BAGIAN 6

23.8K 1.1K 2

SELAMAT MEMBACA

BONPICT RENA CEK MULMED DI ATAS

RENA DARA ANGGITA POV

"Lo milik gua, dan selalu jadi milik gua," Ujar om kampret itu sambil menatap ku,

"Om gila ya," Ujar ku kesal pada om sinting yang ada di hadapan ku ini,

"Iya gua gila karena lo," Ujar pria itu dan menatap ku sambil tersenyum merekah.

"Wah om pasti sakit kan, kayaknya om butuh obat deh?" Ujar ku menyeritkan dahi bingung,

"Gua nggak bakalan sakit kalo lo selalu ada di samping gua," Ujar pria itu kemudian mencium punggung tangan ku,

"Wehh anjir, gak suci lagi deh tangan gua, om mesum banget sih," Ujar ku menatapnya ngeri,

Dia hanya menatap ku sambil tersenyum lebar. Ya Tuhan jauh kan lah om ini dari ku,

"Om nggak waras ya?" Ujar ku menatap pria di hadapan ku dengan tatapan geli dan mampu membuat ku jijik,

"Mau lo ngatain gua kayak gimana, kenyataannya memang seperti ini," Ujar pria sinting itu,

Aku hanya menatapnya bingung dengan apa yang di katakannya. Kenyataan apa maksudnya?

"Kenyataan apa? Ini kan udah kenyataan?" Balas ku dengan menyeritkan dahi ku bingung,

"Kenyataannya kalau lo itu calon istri gua," Ujarnya tersenyum lebar.

Aku mengerutkan dahi ku bingung lalu tertawa kencang,

"Ppfftthahahaha!! Ngaco lo om, hahaha!" Ujar ku sambil tertawa kencang,

Lalu selang beberapa detik aku berhenti tertawa karena om itu menatap ku sambil tersenyum miring.

"Napa om?" Ujar ku bertanya,

"Lo emang calon istri gua kok," Ujarnya serius

Eh gila gua kira dia bercanda. Calon istri? Namanya aja aku nggak tau, malah ngaku-ngaku kalau aku calon istrinya, wah bener-bener sarap nih orang.

"Eh geblek gua aja nggak tau nama om siapa, terus om ngaku-ngaku kalo gua itu calon istri om gitu? Mimpi om terlalu tinggi tau gak," Ujar ku meremehkan dan menatapnya sambil menaikkan sebelah alisku.

Pria itu tidak lagi tersenyum melainkan menatap ku dingin. Waduh kok mukanya tiba-tiba serem gitu ya?

Pria itu mundur dari hadapan ku kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang ada diatas meja. Dia mengeluarkan sebuah map yang tidak ku ketahui apa isinya lalu pria itu kembali menatap ku masih sama dengan wajah dinginnya.

Pria itu maju mendekat tapi tidak terlalu dekat seperti tadi kemudian melemparkan map itu pada ku. Aku menatapnya tajam dan dia hanya menatap ku dingin sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dasar om kampret.

Aku membuka map itu lalu membaca isi mapnya.

Kertas ini berisi tentang perjanjian antara ayah ku dan ayah dari Daniel Anggara. Isi suratnya bahwa aku harus menikah di umur ku yang 18 tahun dan di pasangkan dengan Daniel Anggara.

Aku menatap pria di hadapan ku dengan tatapan bertanya, perjanjian apa ini? Masa iya aku nikah umur delapan belas tahun, terus Daniel Anggara siapa?

"Daniel Anggara?" Ujar ku bingung,

"Itu gua. Dan kita berdua di jodohin," Ujar pria itu datar.

Aku menatap pria itu sambil membulatkan kedua mata ku. Jadi om yang ada di hadapan ku ini, Daniel? Kaget dan Juga marah, aku membuang asal map itu dan menatap Daniel tajam. Aku nggak terima semua ini,

"Nggak gua nggak setuju, gua masih pengen sekolah, dan gua nggak mau nikah ama orang yang nggak gua suka, apalagi gua di suruh nikah ama om, nggak ya gua nggak mau," Ujar ku geram pada Daniel,

"Ini sudah perjanjian orang tua kita Rena. Lo harus mau, ini juga demi bisa ngebahagiain orang tua lo," Ujarnya melembut dan menatap ku penuh arti,

"Gue nggak suka kalo ada orang yang bahas tentang orang tua gua," Ujar ku memutar bola mata ku jengkel dan mengalihkan pandangan ku ke arah lain,

Ku rasakan Daniel melangkah mendekat ke arah ku, dan sekarang dia sudah berada tepat sekitar tiga jengakal di hadapan ku, namun aku tidak menatap matanya melainkan menatap ke arah lain.

"Rena liat gua," Ujar Daniel lembut namun aku tak memperdulikannya.

Daniel menarik dagu ku lembut untuk bisa menatapnya. Aku menatap matanya sendu serasa ingin menangis tapi itu semua tertahan karena rasa gengsi ku yang terlalu tinggi. Jujur aku sangat sensitif jika ada orang yang membicarakan tentang kedua orang tua ku yang telah tiada,

"Kalo lo pengen nangis, nangis aja. Gua tau kok lo sedih semenjak kedua orang tua lo meninggal, maka dari itu gua datang untuk bisa buat lo nggak sedih lagi. Gua pengen lo nerima perjodohan ini. Gua janji gua bakal buat lo bahagia. Gua nggak akan buat lo sedih, karena dengan ngeliat lo sedih itu udah buat gua sakit," Ujar Daniel yang masih memegang dagu ku lembut.

"Gua gak bisa, gua gak cinta sama lo," Ujar ku sedih,

"Tapi gua yakin lo bakal cinta sama gua suatu saat nanti. Gua mohon lo terima ini, gua cinta sama lo Rena," Ujar Daniel lembut sambil mengusap pelan pipi kiri ku,

"Gua gak mau nyakitin lo, gua gak mau lo cinta sama gua," Ujar ku pelan hampir seperti berbisik,

"Gua janji bakal buat lo cinta sama gua, pliss terima perjodohan ini, gua gak bisa lagi untuk jauh dari lo," Ujar Daniel lembut dan menatap mata ku dalam,

Tanpa sadar setetes air jatuh ke pipi ku dan tetesan berikutnya pun ikut terjatuh membasahi pipi ku.

Aku menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama di depan orang yang baru aku kenal. Aku menatap matanya yang juga menatap mata ku lembut. Daniel mengusap lembut pipi ku untuk menghapus air mata ku.

Haruskah aku menerimanya walapun aku tidak mencintainya? Dari dulu aku sangat ingin menikah dengan pria yang aku cintai tapi apa ini, aku tidak bisa untuk tidak menerimanya, aku mencintai kedua orang tua ku, ini adalah permintaan terakhir mereka. 

Mengapa aku di hadapkan dengan pilihan seperti ini?

Entah mengapa, tapi aku merasa sakit, aku tak bisa menerimanya, aku tidak mencintainya, tapi di sisi lain aku menyayangi kedua orang tua ku, aku tak bisa menolaknya.

Aku menunduk untuk menghindari tatapannya. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah, aku merindukan kedua orang tua ku. Air mataku tak hentinya untuk mengalir. Aku jatuh terduduk diatas lantai sambil menutupi wajah ku dengan kedua telapak tanga ku. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sangat merindukan kedua orang tua ku.

Semua yang aku lakukan selama ini hanya untuk menghindari rasa rindu ku pada kedua orang tua ku. Aku hidup sendiri semenjak kedua orang tua ku meninggal. Aku tak mengenal siapa pun keluarga dari orang tua ku. Semenjak orang tua ku meninggal, aku mengurus diri ku sendiri dan belajar sebisa mungkin untuk bisa menjadi sukses dan membahagiakan kedua orang tua ku yang telah jauh disana.

Tapi apa. Aku tak bisa menjadi seperti yang mereka ingikan. Aku menjadi anak yang nakal dan pembangkang. Aku tak bisa membuat mereka bahagia. Aku sangat terpukul dengan kepergian mereka.

Ayah. Bunda. Ku harap kau mendengar suara hati ku yang sangat merindukan mu.

Aku merasakan pusing di kepala ku aku tak tau kenapa tapi setelahnya aku tak lagi melihat apapun, hanya gelap yang aku lihat dan aku merasakan seseorang menggendong ku entah kemana.







TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITA KU

JANGAN LUPA VOTE DAN COMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN ATAU TYPO


MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang