0.1

13.2K 1.8K 110
                                    





two months later.






Jinyoung bersandar pada tiang penyangga yang ada didepan pintu toserba. Lelaki itu menatap kakinya yang penuh luka, bersimbah banyak darah.

Disebelahnya ada Seoyeon yang tengah membalut kaki Jinyoung dengan kemeja kotak kotak cowok itu. Tangannya cekatan, namun teliti.

"Diem dulu disini." ujar Seoyeon begitu ia selsai.

Jinyoung menahan lengan Seoyeon, "mau kemana?"

Brakk

Terdengar suara gaduh dari dalam toko. Tatapan Seoyeon yang mengintimidasi cukup membuat Jinyoung segera mengenyahkan jemarinya dari lengan ramping gadis itu, "mereka butuh bantuan, close your eyes."

Setelah berkata demikian, Seoyeon segera bergegas masuk kedalam. Gadis itu menyipitkan matanya ketika menyadari keadaan sekitar sangat berantakan, berbanding terbalik dengan lima belas menit yang lalu.

Cahaya remang remang dari lampu darurat menuntun matanya menemukan Sunwoo tak jauh dari tempatnya berdiri.

Pandangannya bertemu dengan manik milik Sunwoo, yang tengah kesusahan menghadang pintu tangga darurat. Ada Hyunjin juga disana, sedang berusaha mendorong rak makanan untuk mengganjal pintu.

Seoyeon berinisiatif membantu, namun kelopak ganda kehitaman gadis itu tak dapat berhenti menelisik kesana kemari, mencari presensi si pria berambut coklat. "Jaemin mana?"

"Masih diatas." jawab Sunwoo, padahal Seoyeon gak nanya ke dia.

Baik Sunwoo maupun Hyunjin dapat merasakan perubahan aura ketika netra kelabu Seoyeon menghujami keduanya dengan tajam.

Sunwoo mendecih pelan, "mustahil ngelawan musuh yang gak bisa lu tatap, mending lu bantuin si pacil balik ke tenda." jelasnya.

Dasar bajingan kurang ajar, ingin rasanya Seoyeon menendang si kepala besar itu sekarang. Tapi dia tidak punya banyak waktu, makanya gadis itu segera bergegas berlari menuju eskalator berdebu yang sudah tak beroperasi lagi.

Hyunjin berlari mengejar, tak jadi menggeser rak untuk membantu Sunwoo. "Seoyeon!"

Ditatapnya kedua punggung yang mulai menjauh, Sunwoo berteriak kencang. "Woy anjing mau kemana? Bantuin gua bangsat."

Tapi keduanya tak mendengarkan membuat Sunwoo lagi lagi mengumpat. Masih dengan posisi menahan pintu yang terus menerus didobrak, Sunwoo mengusap wajahnya kasar.

"Aturan waktu itu gua tembak tuh kepala." umpatnya pelan, merujuk pada pertemuan pertama mereka di perbatasan distrik dua bulan yang lalu.

Sementara itu, Hyunjin terus mengejar Seoyeon yang terus berlari. Lelaki itu meraih pergelangan tangan si gadis, menariknya bersembunyi di ruang sempit tempat menyimpan alat kebersihan.

Pintu ditutup. Hyunjin menyibak sarang laba-laba, kemudian menyalakan senter kecil yang disimpan didalam saku.

"Kasih tau sepupu gue dimana?"

Hyunjin sengaja menyorot senter keatas agar tidak terlalu silai. "Di section makanan kaleng, kakinya keseleo." jelasnya.

Seoyeon berniat bergegas keluar, namun pintunya ditahan. "Lu yakin?"

Seoyeon merotasi kedua bola mata, kedua tangannya dilipat didepan dada. "Hampir tiga bulan matahari ilang lo gak korek kuping ya?"

Ketika Seoyeon menatap Hyunjin yang tak kunjung membiarkannya pergi. Dengan geram gadis it berteriak, "apaansih!"

Hyunjin membuka pintu, kemudian menunjuk seseorang yang tengah duduk dibawah cahaya remang remang diujung sana. Sebagian tubuhnya tertutup oleh bungkus camilan, mengisakan wajah dan bagian kaki.

"Itu."

Ada beberapa dari mereka disana, tengah berjalan kesana kemari mencari mangsa.

"Gua bakal pancing dia, begitu dia lari lu langsung bawa Jaemin kebawah." lanjut Hyunjin.

Seoyeon mengangguk pelan. Mungkin kalau Hyunjin tidak ada, Seoyeon sudah berlari kesana seperti orang kesetanan tanpa memperhatikan sekitar.

Setelah menjauh, Hyunjin menendang sebuah troli belanja. Otomatis seluruh atensi berpusat pada dirinya, disusul oleh cahaya merah yang menyorot kearahnya.

Hyunjin menghirup nafas, memejamkan mata, berbalik, dan mulai berlari.

[4] THE TALE OF UNUSUALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang