23. Brown Resident

33.5K 1.6K 36
                                        

Saat kau masuk ke dalam kediaman keluarga Brown di London, Inggris kau tak akan merasa hidup di abad 21.

Rumah megah berdinding batu itu berdiri kokoh dengan design abad ke 18. Intererior rumah didominasi warna coklat, emas, broken white dan sedikit merah maroon dibeberapa sudut sebagai aksen pemanis. Lampu gantung kristal yang megah ada hampir disetiap ruangan. Pesta ulang tahun Brian Brown diadakan di semuah ruangan khusus. Bagunannya terpisah dari rumah utama namun terletak ditengah, sehingga para tamu yang akan kesana akan melewati taman yang luas dengan kolam dan air mancur serta lampu-lampu taman klasik.

Ruangan tersebut sering disebut sebagai inglenook, yang berarti sebuah ruangan dekat tungku api. Ruangan itu berbentuk persegi panjang dengan sebuah tungku api yang besar. Jendelanya yang besar berjajar lurus sepanjang ruangan, pintunya pun sangat besar, terbuat dari kayu pohon ek.  Didalam nya ada beberapa meja bundar untuk menjamu tamu dan sebuah panggung kecil untuk musik live yang biasanya diisi oleh sebuah orkestra mini.

Kediaman keluarga Brown nampak sibuk mempersiapkan pesta tahunan untuk merayakan ulang tahun putra mereka satu-satunya, Brian.

"Beberapa raksasa dari Indonesia ada Keluarga Pradakso, Wijayanto, Adidharmo, Perdanakusuma, Effendi, Sukowati, Amijaya dan Hartono. Mereka juga rekan bisnis keluarga Brown."

Riana Brown mendengarkan dengan seksama penjelasan asisten nya tentang beberapa undangan penting yang akan menghadiri perayaan ulang tahun putra nya.

"Adhidarmo?!" Pekiknya.

"Iya, tahun ini keluarga Adidharmo akan datang. Pamor keluarga Adidharmo sedang naik, karena anak perempuan nya itu ternyata tidak meninggal. Sekarang anak perempuan Adidharmo itu memulai bisnis di bidang property di Australia dengan omzet yang bagus. Semua orang mulai membicarakannya. Ia juga sering terlihat bergaul dengan kalangan atas. Seluruh anggota keluarga Adidharmo memiliki andil masing-masing dan itulah yang membuat keluarga mereka... Tambah disegani."

Riana Brown bertepuk tangan, "seperti biasa, Liliana Sitompul ga pernah mengecewakan. She's great mom, she's a great lawyer, and now she has 3 great kids. Sedangkan aku? Cuma punya anak satu aja susah sekali diatur! Kalo aja perempuan sialan itu ga muncul, Brian mungkin sudah menikah dengan anak perempuan keluarga Adidharmo!"

Asisten nya tersenyum, "Kabarnya... Ini semua rencana Romeo Adidharmo untuk menutup rapat-rapat tentang kondisi adik perempuan nya. Bahkan antek keluarga Brown tidak bisa menembus pertahanan nya."

"See?! Little Liliana Sitompul! Romeo Adidharmo is a bomb! Kalo Brian ga sama Agatha Adidharmo, mungkin aku harus jodohkan Beatrice Brown, sepupu Brian dengan Romeo Adhidarmo."

Riana Brown berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan ke jendela yang menghadap ke arah inglenook. Semua persiapan hampir siap. Winter membuat air kolam membeku indah karena terkena pantulan lampu-lampu taman.

"Ada kabar dari Brian?" Tanya Liliana

"Iya... Dia bilang... Dia akan datang dengan pacarnya tahun ini"

Riana Brown sontak memandang marah asistennya, "What did you said?! Oh wait.. Brian ga tau kalau miss Adidharmo itu masih hidup kan?"

Asisten nya menggeleng.

"Good!" Seru nya, "pastikan Brian tetap ga tau soal itu sampai pesta dimulai. Kita liat, kekuatan putri tunggal Adhidarmo melawan si... Aku bahkan ga tau siapa perempuan berengsek itu... Kania?"

"Nania.." Kata asisten nya.

"Whatever.."

Riana Brown mulai bergidik saat membayangkan alasan Brian membawa pacarnya adalah untuk meminta restu darinya. Restu agar mereka bisa menikah.

"Pantau terus miss Adidharmo! Aku mau pastikan dia datang ke acara ini!" Perintah Riana Brown yang langsung dibalas dengan sebuah anggukan dari asisten nya.

***************************************

"Musti ya latihan? Kita cuma mau ketemu sama Mama dan Daddy aku aja.. Yang lain nya tamu!"

Brian mengeluh karena Nania memaksanya untuk menemani nya berlatih saat nanti berhadapan dengan orang tua Brian. Budi, Nando dan Arman menonton sambil cekikikan.

"Budi!" Perintah Nania, "kamu jadi Daddy nya Brian! Arman jadi Mama nya Brian! Nando pura-pura jadi tamu!"

"Why should i?" Bantah Budi.

"Kenapa gue jadi nyokap nya Brian? Ogah ah! Gue mau jadi bapak nya aja!" Protes Arman.

"Gue tamu? Tamu apaan? Tamu tak diundang?! Wahahahahah" Nando tertawa sambil memegangi perutnya.

"God!! Tolongin doooong! Ini tuh penting banget!"

Nania terlihat benar-benar ingin membuat semua orang terkesan dan sudah 3 hari ini ia terus menerus berlatih. Dari mulai cara berjalan, berbicara, table manner, berdansa, bahkan ia menghapal seluruh nama keluarga kalangan atas yang diundang keluarga Brown beserta bisnis yang mereka geluti.

"Relax, okay?" Kata Brian sambil mengelus kepala Nania, "kamu udah latihan terus.. Aku ngerti kamu pengen tampil maksimal, tapi ga usah jadi beban banget lah"

Nania melihat Brian dengan tatapan tak percaya, "it is Brown family, for god sake! A billionaire..."

Brian langsung memotong ucapan Nania, "and also my family.. Relax! Semakin kamu grogi, semakin aku khawatir.. Okay?"

Nania mengangguk. Ia melihat baju yang dipilihkan Arman untuknya, sebuah gaun malam berwarna pastel dengan belahan sampai ke paha. Sepatu stiletto dengan tali yang mengikat sampai diatas mata kaki berwarna sama. Kalung berlian berbentuk kelinci kecil, satu set dengan anting dan gelangnya. Ia ingin tampil elegan, namun tak meninggalkan kesan "humble". Sedangkan jas Brian berwarna senada dengan gaun malam nya, dasi nya berwarna merah terang dengan kemeja abu-abu gelap.

Nania memperhatikan semua detailnya. Ia ingin semuanya sempurna.

"Private jet nya udah ready!" Sahut Budi.

Brian, Nania dan Budi segera bergegas. Arman dan Nando mengucapkan selamat tinggal.

"Taun depan, saat gue udah jadi raja Inggris, bokap lo pasti ngundang gue bri!" Kata Arman sambil melambaikan tangan nya.

"Awas ya kalo taun depan gue udah jadi triliyunir, di undang juga gue ogah dateng! Haha" timpal Nando.

Mereka semua tertawa terbahak-bahak.

***************************************

Sesampainya di London, Brian dan Nania langsung menuju hotel. Budi yang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Brown, langsung menuju kediaman keluarga Brown.

"Maaf yaa.. Karna kamu belum resmi, kamu ga boleh nginep di rumah keluarga Brown.. Daddy itu agak kuno.." Kata Brian sambil mencium pipi Nania.

"Ga apa-apa yang penting kamu nemenin aku.. It's more than enough.." Nania balas mencium pipi Brian.

"Laper ga? Aku mau beli makanan.. Kamu mau apa?" Tanya Brian.

"Kamu? Mau beli makanan?? Hahah yang ada bakalan heboh gara-gara ada Brian Brown beli sandwich! Biar aku aja!"

"Hehe.. Bener nih ga apa-apa?"

"Iyaaa!"

Nania memakai mantel musim dingin nya dan mengambil tasnya lalu bergegas keluar kamar. Ia langsung menuju ke arah lift dan segera menekan tombol lantai satu. Saat lift itu mulai menutup, Nania melihat sosok yang sudah tak asing lagi di luar lift. Romeo tersenyum lebar ke arah nya.

Posesif (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang