Chapter 11

8.1K 1.7K 238
                                                  

His lies would be ultimatum

Jungkook baru saja terjaga, tepat saat menit jam berhenti pada menit ketiga puluh lima, tepat jam delapan pagi. Ia terlihat bingung, oh jagoan kecil ini pasti begitu kebingungan, tertidur dan terjaga di tempat asing dimana segala sesuatunya berwarna putih serta aroma khas dari rumah sakit yang sedikit menyakiti hidungnya.

Jira mendekat secara cepat, memastikan ia baik-baik saja dengan wajah digurat rasa khawatir yang berlebih. "Kook-ie sudah bangun? Kook-ie ingat siapa Noona?"

Pemuda kecil itu nampak menggigit bibir bawah, iris bulatnya yang lucu menatap ke arah Jira begitu lekat, jika saja Jungkook tidak sedang sakit, mungkin gadis itu sudah memeluk buntalan mungil itu karena gemas. Ia mengangguk, mencoba meraih tubuh lawannya setengah menjerit, "Jila Noona, sakittt~"

Kedua tangan Jira melingkar erat pada tubuhnya, mengusap pelan bahunya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jira merasa ia mengangguk di dalam pelukannya namun melupakan suatu fakta tentang ia yang menjulurkan lidahnya ke arah Jimin yang baru saja bernapas lega tepat di belakangnya, mengejeknya cukup hebat sebelum kembali bersandar pada bahu Jira dengan sikap manja yang seolah-olah tengah ia pamerkan pada Jimin.

"Noona, Kook-ie haus, boleh minta susu pisang?"

Jira terkekeh pelan, mengangguk dengan satu usapan hangat pada puncak kepala Jungkook sebelum mengambil dompet di atas meja dan melangkah meninggalkan pemuda kecil itu duduk di atas ranjang dengan kedua netra yang menatap lekat pada presensi Jimin yang masih setia mematung di hadapannya.

Jungkook menarik napas, lantas mengembuskannya cukup cepat, terlihat seperti orang dewasa yang tengah ditumpuk beban hebat di atas pundak saja.

"Aku mengatakan hal ini sebagai dua olang plia, tolong jangan mengganggu Jila Noona lagi. Noona milikku."

Ini bukan hal lucu yang perlu untuk Jimin tertawakan, terlebih yang mengucapkannya hanya lah seorang bocah balita yang masih memakai popok, namun saat melihat si kecil itu berbicara dengan nada serius setengah memaksa terdengar berwibawa, Jimin yakin betul bahwa ia akan memulai pertempurannya dari sini.

Jimin bukannya tidak tahu bagaimana perasaan Jira terhadap dirinya, hanya saja memulai sesuatu yang bisa disebut lebih dari persahabatan adalah hal luar biasa yang cukup sulit. Ia memiliki perasaan itu, Jira pun sama, lalu apalagi? Dan untuk ancaman dari bocah kecil berusia empat tahun tentu tidak akan membuat Jimin menghentikan perjuangannya begitu saja, ia pikir Jira pantas untuk diperjuangkan, lagipula mengapa harus menyerah? Toh Kim Seokjin saja belum benar-benar beranjak dari tempatnya.

"Maafkan aku Kook-ie, tapi aku rasa ini bukan hal yang bisa kau atur sedemikian rupa. Perasaan orang dewasa cukup rumit, kau tidak akan benar-benar mengerti sampai kau juga berubah menjadi pemuda dewasa."

Pemuda kecil itu terlihat setengah terkejut, balas menatap iris Jimin lekat dengan menggigit bibir bawahnya kesal.

"Aku hanya tidak ingin Noona menjauh daliku. Hanya itu." Jungkook yang sebelumnya dipenuhi kekesalan dan sepercik amarah di dalam dada perlahan melunturkan bara api di dalam dadanya, menunduk dengan wajah setengah menangis serta kedua iris yang terasa memanas akibat desakan hebat dari airmatanya. "Aku tidak akan punya kesempatan yang panjang lagi untuk memiliki seolang ibu."

Si kecil itu menatap Jimin lekat, mempertemukan iris keduanya dengan isi kepala berkecamuk, emosinya meningkat pesat. "Hyung, aku hanya ingin Jila Noona yang menjadi ibuku."

Bagai disambar petir di pagi buta, Jimin merasa terkejut setengah mati, ia bahkan hampir-hampir tersedak ludahnya sendiri. Ini konyol. Menjadi seorang ibu? Memangnya Jira mau apa? Dasar bocah, mengatakan apapun begitu mudahnya seolah-olah ia dapat mengatur segala sesuatu semudah meminta susu ataupun mengganti popoknya yang penuh.

"Dengarkan aku pemuda kecil," Jimin mulai mangangkat dagunya, terlihat setengah menekan kalimatnya agar bocah kecil yang mulai sesenggukan di depannya ini cukup paham, setidaknya sedikit paham saja akan membantu. "Perasaan seseorang tidak bisa diatur semau kita. Perasaan itu bukan hal yang mudah untuk kau minta dan tempatkan, perasaan itu tumbuh secara alami, tanpa paksaan, sama seperti bunga, jika kau berusaha menumbuhkannya di tepi tebing, aku rasa dia tidak akan pernah tumbuh seperti apa yang kau harapkan."

Jungkook kembali ditelan kekesalan. Rupanya cara untuk membujuk Jimin dengan tingkah polosnya yang menggemaskan adalah cara yang salah, pemuda ini sekeras batu. Ia bahkan tidak menyerah begitu saja hanya dengan tatapan setengah menangis darinya yang selalu berhasil menggoda siapa saja.

Bisa-bisa julukan Jungkook, 'si pemuda kecil yang ulung menggoda' akan lenyap hanya karena sikap Jimin yang keras kepala, dasar bodoh, seharusnya ia mengalah pada anak kecil seperti dirinya.

"Bukankah pelasaan itu sepelti lumput lial, Hyung? Ia akan tumbuh dimana saja, di tempat yang setia membelikan hujan pelhatian dan hangatnya kasih sayang. Lagipula, aku pikil Hyung telah jauh teltinggal."

Bocah ini!

Jimin seketika dibakar emosi yang menyala hingga puncak kepala, cukup geram sebab pemikiran si kecil ini rupanya tak semudah pemikiran anak empat tahun lebih pada umumnya.

Dasar, Kim Seokjin sialan, memangnya apa yang ia suap pada anaknya sehingga dapat membalas ucapan orang dewasa semudah ini? Oh, Jimin hampir lupa kalau Kim Seokjin yang dulu ia kenal sama sekali belum berubah.

Laki-laki keras kepala.

Jimin baru saja membuka mulutnya, berusaha membalas kalimat Jungkook yang terlalu kekanakan untuknya, namun debum ringan pintu mengejutkannya. Jira baru saja kembali dengan dua plastik belanjaan pada genggaman saat Jungkook terdengar setengah berteriak mencoba menghambur ke dalam pelukan Jira dan mengatakan sesuatu yang membuat Jimin hampir-hampir terjengkang dari tempatnya berdiri dengan perasaan terkejut setengah tidak terima.

"Noona, Jimin Hyung memukul kepala Kook-ie yang teluka." <>

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang