BAGIAN 17

16.6K 777 4

SELAMAT MEMBACA


RENA DARA ANGGITA POV

"Ay-ayah," ujar Vino gugup sekaligus terkejut.

Dan selang kemudian Daniel datang membawa dua bungkus permen kapas bewarna merah jambu.

"Dari mana aja sih lo, lama amat," ujarku pada Daniel.

"Gue tadi ngomong sebentar ama sahabat ayah gue, tuh orangnya," ujar Daniel menunjuk ke arah ayah Vino.

"Itu kan bokapnya Vino, lo kenal?" ujarku pada Daniel.

"Iya, aku kenal." Ujar Daniel dan aku hanya menganggukkan kepala.

"kamu harus tanggung jawab nak," ujar ayah Vino lembut kemudian menghampiri Vino.

"Ayah nggak marah sama aku?" ujar Vino.

"Justru ayah senang, jadi kamu nggak perlu lagi ayah paksa tentang perjodohan kamu sama Sarah," ujar ayah Vino sambil tersenyum.

"Ap-apa jadi Sarah yang ayah maksud itu Sarah yang ini," ujar Vino menatap ayahnya dan menunjuk Sarah. Ayah Vino membalas dengan anggukan kecil.

"Aduh ayah, bilang dong kalo Sarah yang ini, jadi aku kan nggak usah nolak perjodohannya," ujar Vino kemudian menghampiri Sarah yang masih bingung dengan situasi yang terjadi. Emang lemot nih anak.

Vino menghampiri Sarah dan berdiri tepat di hadapan Sarah. Aku yang ada di samping Sarah mundur untuk memberikan mereka peluang. Aku berdiri di samping Daniel lalu Daniel merengkuh pundakku lembut.

Ok, aku akui memang aku sudah mulai menerima Daniel, aku akan berusaha untuk bisa menerimanya. Aku tidak boleh egois dengan memikirkan kebahagiaan aku sendiri, aku mau orang tuaku bahagia dengan menerima Daniel, karena memang ini permintaan terakhir orang tuaku.

"Nih," ujar Daniel lalu menyodorkan sebungkus permen kapas padaku. Aku langsung mengambilnya lalu kembali menatap Vino dan Sarah.

"Lo mau kan nikah ama gue," ujar Vino pada Sarah sambil menggenggam tangan Sarah lembut.

"Nikah ama lo?" ujar Sarah bingung dan Vino membalasnya dengan anggukan.

"Terima aja kali sar, nggak usah sok jual mahal," ujarku pada Sarah sambil tersenyum kecil.

"Mending lo diem, orang lagi berusah romantis juga. Ganggu aja." ujar Vino kesal.

"Ye... Gitu aja marah." ujarku lalu memutar bola mata kesal.

Vino kembali menatap Sarah dengan tatapan yang tidak dapat aku mengerti.

"Lo mau kan sar," ujar Vino pada Sarah, dan Sarah hanya menganggukkan kepalanya kecil.

"karena berhubung kalian udah sama-sama terima perjodohannya, lusa kalian akan menikah." ujar ayah Vino sambil tersenyum.

"APA!!" seru Vino dan Sarah kaget.

"Hahahahaahaha!" tawaku dan Daniel kencang.

Vino dan Sarah menatapku heran tapi tidak dengan ayah Vino yang menatapku dan Daniel sambil tersenyum.

"Napa lo berdua?" ujar Sarah bingung.

"Nggak. Lucu aja, kok bisa yah pernikahan lo ama Vino bisa bertepatan dengan pernikahan gue," ujarku dan menatap mereka sambil tersenyum.

"Lusa ini lo juga nikah. Ama siapa?" ujar Vino.

"Ya nikah sama orang yang di sampingnya." ujar ayah vino dan melirik Daniel yang merengkuh pundakku.

"Lo nikah ama pak Daniel. Beneran. Kok lo mau-mau aja," ujar Vino heran.

"Itu bukan urusan lo. Ya udah deh gue ama Daniel mau pulang. Bayyy... Semuanya" ujarku pada mereka semua lalu menarik lembut tangan Daniel menuju kearah mobil.

SKIP

"Nggak sabar gue," ujar Daniel yang duduk di sampingku. Sekarang kami berdua sudah ada di rumah aku. Kita lagi duduk santai sambil menonton tv.

"Nggak sabar kenapa lo?" ujarku menatap Deniel sambil menyeritkan dahiku bingung.

"Nggak sabar pengen nikah ama lo," ujar Vino kemudian menatapku sambil tersenyum manis.

Sekarang posisi kami berdua berdekatan. Daniel memelukku dari samping dan aku hanya pasrah.

Dia tidak ingin melepaskan pelukannya. Sepulang tadi dia langsung menggendongku di pundaknya seperti karung beras, dan dia mendudukkanku di sofa sambil memelukku seperti ini. Heran aku sama Daniel udah dewasa kok sifatnya kayak anak kecil.

"Gue sayang ama lo," ujar Daniel dan memelukku makin erat dan tersenyum sambil menatap televisi.

Aku tak membalasnya kerena memang aku belum tau perasaan aku dengan Daniel seperti apa. Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri, aku nyaman sama dia tapi aku belum mencintainya.

Selang kemudian ponselku bergetar di atas meja. Aku mengambil ponselku dan sebuah pesan masuk di ponselku. Kemudian aku membacanya.

"Jauhi Daniel, atau Daniel akan mendapatkan celaka." isi pesan itu.

Aku menatap ponselku bingung. Siapa yang mengirim pesan ini? Mengapa orang ini menyuruhku untuk menjauhi Daniel?

"Jangan pernah jauh dari gue Rena," ujar Daniel lembut.

Daniel merenggangkan pelukannya dan menatapku dalam. Dia kemudian menggenggam tanganku lembut dan mencium punggung tanganku lama.

Selang beberapa detik Daniel kembali menatapku.

"Gue mohon. Lo jangan perduliin apa yang orang lain bilang. Kita harus jalani ini sama-sama." ujar Daniel penuh arti.

Aku hanya mengangguk kecil dan langsung memeluk Daniel erat. Aku akan berusaha untuk bisa sayang sama kamu Daniel.








TERIMA KASIH UDAH MAUN BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Where stories live. Discover now