BAGIAN 12

14K 685 8

SELAMAT MEMBACA


RENA DARA ANGGITA POV

"RENA DAN KAMU VINO!" teriak ibu Ratih geram.

Aku dan Vino hanya menatap ibu Ratih datar. Ya orang yang menunggu kami tadi adalah ibu Ratih dan Daniel. Sialan pasti Daniel yang ngadu sama ibu Ratih. Aku bisa lihat dari senyum liciknya. Dasar setan, awas saja kau Daniel.

"Kalian masih berani bolos juga," tegas bu Ratih.

"Bu saya nggak bolos kok. Saya cuma pengen nyelamatin Vino yang di keroyok ama anak sekolah lain, beneran deh bu saya nggak ada niat buat bolos," ujarku pada ibu Ratih yang menatapku garang.

"Ohh, jadi tadi kamu berantem sama anak sekolah lain gitu," ujar ibu Ratih garang.

"Iyalah bu, kalo gak berantem si Vinonya gak bakal selamat, lawannya aja banyak gitu," balasku.

Aku melirik Daniel yang hanya terdiam disamping ibu Ratih dan menatapku dingin.

"Kamu Vino," ujar ibu Ratih dan menatap Vino tajam.

"Anu bu. Itu," ujar Vino tampak gugup

"Anu-itu apa Vino," ujar ibu Ratih sedikit keras.

"Anu, sebenarnya memang saya tadi niatnya mau bolos," ujar Vino gugup.

"Tuh kan bu Vinonya aja yang pengen bolos, saya mah nggak ada niat buat bol- "ujarku terpotong oleh ibu Ratih.

"Diam kamu Rena, saya berbicara dengan Vino bukan sama kamu," ujar ibu Ratih geram.

"Dasar gendut kalo lo bukan kepala sekolah, udah gue pukulin lo dari tadi," gumamku kecil agar tidak di dengar oleh siapa pun, tapi perkiraanku salah.

"Kamu ngomong apa tadi Rena. Kamu ngatain saya gendut, hah!" ujar ibu Ratih geram lalu menarik telingaku keras.

"ADADAWWW, ANJING SAKIT KAMPRET, LEPASIN GAK!!" teriakku.

"Rena kamu ngatain saya anjing," tekan ibu Ratih gemas dan makin menjewer telingaku keras.

Dapat ku lihat Daniel berusah menahan tawanya. Dasar calon suami kurang ajar. Eh apa barusan aku ngomong kalau Daniel itu calon suami aku. Gak itu nggak mungkin, mana ada calon suami tega ngeliatin calon istrinya di jewer kayak gini. Masa aku nggak di tolongin sih. Ini juga ibu Ratih baperan amat sih.

"Ibu nggak usah baper kali. Emang ibu gendutkan, mending ibu lepas jeweran ibu dari telinga saya, ibu mau tanggung jawab kalo telinga saya copot." ujarku menahan rasa sakit.

Daniel dan Vino berusaha menahan tawanya, sialan mereka berdua. Daniel mendekat ke arah ibu Ratih dan membisikkan sesuatu. Wajah ibu Ratih yang tadinya marah langsung tersenyum lebar, lalu melepaskan jewerannya pada telingaku kemudian tersenyum manis padaku. Ibu Ratih di apain sama si Daniel, kok bisa jinak gitu.

"Rena, Daniel ingin berbicara denganmu." ujar ibu Ratih sambil tersenyum menatapku.

Aku hanya menyeritkan dahiku bingung. Kok ibu Ratih senyum-senyum terus kayak orang gila. Aku menatap Daniel heran dan dia hanya mengedikkan bahunya singkat. Aku berjalan ke arah Daniel dan kami berdua berjalan bersama.

"Lo pengen ngomong apa?" ujarku pada Daniel.

"Kita akan ke butik bunda," ujarnya.

"Hah! Bunda lo maksudnya?" ujarku tapi tak di perdulikan oleh Daniel.

"Ngapain ke butik bunda lo?" ujarku bingung.

"Lo lupa ya. Minggu depan kan kita nikah. Kita harus beli cincin ama busana pernikahan kita nanti," ujarnya menatap ke depan sambil tersenyum senang.

"Kok cepet banget. Gue kan belum nerima pernikahannya," ujarku kesal.

"Terima nggak terimanya elo, gue nggak perduli yang penting minggu depan kita nikah titik nggak pake koma dan nggak ada negosiasi," ujarnya dan aku hanya menatapnya sambil menaikkan sebelah alisku.

"Ngotot banget pengen nikah ama gue," ujarku dan juga menatap ke depan.

"Iyalah, gue kan cinta ama lo," ujarnya.

"Tapi kan gue nggak cinta ama lo." balasku.

Daniel hanya diam dan terus berjalan. Syukurin aku bikin mati kutu. Aku tersenyum kecil dan mengikuti langkah Daniel yang terus berjalan, eh tunggu dulu.

"Niel jadi gue ama lo langsung ke butiknya bunda lo. Sekarang?" ujarku.

Daniel menatapku sambil tersenyum. Nih anak kenapa?

"Ciee... yang udah punya panggilan sayang ama gue," ujarnya tersenyum manis.

Jujur Daniel memang manis entah kenapa aku merasa nyaman dengannya. Mungkin ini udah tanda-tanda kalau aku memang suka sama dia. Tanpa sadar aku tersenyum dan menunduk menatap sepatuku. Aku rasanya jadi malu menatap Daniel.

"Ciee... yang pipinya merah," ujar Daniel.

Astaga apa benar pipiku merah. Aku menatap Daniel yang juga menatapku sambil tersenyum jaihl. Dan selang kemudian Daniel mencium pipi kananku kemudian berjalan meninggalkanku. Aku terdiam dan berhenti berjalan, astaga pasti sekarang pipi aku udah tambah merah, untung aja semua murid masuk kelasnya masing-masing kalau nggak pasti mereka bakalan curiga sama aku dan Daniel.

"Niel tungguin gue!" seruku dan mengejar Daniel yang sudah jauh di hadapanku.









TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITA AKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang