Part 18

1.8K 91 3

"Katanya, laki-laki selalu salah dan perempuan selalu merasa benar. Namun bagaimana bila keadaannya memang laki-laki sering membuat kesalahan pada perempuan yang katanya selalu merasa benar?"

~~~

From : Rebecca
Do, satu jam lagi gue sampe rumah lo.

Faldo tersenyum miring ketika membaca pesan yang baru saja ia dapat dari Rebecca.

To : Rebecca
Oke, ditunggu.

Faldo bergegas turun ke lantai satu untuk menemui ayah bundanya setelah membalas pesan Rebecca tadi.

“Yah, Bun, makan di luar yuk,” ajak Faldo.

“Dalam rangka apa nih kamu tumben banget ngajakin ayah sama bunda makan di luar?” tanya Gery.

“Faldo lagi pengen cari udara segar aja, Yah. Masa makan di rumah terus. Mau ya, Yah, Bun?” tanya Faldo pada Gery dan Lyla.

“Ya bunda sih terserah ayah aja, Do. Kalo ayah mau, ya udah ayok kita berangkat,” ucap Lyla sambil membaca majalah terbarunya.

“Gimana, Yah? Mau, ya?” bujuk Faldo.

“Emm, gimana ya? Ya udah boleh deh ayok,” ujar Gery.

“Yes! Ya udah ayah sama bunda siap-siap dulu, setengah jam lagi Faldo tunggu di bawah ya,” peringat Faldo pada Lyla dan Gery.

“Iya anak bunda,” Lyla mencubit pipi Faldo karena geram akan tingkah lakunya.

Gery dan Lyla pun menuju kamar mereka dan meninggalkan Faldo sendiri di ruang keluarga. Faldo yang merasa sudah aman memutuskan untuk menemui Bi Jati.

“Bi Jati, Bibi di mana?” ucap Faldo setengah berteriak.

“Ada apa, Den?” tanya Bi Jati dari arah belakang.

“Sekarang, Bibi masak apa aja yang ada di kampung Bibi atau Mang Asep tapi jangan sampe ayah sama bunda tau. Nanti temen Faldo ada yang mau kesini, dia pengen makan malem sama Bibi sama Mang Asep juga. Nanti Bibi temenin dia ya, Faldo mau makan di luar sama ayah sama bunda,” jelas Faldo panjang lebar.

“Loh, Den Faldo nggak ikut makan malem juga sama temen Den Faldo?” tanya Bi Jati.

“Faldo takut Bi, makan sama dia, takut dia salah makan. Yang ada nanti dia makan Faldo lagi,” ujar Faldo.

“Den Faldo ada-ada aja,”

“Makasih ya, Bi. Satu jam lagi dia sampe sini, Bi,” tutur Faldo.

“Iya, Den, sama-sama,”

Faldo yang merasa sudah menyusun semua rencananya dengan baik pun memutuskan untuk menonton televisi sejenak seraya menunggu ayah bundanya selesai bersiap.

“Faldo, ayo kita berangkat. Ayah sama bunda udah siap,” teriak Lyla yang sambil memeriksa isi tasnya.

“Oke, Bun.” Faldo mematikan televisi lalu berjalan menuju bundanya yang baru saja turun dari anak tangga.

“Ayo kita berangkat.” Ajak Gery yang masih menuruni anak tangga.

“Ayo,” ucap Faldo.

♦♦♦

Sye membuka matanya dan sayup-sayup melihat suasana sekitar kamarnya. Matanya menangkap kehadiran Carlos yang duduk di sudut tempat tidurnya.

“Bang Carlos, Abang ngapain?” tanya Sye yang mencoba duduk untuk melemaskan otot-otot pinggangnya.

“Mami nyuruh abang buat jagain kamu,” ucap Carlos yang tak memalingkan wajahnya ke arah Sye.

“Emang Mami ke mana?” tanya Sye.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!