunia ini masih banyak cowok dan bukan cuma Daniel. Di luar sana banyak yang nunggu lo dan lebih baik dari Daniel, apa lo nggak bisa ngelepasin Daniel," ujarku berhenti sejenak.

"Terkadang merelakan adalah jalan satu-satunya untuk melihat orang yang kita sayang bahagia. Apa lo nggak bisa ngelakuin itu. Apa lo nggak bisa ngeliat orang lain bahagia," ujarku pada Clara namun dia hanya terdiam dan enggan untuk menatapku.

"Gue mohon. Biarin Daniel bahagia bersama orang yang memang dia cintai," ujarku pelan.

Kemudian Clara menatapku datar lalu menaikkan sebelah alisnya.

"Gue nggak perduli, yang jelas gue bisa dapetin Daniel seutuhnya, dan lo mungkin... Gue bakalan serahin lo ama om-om mesum yang udah nungguin lo di kamar. Kalian berdua bawa cewek jalang ini ke kamarnya, cepat!" ujar Clara kemudian duduk di salah satu sofa yang tesedia.

"Lo egois, pantes aja Daniel gak suka ama lo, lo jalang sekaligus pisikopat, bangsat lo anjing," ujarku geram.

Pengawal itu menarikku kasar, dan membawaku ke tempat tujuan, dasar nggak sopan.

"Lepasin gue!" seruku dan terus meronta tapi tak di perdulikan oleh dua pengawal yang memegangku.

Selang kemudian. Muncul lampu neon di atas kepalaku. Aku punya ide.

"Kalo lo berdua lepasin gue. Gue bakalan kabulin satu permintaan lo, gue janji," ujarku memohon sambil terus berjalan.

Kedua pengawal itu menatapku secara bersamaan, kemudian kembali menatap ke arah depan, ih dikira aku bohong.

"Eh gue beneran loh gue nggak bohong, kalo lo berdua lepasin gue, gue bakalan kabulin satu permintaan lo," ujarku memohon dan menatap mereka berdua bergantian.

"Cuma satu," ujar salah satu pengawal itu datar, kok kayak kenal suaranya.

"A-anu k-k, oh gimana kalo dua permintaan," ujarku sumringah.

"Ok dua permintaan," ujar pengawal yang satunya lagi sambil menahan senyumannya, nih orang kenapa?

Aku menatap pengawal yang satunya lagi, dan dia juga menahan senyumnya. Aku kok jadi curiga ya sama meraka, Kayak ada yang aneh, eh kok aku nggak nyampe-nyampe sih, perasaan aku jalan terus dari tadi, mereka mau bawa aku kemana.

"Eh lo mau kan lepasin gue," ujarku pada mereka berdua.

"Kalo lo mau lepas mending lo diam," ujarnya kaku.

"Tegang amat lo, kayak pake bra baru," ujarku datar.

Mereka berdua menatapku dengan reflex. Aku menatap mereka berdua bergantian sambil tersenyum lebar.

"Becanda doang kok hehe." ujarku cengengesan dan kembali menatap ke arah depan.

Mereka berdua berhenti di depan pintu kamar. Lah katanya aku mau di lepasin kok aku di bawa ke sini. Mereka membawaku masuk dan ada seorang pria memakai jaket bertudung yang sedang duduk diatas tempat tidur dengan membelakangiku. Wah jangan-jangan nih dua bocah ngebohongi aku, sialan.

"Eh lo berdua boong ya ama gue, katanya mau lepasin gue, kok di bawa ke sini" ujarku kesal dan menatap pria yang duduk itu jijik, siapa tau aja pria itu om-om mesum yang gila nidurin cewek, astaga gue di bohongin. Kenapa aku gampang banget di bohongin.

"Nih Rena udah gue bawa, terserah lo mau apain dia," ujar salah satu pengawal itu.

"Pliss jangan apa-apain gue." ujarku memohon pada pria itu sambil terduduk dan memegang kakinya. Aku baru kali ini berlutut di hadapan seseorang, ini demi keselamatanku.

"Hahahaha!!" tawa kedua pengawal itu.

Aku menatap pengawal itu dengan tatapan heran, kok ada yang aneh ya.

"Lo berdua nggak usah ketawa, kayak mak lampir tau gak." ujar pria yang sekarang aku pegang kakinya.

Aku menatap pria itu dan...









TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang