For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

21√ Jungkir Balik Dunia Daehwi

333 127 30

Daehwi masih bergelung di dalam selimut, dia sedang sakit.

Setidaknya itulah yang dia katakan pada Woojin saat bertanya, membuat yang lebih tua bergerak heboh mencari kotak obat dan memilah-milah mana yang cocok untuk si adik.

Sayangnya, Daehwi tidak akan mau menelan pil ataupun sirup yang diberikan Woojin.

Sudah berapa kebohongan yang dia buat untuk kakaknya, ya? Bahkan Daehwi bisa lebih jujur pada Jinyoung yang baru beberapa hari dia kenal.

Woojin yang malang, Daehwi hanya ingin si kakak agar tidak mengkhawatirkan adiknya, kok.

Tidak percaya? Terserah.

Woojin masuk ke kamarnya untuk yang ke lima kali -kalau Daehwi tidak salah hitung-, membawa nampan berisi bubur dan air putih, jangan lupakan beberapa bungkus obat di sana membuat Daehwi meringis.

Tunggu.

Ada benda lain yang datang bersama Woojin, paper bag yang dikenal Daehwi. Sang kakak tersenyum cerah saat mengatakan, "Jihoon membawa roti manis kesukaanmu. Dia tidak lupa meski tidak dekat denganmu." Nada bangga terselip sangat kentara, kakaknya sedang dalam suasana hati teramat bagus.

Jihoon adalah orang selain Daehwi yang dapat mengendalikan Woojin, tidak kuat dia dengan lucu dan menggemaskan begitu.

Mereka memang tidak dekat akhir-akhir ini karena kesibukan masing-masing yang selalu bertabrakan.

Sekarang Jinyoung berada di antara dua orang itu bagai jurang pemisah dan Daehwi jadi penasaran, bagaimana kalau Woojin tahu semuanya?

Jinyoung tamat. Pasti.

Daehwi terduduk sebelum diminta, ditanggapi salah paham oleh Woojin yang mengira adiknya sama antusiasnya dengan dia, "di mana dia sekarang?" bertanya tanpa basa-basi tapi Woojin tidak sesenang tadi.

Oh, tidak. Daehwi salah bicara.

"Sejak kapan kau tidak sopan memanggil yang lebih tua?" teguran biasa tapi bagi Daehwi yang rusak suasana hatinya, teguran biasa bisa jadi amat menyebalkan.

"Maaf," meski begitu dia tetap memilih mengalah, ingin menggali informasi dari Woojin sambil mengulang pertanyaan dia, "di mana kak Jihoon sekarang?"

Seperti biasa, Woojin luluh begitu saja dengan mode anak baik yang ditunjukkan adiknya.

"Tidak apa, tadi dia pamit ingin pergi dengan teman lama." Mengaduk-aduk bubur menggunakan sendok, megarahkan kipas angin mini portabel untuk mengurangi panasnya sebelum disantap si adik.

Kakak idaman sekali, sih?

"Mantel merah muda yang kupakai kemarin, punya kak Woojin?" tiba-tiba membayangkan si gingsul dengan mantel merah muda lantas terasa aneh.

Sejak kapan pencinta warna netral memakai yang seperti itu?

"Itu milik Jihoon, dia pasti menyimpannya dalam lemari pakaianku. Kenapa? Kau suka? Kau boleh memakainya kapanpun, dia tidak akan marah." Kenyataan menampar Daehwi amat keras mengetahui hal tersebut.

Dia tidak bodoh tentang siapa teman lama Jihoon yang dimaksud kakaknya. Itu pasti Jinyoung dan dalam kepala Daehwi mereka makan malam romantis berdua sekarang, berbanding terbalik dengan Daehwi yang melihat jijik bubur yang tepat berada di depan mulutnya.

Demi menyenangkan Woojin, dia rela memakan makanan bayi dan orang sakit itu.

"Kau sangat sakit." Sarat kekhawatiran Woojin berkata setelah memeriksa suhu tubuh adiknya menggunakan termometer digital, tiga puluh delapan derajat celcius, "istirahatlah, aku akan meminta mama dan papa cepat pulang." tapi Daehwi menahan tubuh Woojin, memeluk kakaknya itu sebagai pelampiasan semua rasa kesal dia.

"Maafkan aku," berucap lemah dan meletakkan kepala dia yang terasa berat ke bahu Woojin. Si gingsul pasti mengira sakitnya dia karena terlalu banyak belajar, yang benar adalah karena Daehwi terlalu lama berada di bawah guyuran air dingin.

Salahkan Jinyoung yang tidak mau melepaskannya begitu saja setelah ditolak tadi malam.

Sialan memang. Woojin tidak dapat mendengar dia mengumpat, kan? Kalau begitu Daehwi aman.

"Bukan salahmu, pasti berat memertahankan peringkat barisan pertama." Woojin menepuk-nepuk punggung adiknya, melepaskan pelukan saat merasa ada yang mengalir di bahunya sendiri, "kau mimisan, ya ampun!" Berlari keluar untuk mengambil sekotak tissue.

Daehwi melihat tetesan darah yang membasahi selimut  dalam diam, merasa bodoh karena dunianya jungkir balik memikirkan kegiatan erotisnya dengan si tukang roti.

Semoga kebanggaan Jinyoung terjepit di resleting celana.

Kejam? Biarkan.

DeepHwi's Drabble/Ficlet | Wanna One | Daehwi & JinyoungBaca cerita ini secara GRATIS!