Chapter 10

8.8K 1.8K 313
                                                  

The fear that underlies stupid words

Itu Jung Hoseok.

"Eiiii apa yang kalian lakukan di sini? Dasar mesum."

Pemuda itu mendekat, memukul kepala Jimin cukup kuat hingga rasa-rasanya bola mata pemuda itu akan melompat keluar begitu saja.

"A-apa yang kau lakukan di sini?"

Hoseok melempar kantung plastik berukuran cukup besar ke atas sofa, menunjuknya dengan dagu seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Ibumu menyuruhku datang untuk membawakan beberapa makanan dan baju ganti untukmu. Beliau sedang tidak enak badan."

Bagus. Ini ide bagus. Datang ke sini tanpa mengetuk pintu dan mendapati keduanya yang terlihat seperti tengah berbuat hal yang tidak-tidak, tipikal Jung Hoseok sekali, Jira yakin setelah ini ibu akan menginterogasinya dengan puluhan pertanyaan akibat mulut ember sepupunya ini.

"Mengapa tidak mengetuk pintu lebih dulu?"

"Agar kalian tidak tertangkap basah? Oh jangan bodoh, ini adalah hal luar biasa yang bisa kuadukan pada Bibi."

Dasar besar mulut. Ingin rasanya Ahn Jira menjahit mulut besar Hoseok itu dengan benang gelas untuk tali layang-layang. Awas saja, ia akan menghancurkan tombol PUBG kesayangan Hoseok nanti.

Hoseok mengambil tempat tepat di depan keduanya, menatap penuh selidik dengan iris yang memicing tajam.

"Kalian tidak sedang berkencan, bukan?" Tanya pemuda itu penuh selidik.

Keduanya hanya menatap satu sama lain, Hoseok dapat menemukan kedua belah pipi Jimin yang memerah saat mengalihkan tatapan canggungnya. Tidak perlu ditanya lagi, Hoseok baru saja menemukan jawabannya. Sebab saat Jira menggeleng tidak habis pikir, merotasikan irisnya sebelum kembali menatap Jungkook kecil yang setia terlelap, ia menemukan bahwa ganti Jimin yang terjebak di dalam hubungan pertemanan ini. Konyol memang, Hoseok bahkan masih mengingat bagaimana kamarmya hancur berantakan seperti baru saja diterpa badai hebat saat Jira datang menemuinya dalam keadaan menangis setengah mengamuk akibat rasa kesalnya pada Jimin yang terlalu bodoh untuk menyadari perasaannya. Huh, bikin susah saja, sejujurnya Hoseok ingin meneriaki keduanya yang terlampau bodoh, Jimin dengan ketidakpekaannya dan Jira yang tidak pernah mampu untuk bicara secara terang-terangan, romansa picisan anak muda, pikir Hoseok.

"Jika memang tidak kenapa dekat-dekat seperti tadi? Kalian ingin kuadukan pada Bibi?"

Pemuda manis yang duduk disebelah Jira itu hanya menggeleng takut. Menunduk dengan kedua tangan yang sibuk saling meremat satu sama lain saat mendengar Hoseok kembali menceramahinya seperti yang sudah-sudah.

"Berhentilah Jung Hoseok, kita sedang berada di rumah sakit, lagipula Jungkook butuh istirahat. Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak."

Pemuda cerewet itu kontan terdiam, nampak memberengut kesal sebelum kembali memperbaiki mimik wajahnya saat mendapati Park Jimin yang berusaha menahan tawa di ujung sana. Awas saja kau Park, ancamnya.

"Ya sudah. Aku hanya datang membawa titipan Bibi. Jangan terlalu khawatir Ji, Jungkook anak yang kuat. Oh ya, omong-omong Seokjin sudah tahui hal ini?"

Gadis itu menggeleng setengah terisak kecil. Menatap Hoseok takut-takut. "Aku takut mengatakan padanya. Bagaimana jika dia memarahiku? Memangnya aku bisa mengatakan apa padanya?"

Huh, selalu seperti ini.

"Baiklah, nanti aku saja yang bicara padanya. Sebenarnya Bibi sudah lebih dulu menghubungi pemuda itu, tetapi ia meminta Seokjin untuk tidak terlalu kasar padamu dan Jimin. Lagipula ini semua hanya kecelakaan meskipun benar kalian berdua tetap bertanggung jawab untuk kelalaian kalian."

Oh bagus! Terima kasih, Ibu, Jira yakin setelah ini Kim Seokjin akan meneleponnya, memarahinya habis-habisan karena telah melukai anak semata wayangnya ini. Dasar Jira bodoh.

"Baiklah, aku pergi!"

Baru saja Hoseok pergi, menutup pintu kamar perawatan milik Jungkook dengan debum rendah, ponsel yang sejak tadi dijauhi oleh Jira bergetar, ia melirik dan diselimuti oleh teror saat melirik nama milik Kim Seokjin yang tertera pada layar ponselnya yang menyala. Gawat. Ini benar-benar gawat. Apa ia harus mangangkatnya? Lalu ia harus mengatakan apa? Bagaimana jika Seokjin marah?

Memilih menggenggam ponselnya bersama rasa takut yang mencekam, Jira melangkah keluar ruangan sebelum menitip pesan pada Jimin untuk menjaga Jungkook selagi ia mengangkat telepon dari Seokjin.

Tangannya sedikit berkeringat akibat gugup, dadanya yang bertalu hebat serta hembusan napasnya yang terasa menyesakkan membuat Jira diserang panik yang berlebihan. Gadis itu sempat menarik napas cukup panjang, sebelum menggeser panel hijau pada layar ponsel dan menempelkannya pada daun telinga seraya mempersiapkan hati dan telinga untuk kemarahan Seokjin.

"Ha-halo?" Baiklah, ini terdengar seperti malaikat pencabut nyawa tengah berusaha mencabut nyawa Jira. Ia menggigiti bibir takut saat Seokjin terdengar mendesah gusar di seberang sana.

Mati kau Ahn Jira.

"Kau baik-baik saja?"

Tunggu? Apa baru saja Seokjin menanyakan tentang kabarnya? Apa Jira tidak salah dengar?

"Hei, Ji, kau di sana?"

Baik, Jira tidak sedang bermimpi sebab Seokjin yang memanggil nama kecilnya terasa benar-benar merasuki gendang telinganya dengan hebat. Untuk itu ia mengatur napas sebelum menjawab dengan begitu hati-hati. "Y-ya. A-aku baik."

Ia mendesah sekali lagi di ujung sana, namun kali ini terdengar sedikit terdengar lega. "Syukurlah. Bagaimana Jungkook?"

Tanpa mampu untuk dibendung, Jira terisak kecil, meminta maaf berulang kali pada Seokjin dengan suara parau, "S-Seokjin... maaf. Sungguh, maafkan aku. Aku yang lalai di sini, m-maafkan aku."

Jira menemukan Seokjin yang diam cukup lama di seberang sana. Tamat riwayatmu Jira.

"Ini bukan salahmu. Ini murni kecelakaan."

"Ta-tapi, jika aku mengawasi Jungkook lebih baik lagi, jika saja aku tidak menitipkannya pada Jimin, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi. Ini semua salahku sejak awal."

"Berhenti menyalahkan dirimu, oke? Aku tidak pernah menganggap kau adalah penyebab dari semua ini, tidak pula pada Jimin. Ini murni kecelakaan, jadi kumohon jangan menyelahkan diri lagi, ya? Aku sedang berada di bandara, aku meminta kelonggaran di sini karena Jungkook, aku akan pulang lebih awal. Aku akan kembali, jangan takut."

Entah untuk alasan Seokjin yang nampak begitu tenang, memperhatikannya dengan kekhawatiran yang ikut menghangat di tengah-tengah rasa takutnya, atau tentang Seokjin yang akan kembali cukup cepat sehingga Jira merasakan sekujur tubuhnya menghangat, ia tersenyum sekilas namun buru-buru mengenyampingkan hal itu saat Seokjin kembali bersuara begitu tenang dan lembut, "Jaga dirimu dan Jungkook selama aku dalam perjalanan. Aku yakin, segala sesuatunya akan membaik sebentar lagi, jangan takut."

Jira mengangguk cepat, meskipun ia tahu bahwa Seokjin tidak akan pernah bisa melihatnya. Gadis itu setengah tersenyum riang, mengusap sudut matanya yang berair sebelum menjawab kelewat cepat, bahkan begitu cepat hingga mengundang desir aneh yang kembali menggelitik perasaan Kim Seokjin. Ahn Jira yang manis, pikirnya.

"Ya. Aku akan melakukannya untuk Kim Seokjin."

Merasa kalimatnya sedikit membingungkan, Jira cepat-cepat menutup mulutnya, merasa baru kedapatan mengungkapkan hal bodoh tentang perasaannya pada Kim Seokjin, hal itu tentu membuat Seokjin tersenyum geli di seberang sana, menarik napas cukup panjang sebelum mengatakan sesuatu yang sukses membuat kedua belah pipi Jira menghangat. Ini gila! "Hei, Ji, aku merindukanmu." <>

Limitless PresenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang