Part 15

2K 99 1

"Bunga mawar tidak akan bisa kembali seperti semula jika kamu sudah memetik beberapa kelopaknya. Begitu juga dia. Dia yang sudah kamu beri hati untuk saling mempercayai."

~~~

“Syeila,”

Sye menoleh kebelakang ketika mendengar suara yang menyebutkan namanya. Jalannya menuju area parkir terhenti ketika ia mendapati Karel yang berada tepat di belakangnya dengan wajah yang tak dapat disiratkan.

“Kenapa?” tanya Sye. “Gue hari ini bawa mobil, jadi kita nggak bisa pulang bareng,” lanjutnya seraya mengikat tali sepatunya yang lepas.

“Gue nggak suka liat lo kaya tadi,” ucap Karel dengan tangan yang masih mengepal menahan amarahnya.

Seketika Sye menoleh ke arah Karel karena perkataan yang baru saja ia ucapkan.

“Maksud lo gimana?” Sye mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan yang dilontarkan Karel.

“Kenapa lo nggak protes atau minta tuker pasangan sih? Kenapa lo harus terima kalo lo dipasangin sama Faldo yang udah jelas dia itu musuh lo,” serang Karel dengan pertanyaan yang sudah ia pendam sedari tadi.

“Maksud lo itu apa sih, Rel? Gue itu cuma sebatas anggota yang memiliki ketua dan harus menuruti apa yang udah jadi keputusannya. Nggak senonoh kalo gue seakan-akan nggak setuju sama apa yang udah jadi ketetapan Kak Lerissa,” ucap Sye menjelaskan panjang lebar kepada Karel yang telah membuatnya tak habis pikir.

“Oh, jadi lo seneng dipasangin sama Faldo?” ujar Karel dengan nada yang sedikit naik.

“Apaan sih, Rel. Kok lo jadi posesif gini?” Sye yang tak habis pikir dengan Karelpun tak mau kalah dengan nada bicara Karel yang sudah mulai meninggi.

“Gue posesif? Wajar Sye, gue cowok lo dan gue nggak suka liat lo sama cowok lain,”

“Tapi posesif lo nggak wajar, Rel. Kenapa lo jadi childish gini sih?” Sye pergi meninggalkan Karel yang masih mematung di koridor lantai satu tersebut.

Belum ada satu bulan mereka meresmikan hubungan itu, tetapi masalah sudah menimpa mereka berdua. Sye hanya tak mau kehilangan Karel karena hal sepele. Tetapi Sye tak menyangka jika Karel akan bersikap kekanakan seperti ini padanya.

♦♦♦

Sye sedikit membanting pintu kamarnya untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Karel. Moodnya sangat hancur sore itu. Entah apakah dapat disusun kembali seperti semula dengan waktu yang singkat atau memerlukan waktu satu hari full untuk kembali membenahinya.

Sye tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini untuk mengembalikan moodnya. Pikirannya sudah habis terkuras untuk mengahadapi pertanyaan Karel tadi. Sifat yang Karel tunjukkan tadi tidak pernah Karel tunjukkan ketika mereka berkenalan ataupun memulai masa pendekatan.

Sye memutuskan untuk keluar sejenak bersama Carlos untuk membeli beberapa marshmello dan bunga untuk lebih menenangkan dirinya.

“Bang, temenin Sye beli marshmello sama bunga yuk,” rayu Sye pada Carlos yang sedang menonton DVD di macbook nya.

“Ada komisinya nggak?” tanya Carlos yang masih fokus dengan DVD nya.

Sye menepuk jidatnya karena pertanyaan Carlos. “Ya udah deh, abang mau apa Sye beliin. Yang penting anterin Sye dulu, Sye males bawa mobil,” ucapnya seraya mencepol rambutnya asal.

“Wih, bener? Ayok cepet,” Carlos mematikan macbooknya lalu mengemasinya.

Sye menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah kakaknya yang seperti anak kecil.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!