Part 13

2K 102 7

"Semuanya masih sama. Semua masih teratur pada takaran kepribadian mereka masing-masing."

~~~

“Reno? Mi, serius dong,” Sye kembali bertanya kepada Sarah perihal tadi.

“Iya, Mami juga serius. Tadi Reno emang kesini buat nganterin itu. Terus katanya nanti kamu suruh keluar rumah tepatnya jam delapan malem,” Sarah kembali meneguk teh hijaunya.

“Reno balik ke Indonesia? Dia pulang dari Thailand?” Sye membulatkan matanya karena perkataan Sarah.

Sarah menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Sye. “Iya, dia lagi balik ke sini karena sekolahnya di Thailand lagi libur,” lanjutnya pada Sye.

“Ooh gitu,” Sye menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Terus maksudnya aku suruh keluar nanti malem apa?” Sye kembali melontarkan pertanyaan untuk kesekian kalinya.

Sarah hanya mengedikkan bahunya seraya menyalakan televisi yang ada di hadapannya.

“Ya udah, thanks, Mi.” Sye berlari menuju kamarnya dan meninggalkan Sarah sendiri.

Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah anak bungsunya itu.

Sye tak tahu harus membuka lebih dulu pemberian dari Karel, kekasihnya atau Reno, sahabat lamanya.

“Buka yang mana dulu ya? Dari Karel atau Reno?” gumam Sye. “Dari Karel aja dulu kali ya,” Sye meletakkan hadiah pemberian Reno dan mulai membuka paperbag pemberian Karel di taman tadi.

Sye membulatkan mulutnya ketika membuka isi paperbag dari Karel. Sye tak percaya dengan apa yang diberikan Karel untuknya. Memang bukan permata ataupun berlian, tapi ini lebih mengesankan dari kedua benda itu.

Sye tak tahu dari mana Karel mendapatkan foto-fotonya yang ia cetak polaroid lalu diletakkannya dalam sebuah bingkai foto dengan ukuran besar.

Sye mengambil ponselnya lalu menuliskan sebuah pesan singkat untuk Karel.

To : Karel
Kamu dapet darimana foto-foto aku?

Diletakannya kembali ponselnya itu setelah selesai menuliskan sebuah pesan singkat untuk kekasihnya.

Tangan dan matanya beralih ke arah bingkai foto yang baru saja didapatnya. Tangan-tangan mungilnya menelusuri foto demi foto dengan beberapa tulisan di dalamnya.

Karel is calling you...

“Iya, kamu dapet darimana foto-foto aku?”
‘Cie yang manggilnya aku-kamu.’
“Apaan sih, Rel. Lo dapet darimana foto-foto gue?”
‘Kok lo-gue lagi? Udah bagus aku-kamu.’
“Karel,”
‘Iya iya, gue sering fotoin lo diem-diem.’
“Jail emang ya.”
‘Tapi suka kan?’
“Iya, makasih ya.”
‘Sama-sama.’
“Oke, bye.”

Sye beralih pada kotak biru pemberian Reno sahabat lamanya. Dibukanya kotak itu dengan penuh hati-hati. Matanya berbinar ketika melihat isi dari kotak itu. Benda yang sudah dua tahun ini tidak pernah ia lihat lagi semenjak Reno memutuskan untuk mengikuti orangtuanya ke Thailand, kini kembali hadir dalam pandangan binar matanya.

“Ternyata lo masih nyimpen gelang ini, Ren,” gumam Sye dalam kesendiriannya.

Sye mengambil gelang itu lalu memakainya di pergelangan tangan kanannya. Gelang itu begitu patut melingkar pada pergelangannya.

Matanya beralih pada surat yang tergulung rapi dengan ikatan pita merah ditengahnya. Dibukanya surat itu lalu dibacanya kata demi kata dalam diamnya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!