[8] The Savior

Mulai dari awal

"Aku akan merindukan kalian."

"Sering-seringlah telepon aku." kata Baekhyun.

Serin menepuk bahu kedua sahabatnya itu kemudian menarik kopernya untuk segera boarding.

"Serin-ah," Chanyeol memanggil lagi dan mendekati Serin. Ia berbisik pelan ke telinga gadis itu. "kalau kau sampai pacaran dengannya, awas kau ya." Serin yang langsung mengerti apa yang dimaksud Chanyeol langsung melotot dan menepak jidat lelaki itu dengan keras.

"Yah!"

"Itu hadiah terakhir dariku, berbahagialah karena kau tidak akan merasakan pukulanku dalam waktu yang lama." kata Serin seraya menarik kopernya dan mengikuti langkah guru Kim masuk ke ruang tunggu.

Penerbangan dari Seoul ke Tokyo hanya memakan waktu dua jam lebih. Selama di pesawat, Serin dan Kyungsoo tidak banyak bicara. Lelaki itu lebih memilih membaca buku selama perjalanan, malah ia tidak mengajak Serin bicara sama sekali.

Sesampainya di bandara Haneda, mereka sudah dijemput sebuah mobil untuk mengantarkan mereka ke dorm yang ditujukan khusus untuk pelajar asing. Serin, Kyungsoo, serta guru Kim memasukkan semua koper ke dalam mobil dan segera meluncur menuju dorm tempat mereka tinggal selama tiga bulan ke depan.

Serin dan Kyungsoo ditempatkan di gedung yang berbeda karena dorm untuk siswa laki-laki dan perempuan dipisah. Walaupun terpisah, jarak gedung dorm mereka bersebelahan. Guru Kim memberikan kunci kamar pada Serin dan Kyungsoo dan setelah itu keduanya berpisah memasuki bangunan dorm masing-masing.

Malam harinya, Serin hanya berguling-guling di kasur. Perutnya sudah terasa lapar. Ia memegangi perutnya. Ah, Serin baru ingat ia belum makan apapun sejak turun dari pesawat. Setelah itu ia tertidur cukup lama setelah merapikan isi kopernya. Ia memandangi layar ponselnya, berpikir apakah ia harus mengajak Kyungsoo untuk ikut makan malam atau tidak.

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa menit, akhirnya Serin memutuskan untuk keluar sendiri daripada harus terjebak lagi dalam situasi yang canggung bersama Kyungsoo. Ia bangkit dari tidurnya dan segera memakai hoodie abu-abu miliknya.

Udara Tokyo malam ini ternyata agak dingin. Ia sedikit menyesal karena hanya keluar memakai hoodie miliknya yang tidak cukup menghalau udara dingin yang masuk ke tubuhnya, namun ia juga malas jika harus kembali ke kamar hanya untuk mengambil mantel. Akhirnya ia tetap berjalan keluar sambil berjalan di daerah sekitar untuk mencari makanan apa yang akan ia makan malam ini.

Suasana Tokyo cukup ramai, bahkan sebenarnya sangat ramai dan lebih padat dari Seoul. Ia melirik jam di ponselnya, sudah jam sepuluh lebih tapi orang-orang justru terlihat seperti baru keluar dari rumah. Ia berjalan di pedestrian sambil melihat-lihat sekeliling. Gadis ini cukup berani untuk berkeliaran sendiri malam-malam di negara yang bahkan baru pertama kali ia kunjungi. Serin berbelok ke sebuah gang yang agak kecil. Jalan di gang itu agak sepi dari jalan utama karena hanya beberapa kedai makanan saja yang buka di sana. Tidak, sebenarnya itu malah sangat sepi, tidak seperti jalan utama yang ia lewati beberapa saat lalu.

Srak. Srak.

Tiba-tiba saja Serin mendengar suara langkah mencurigakan di belakangnya. Entah kenapa ia merasa seperti ada orang yang sedang mengikutinya.

Srak.

Serin menghentikan langkahnya, berharap suara langkah di belakang akan berjalan mendahuluinya. Namun ternyata langkah itu ikut terhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia agak takut dengan suara mencurigakan itu. Apa? Mengapa ia ikut berhenti?

Karena mulai merasa takut, Serin kembali berjalan dan mempercepat langkahnya. Ia berjalan sangat terburu-buru.

SRAK!

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang