Part 19

2K 91 4

"Batu tetaplah batu. Takkan pernah berubah dengan cara apapun kamu merubahnya."

~~~

"Sye, cepetan sayang, nanti kamu telat, Nak," teriak Sarah dari arah dapur.

"Iya, Mi, ini Sye lagi turun kok," balas Sye yang sedang menuruni anak tangga.

"Mami udah siapin roti sama nasi goreng. Kamu pilih aja mau sarapan pake apa," perintah Sarah.

"Oke, Mi,"

"Sye, kamu yakin mau masuk sekolah?" tany Romy selaku Papi Sye.

"Yakin dong Pi, aku udah sehat kok. Lagian aku juga bosen di rumah nggak tau mau ngapain," tutur Sye.

"Awas nanti pingsan lagi kamu di sekolah, Sye," peringat Carlos seraya menyantap makanannya.

"Nggak lah bang. Emang selemah itu apa aku," ucap Sye.

"Ya kan siapa tau," timpal Carlos.

"Sayang, kamu jadi ikut lomba cheers itu?" tanya Sarah.

"Jadi kok, Mi. Lombanya dua minggu lagi," ucapnya memberitahu.

"Dua minggu lagi? Sebentar lagi dong, harus extra latian itu," ujar Romy dengan nada bicaranya yang berwibawa.

"Iya, Pi. Nanti pulang sekolah juga ada latian," Sye meneguk segelas air putih setelah ia menghabiskan sarapannya.

"Oh gitu, ya udah kamu jangan terlalu terforsir ya latiannya biar kamu nggak sakit lagi," peringat Romy pada anak bungsunya.

"Siap, Papiku!" ucap Sye sambil memberikan sikap hormat pada Romy.

"Ya udah sana kamu berangkat, nanti telat, lagi," ujar Sarah mengingatkan.

"Iya, Sye berangkat dulu ya , Mi, Pi, Bang," pamitnya kepada seluruh anggota keluarganya.

"Hati-hati, Sayang," ucap Sarah.

"Iya, Mi." Sye meninggalkan seluruh anggota keluarganya di ruang makan.

Dikendarainya mobil putih itu meninggalkan pelataran rumahnya dan ia lajukan menuju sekolahnya. Dengan kecepatan rata-rata Sye membawa mobilnya melintasi jalanan Ibukota yang ramai.

♦♦♦

Tak sampai setengah jam, Sye sudah sampai di pelataran sekolahnya. Diparkirkannya mobil mewah miliknya itu dengan benar.

"Syeila." panggil Una dari arah ruang BP.

"Apa? Lo ngapain dari BP?" tanya Sye.

"Oh itu tadi Bu Della minta tolong sama gue buat bawain tasnya," ucap Una.

"Oh gitu, ya udah yuk masuk," ajak Sye.

"Yuk,"

Pelajaran berlangsung sangat tenang pagi itu. Semua murid mengerjakan tugasnya masing-masing dengan tenang meski kadang ada yang berbisik untuk sekedar menanyakan jawaban pada teman sebangkunya.

Tepat pada pukul 09:15 bel istirahat berbunyi dengan sangat nyaring di seluruh penjuru sekolah. Sye dan kawan-kawannya memutuskan untuk pergi ke minimarket depan sekolah hanya sekedar untuk menemani Qilla membeli coklat untuk ia berikan kepada Faldo.

Ya, Qilla memang mengagumi Faldo. Hanya mengagumi, bukan menyukai ataupun mencintai. Tak berbeda dengan perempuan lain yang mengidolakan Faldo sebagai sorotan utama SMA Cendrawasih yang memang terkenal karena ketampanannya.

"Menurut lo enak yang ini atau yang ini, Sye, Na?" tanya Qilla sambil membandingkan kedua coklat yang ada di tangannya.

"Pasti enak semua menurut Kak Faldo, orang dia nggak beli ya jelas enak lah," jawab Sye yang tak memalingkan wajahnya ke arah Qilla maupun Una.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!