BAGIAN 9

21.8K 965 4

SELAMAT MEMBACA

BONPICT RENA CEK MULMED DI ATAS

RENA DARA ANGGITA POV

"Rena ayo bangun. Nanti lo telat ke sekolah." ujar seseorang yang ku yakini adalah Daniel. Siapa lagi kalo bukan bukan dia, dasar pengganggu.

"Udah ah sana lo pergi, gue males ke sekolah. Mending lo aja yang ke sekolah, bilangin ama guru gue kalo gue sakit. Udah sana pergi, gue masih pengen tidur. Gue lagi mimpi indah juga," ujarku kesal karena dia telah mengganggu tidurku.

"Rena apa lo lupa kalo gue itu guru lo," ujarnya tapi aku tak dapat melihat wajahnya karena aku masih menutup mataku.

"Gue nggak pernah punya guru setan kayak lo." ujarku serak akibat baru bangun tidur tapi aku tidak membuka mataku melainkan memperbaiki posis tidurku menjadi lebih nyaman.

Setelahnya aku tidak mendengar apa-apa lagi. Mungkin dia sudah pergi. Tapi ku rasakan seseorang menarik selimutku hingga memperlihatkan tubuhku yang hanya dibalut dengan hotpants dan kaos tipis warna putih. Aku mengerang tidak nyaman lalu aku membuka mataku dan menatap Daniel yang telah beraninya mengganggu tidurku.

Aku menatap Daniel yang berdiri sambil berkacak pinggang di samping tempat tidurku dan menatapku dengan tatapan dingin. Dia sekarang telah memakai baju kemeja putih dan celana panjang hitam.

"Lo mau mandi sendiri atau gue yang mandiin," ujarnya dan menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan yang menurutku sangat tidak enak untuk dilihat, sialan. Dasar mesum.

"Emang lo berani?" ujarku meremehkan.

Daniel hanya tersenyum tipis kemudian melangkah ke arahku dan naik ke atas tempat tidurku. Dia semakin mendekat ke arahku. Aku hanya mundur dan menatapnya sambil menyeritkan dahiku bingung. Mau ngapain dia. Jangan-jangan dia mau apa-apain aku lagi.

Dengan sigap aku turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku hanya bisa mendengar suara Daniel yang terbahak sangat kencang.

"Hahahahaha... rasain lo, emang enak gue kerjain, hahaha..." ujar Daniel sambil tertawa kencang.

Kurang asam. Liat aja aku kerjain baru tau rasa dia. Belum tau dia siapa aku.

"Dasar om kampret kurang ajar, liat aja gue bakal cari cara supaya tuh om-om gak gangguin gue lagi."

Aku mendengar suara pintu terbuka lalu pintu itu kembali tertutup. Pasti dia sudah keluar. Aku mulai melakukan aktivitas mandiku seperti hari-hari biasanya.

SKIP

Setelah mandi aku mengambil baju seragam putih abu-abuku lalu mengenakan baju itu. Setelah berpakaian aku keluar dari kamar dan berjalan ke dapur.

Sesampainya di dapur aku melihat Daniel sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Orang itu juga memakai seragam sama sepertiku, siapa dia. Astaga jangan-jangan...

Dengan cepat aku memutar tubuh orang itu, dan...

"SARAH NGAPAIN LO DI SINI?" teriakku kaget. bagaimana tidak kaget, nanti yang aku takutkan Daniel ngomong sembarangan pada Sarah.

"Oh hai Rena. Kok lo nggak bilang sih kalo pak Daniel itu calon suami lo, lo juga nggak bilang kalo lo menikah minggu depan. Tega lo ama teman sendiri, masa gue nggak di undang," ujar Sarah to the point dan menatapku sambil cemberut.

Aku menepuk jidatku pelan. Dasar Daniel sialan. Aku kan pengen rahasiain pernikahan ini, kenapa malah di bocorin. Dasar ember.

Aku menatap Sarah yang juga menatapku polos. Aku balas menatapnya sambil tersenyum lebar dan melirik Daniel yang sedang tersenyum kemenangan. Dasar kampret.

"Anu Sarah. Sebenarnya gue pengen bilang ama lo tapi... " ujarku dan memikirkan sesuatu agar bisa menjawab pertanyaan Sarah.

"Tapi apa sih Rena. Nggak usah boong deh, gue tau lo pengen rahasiain pernikahan elo ama pak Daniel kan. Jujur aja kali," ujar Sarah kesal.

"Lah lo kok bisa tua sih?" balasku kaget.

"Tua? Tau.. kali, nggak usah berjanda deh ama gue." balas Sarah sambil memutar bola matanya kesal.

"Berjanda? Bercanda kali," ujarku dan menoyor kepala Sarah gemas.

"Apaan sih lo," balasnya kesal.

"Emang enak. Syukuran lo," ujarku.

"Syukuran? Syukurin kali," ujar Daniel menaikkan sebelah alisnya bingung dan menatap aku dan Sarah bergantian.

"Mau-mau gue dong, mulut-mulut gue, kok lo yang rempong. Udah ah gue mau ke sekolah. Baayyy..." ujarku kemudian menarik tangan Sarah pelan.

Aku masuk kedalam mobil Sarah diikuti dengan Sarah yang ikut masuk dan duduk di jok kemudi, setelah kami memasang sabuk pengaman, Sarah mulai menjalankan mobilnya menuju sekolah.

"Kok lo gak bilang sih kalo lo pengen nikah ama pak Daniel?" ujar Sarah sambil fokus menyetir.

" Ya gimana caranya mau bilang, gue aja baru tau kemaren kalo si om kampret itu calon suami gue," ujarku sambil memandang suasana jalanan yang ramai dipenuhi orang-orang yang punya kesibukan pagi.

"Kok bisa sih lo dia jadi calon suami lo?" ujar Sarah.

"Itu sebenarnya perjanjian antar bonyok gue ama bonyoknya si om kampret itu, perjanjian kalo gue harus nikah ama tuh om kampret kalo umur gue udah 17 tahun," ujarku.

"Serius 17 tahun, Ren lo masih sekolah, lulus aja nggak, masa udah mau nikah," ujar Sarah.

"Ya gue amit-amit banget malah ama om kampret itu, tapi kan gue gak boleh nolak, ini juga sama aja permintaan terakhir bonyok gue," ujarku sedikit kesal.

"Apaan deh Ren, namanya tuh pak Daniel bukan om kampret, lagi pula di ganteng kok dia juga keliatannya baik, bisa jadi imam lo yang sempurna, iya kan," ujar Sarah.

"Serah lo deh Sar, males gue ngomongin si om kampret mulu, gak ada pembahasan yang lain apa," ujarku dan terjadi kheningan sesaat.

Aku menatap Sarah yang masih fokus menyetir tapi dia kelihatan banyak fikiran. Kayaknya Sarah punya masalah tapi dia belum siap cerita sama aku. Ya sudah lah aku gak mau banyak fikiran dulu.









TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang