2. Seperti Lukisan

1.8K 380 686
                                    

"Pada dasarnya kau berusaha bersikap baik-baik saja, tetapi perasaanmu ingin bebas. Mengalir layaknya cat yang tergores di atas kanvas. Tanpa larangan."

"Dil, lo seriusan mau beli es krim sebanyak itu?" Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat keranjang belanja Dila sudah penuh dengan es krim.

Tadi saat pulang sekolah, Ryan terpaksa mengiyakan permintaan Dila untuk membelikannya es krim sepuasnya. Niatnya, sih, supaya Dila tidak marah lagi, tetapi gadis itu sepertinya malah berniat mengosongkan isi dompetnya.

Dila menyengir tanpa dosa. "Enggak apa-apa, kan, gue borong semuanya? Lumayan untuk stok di rumah."

Mata Ryan membulat sempurna. Dikatupkannya kembali bibirnya yang sempat terbuka. Ryan menelan saliva-nya dengan susah payah. "Seriusan, Dil? Lo enggak kasian gitu sama gue?"

Dila mengangkat salah satu alisnya. "Ryan, kan, sanggup beliin seribu es krim buat Dila."

Ryan merutuki dirinya sendiri. Tadi, dia memang sempat berkata seperti itu. "Itu, kan, cuma hiperbola, Dil. Ya kali gue beliin seribu es krim, bisa bangkrut gue."

Dila menoleh cepat lalu menatap Ryan dengan tajam. "Jadi ...."

"Borong aja semuanya, Dil! Gue ikhlas, kok." Ryan tertawa hambar. Melihat tatapan Dila seperti itu membuatnya merinding. Bahkan Ryan merasa udara dingin yang berasal dari AC mendadak kabur karena ketakutan. Dila lebih menyeramkan dari kemarahan bundanya saat dia menghilangkan tupperware.

Dila tersenyum puas. Rasanya sangat senang mengerjai Ryan seharian. Cowok itu benar-benar polos. Sejenak beban yang sudah beberapa tahun menghantuinya, mendadak sirna. Entahlah, hanya Ryan yang mampu membuat Dila merasakan kebebasannya. Menikmati kehidupan layaknya lukisan yang diciptakan dengan imajinasi yang tidak terbatas. Selalu saja menemukan warna baru yang yang belum pernah didapatinya. Meski, ketika sudah berada di rumah, kehidupan Dila kembali abu-abu. Beban dan tekanan kembali berdatangan tanpa henti.

"Dil ...."

Sentuhan lembut di bahu Dila mampu menariknya kembali ke dunia nyata. Dia masih terjebak dalam ruang kelam yang belum juga rutuh, meski sudah bertahun-tahun berlalu. Justru kepingan memori masa lalu itu semakin melekat hingga membuatnya ingin mengilang dari bumi ini.

"Lo enggak apa-apa, kan, Dil? Mau ke kasir sekarang atau beli makanan lagi?" tanya Ryan. Cowok itu tidak lagi mampu menyembunyikan rasa khawatirnya. Bagaimana tidak? Wajah Dila terlihat pucat. Selain itu, binar di mata gadis itu meredup. Entah apa alasannya, hatinya terasa sesak bila melihat Dila bersedih. Sudah cukup penderitaan yang selama ini Dila rasakan. Ryan tidak mau gadis itu kembali terjatuh ke dalam kubangan masa lalu itu.

Dila tersenyum. Diambilnya sebuah es krim rasa vanila kesukaannya. "Yuk, ke kasir!"

"Eh?" Ryan menarik tangan Dila. "Kok cuma satu? Katanya mau borong semuanya."

Dila mencubit pipi Ryan. "Tadi gue cuma bercanda, Ryan. Enggak mungkin dong, gue borong semuanya. Nanti lo enggak bisa bayar, gimana? Gue enggak mau ditahan gara-gara lo enggak bawa uang. Lagian nanti kalau ketahuan, Bunda pasti marah gara-gara nyiksa anak orang."

Ryan sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengacak puncak rambut Dila. Entah kenapa, jantungnya berpacu lebih cepat saat gadis itu menyentuh pipinya. "Calon pacar Ryan memang pengertian banget, ya. Jadi pengen cepet-cepet diresmiin."

Mata Dila seketika membulat. Dia langsung mengijak kaki Ryan. "Apaan, sih? Siapa juga yang mau pacaran sama cowok ceroboh kayak lo?"

Ryan terkekeh lalu senyumnya perlahan memudar ketika melihat punggung Dila yang mulai menjauh dari pandangannya. Meski hatinya terasa nyeri karena mendengar penolakan tersebut. Namun, Ryan yakin di balik kemarahannya itu ada rasa malu yang berusaha Dila sembunyikan. Buktinya tadi Ryan melihat pipi Dila memerah, bisa dibilang mirip seperti tomat.

***

Setelah Ryan menghilang dari pandangannya, Dila berbalik menatap pintu rumahnya. Sesaat Dila menghela napas panjang sebelum dengan berat hati memasuki rumahnya. "Kenapa baru pulang?"

Dila tersentak mendapati ayahnya duduk di sofa ruang tamu. Tatapannya mengintimidasi sampai-sampai membuat nyali Dila menciut.

Dila meremas ujung roknya, gugup. "Itu ... tadi Dila mampir ke supermarket dulu, Yah."

Fandi, ayah Dila, meletakkan koran yang semulanya berada di genggamannya. Pria paruh baya itu langsung bangkit dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapan Dila. Raut wajahnya tidak berubah, tatapnya masih tajam. Aura mencengkam semakin menyelimuti Dila. Bahkan gadis itu tidak berani menatap ayahnya.

"Bukannya Ayah udah bilang, setelah pulang sekolah jangan keluyuran. Ayah menyekolahkan kamu supaya masa depan kamu baik, Dila. Makanya jangan main-main lagi. Belajar yang baik. Jangan sampai Ayah rugi mengeluarkan uang banyak-banyak hanya untuk kamu, Dila," ucap Fandi dengan penuh penekanan.

Genggaman tangan Dila semakin mengerat. Hal inilah yang membuatnya tidak betah berada di rumah. Ayahnya selalu menyuruhnya belajar tanpa mengenal waktu. Bahkan, Dila dilarang pergi bermain bersama teman-temannya kecuali Ryan. Membosankan, bukan?

"Dila cuma beli es krim, Yah. Enggak keluyuran seperti yang Ayah bilang." Dila mendongak, memberanikan diri membalas tatapan ayahnya.

"Sejak kapan kamu jadi berani melawan Ayah? Ini semua demi kebaikan kamu, Dila."

Mata Dila memanas. Dadanya terasa sesak. "Kenapa Ayah enggak pernah mikirin perasaan Dila, sih? Berhenti menganggap Dila seperti Dela, Yah. Kita berbeda."

"Dila!"

Dila menghapus air matanya lalu berlari menuju kamarnya. Rasanya Dila muak dengan semua tekanan yang selama ini membelenggunya. Dila ingin lari, menjauh dari kenyataan yang begitu menyakitkan ini. Dila membanting pintu kamarnya, melampiaskan amarah. Gadis itu menghela napas berat lalu mengambil alat-alat lukis yang sengaja disembunyikannya di bawah tempat tidur karena ayahnya melarangnya melakukan sesuatu yang katanya membuang-buang waktu. Padahal melukis bukanlah sesuatu yang buruk.

Dila membuka gorden abu-abu yang menghiasi jendela kamarnya, membiarkan angin menyentuh kulitnya dan perlahan menerbangan untaian rambut sebahunya. Sesaat Dila memejamkan mata sekadar untuk menikmati sebelum jemarinya mulai menorehkan warna pada kanvas di hadapannya. Rasanya begitu tenang bila melukis sembari memandangi langit biru yang perlahan berubah warna menjadi oranye kemerahan.

"Dila hanya ingin melukis, Yah. Enggak lebih."

***

SORRY (PROSES PENERBITAN)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang