Part 16

1.9K 94 2

~~~

“Hai, Na. Sorry ya gue telat, lo tau sendiri kan gimana Jakarta kalo malem?” ucap Sye.

“No prob, gue juga belum lama kok. Lo mau pesen apa?” tutur Una yang sudah lebih dulu memesan makanan.

“Gue pasta sama green tea aja satu,”

“Oke,” Una memesankan makanan untuk Sye kepada seorang pramuniaga.

“Jadi gimana? Mana yang lo belum paham?” tanya Sye perihal tugas yang Una belum bisa kerjakan.

“Ini loh gue belum paham cara ngitung yang ini,” jelas Una pada Sye.

“Oh yang ini, sini biar gue bantu kerjain,” ujar Sye sambil melepas jaket yang ia kenakan.

Sye menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang belum Una mengerti. Tak hanya menjelaskan, sesekali Sye ikut membantu mengerjakan apa yang belum Una kuasai.

“Eh, ngomong-ngomong ini Qilla kemana? Kok nggak ikut?” tanya Sye yang heran karena tidak ikut bersama mereka. Padahal, biasanya Qilla lah yang mengajak mereka pergi untuk berkumpul.

“Gue sih udah ajak tadi, siapa tau dia ada yang belum paham juga kan. Tapi katanya dia mau nemenin nyokap bokapnya ke farewell party temen bokapnya,” Una menjelaskan alasan mengapa Qilla tak ikut serta dengan mereka.

“Oh gitu,” Sye menganggukan kepalanya tanda mengerti apa yang dikatakan Una.

“Terus lo gimana?” tanya Una.

“Gimana apanya?” Sye mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Una.

“Ya, gimana hubungan lo sama Karel? Fine-fine aja kan?” Una memperjelas pertanyaannya.

“Gue lagi marahan sama Karel,” ucap Sye singkat.

“Marahan? Kok bisa? Bukannya kemaren kalian baik-baik aja,” tutur Una sambil menyantap makanannya.

“Ya, itu kan kemaren-kemaren, Na. Sekarang nyatanya hubungan gue sama Karel lagi nggak baik,” jelas Sye.

“Kenapa bisa marahan?” Una mengulang pertanyaan yang mungkin enggan untuk Sye jawab.

“Masalah kecil kok,”

“Kalo masalah kecil, kenapa kalian bisa sampe marahan?” tanyanya lagi untuk kesekian kalinya.

“Karena satu diantara kita ada yang terlalu membesar-besarkan layaknya sayatan kecil yang kembali disayat untuk kedua kalinya supaya sayatan itu lebih besar lagi dan sulit disembuhkan,” Sye tersenyum getir dan matanya berbinar ketika mengingat kejadian itu.

“Karel? Masalah apa emang?” tanya Una.

“Waktu kita latian cheers kemaren, Karel liat waktu gue diangkat sama Kak Faldo. Dia nggak suka liat gue sama Kak Faldo kaya gitu. Dia suruh gue minta ganti pasangan sama Kak Lerissa dan gue nggak mau. Terus dia kira gue seneng dipasangin sama Kak Faldo,” Sye menjelaskan semuanya secara runtut pada Una.

“Kenapa lo nggak mau ganti pasangan? Lo juga kan benci banget sama Kak Faldo,” saran Una.

“Gue emang benci sama Kak Faldo, Na. Tapi gue juga punya ketua yang harus dipatuhi segala keputusannya. Nggak pantes kalo gue minta tuker pasangan cuma gara-gara hal kaya gitu,”

“Iya juga sih, ya udah terserah lo aja. Gue cuma bisa jadi pendengar yang baik,” pasrah Una.

“Makasih ya, Na,” Sye menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang sangat manis.

“Iya,”

♦♦♦

“Faldo, ayo makan, Sayang,” teriak Lyla selaku bunda Faldo dari arah dapur.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!