MALING SAKAW!

16 0 0

Seberapa tuluskah kita

berbuat baik bagi orang lain

tanpa pernah menghitung

untung ruginya?

Sepulang dari backpacking bareng teman-temannya, Larasati jadi manja sama Mamanya. Tidur pun minta dikelonin, di kamar Mama lagi. Seperti malam itu, kali ketiga dia angkut-angkut selimut dan bantal-guling dari kamarnya sendiri yang terpisah dari rumah induk.

"Kamarmu udah dikunci, Ras?" Mama memperbaiki letak gorden dan menyalakan lilin aromaterapi. Harum lavender menyeruak seruangan.

Laras sudah siap memeluk guling dan berselimut, menjawab sambil merem, "Udah, Ma..."

Mama setengah tidak percaya berjalan keluar. Laras mendengar pintu samping buru-buru dibuka, bunyi langkah Mama di bebatuan kecil, gerendel pintu kamar paviliun Laras diputar. Klik. Rupanya laras lupa menguncinya!

Laras senyum-senyum saat pintu kamar Mama dibuka dan harum tipis parfum Omnia Bvlgari tercium. Wanginya oriental, mengingatkan Laras pada bau pepohonan di hutan. Itu parfum kesayangan Mama, yang direkomendasikan oleh Papa.

Ingatan Laras bercabang, "Kabar Papa gimana ya, Ma?" Ada rindu dalam suaranya.

Mama yang sudah berbaring jadi menoleh, membelai rambut Laras, lalu mencium ubun-ubunnya.

"Mama kangen nggak sama Papa?" Laras mengoceh sambil merem.

"Kangen. Tapi sudah biasa, dari dulu juga Papa suka ngilang, nanti tahu-tahu ngasih kabar lagi..." suara Mama tetap tenang. "Jangan khawatir, doakan yang terbaik. Udah, tidur aja, Pumpkin.."

Laras meneruskan kantuknya. Ia mimpi bertemu Papa, yang tampak sehat-sehat saja. Papa mengacungkan dua jempol tangan sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba menghilang. Laras membuka mata. Diliriknya Mama yang tidur dengan dengkur halus. Kerut mulai membayang di wajah cantik itu. Wajah yang terjaga dengan makanan sehat dan jamu tradisional.

Wuih, batin Laras iri. Apakah dia nanti bisa awet muda saat seumur Mama?

Tiba-tiba telinga Laras menangkap bunyi aneh dari arah luar. Bunyi yang bukan bagian harmoni di rumahnya. Telinganya ditajamkan, makin menangkap gelagat asing. Reflek Laras turun dari ranjang.

Seharusnya, Pak Satpam di gardu depan rumahnya lebih awas, karena tugasnya memang menjaga keamanan. Aneh juga kalau lolos dari pengawasan, batin Laras.

Hati-hati Laras membuka pintu kamar Mama, berjingkat mendekat jendela, mengintip sedikit dari balik gorden. Jantungnya berdetak lebih cepat. Sesuatu sedang berkelibat masuk ke kamar paviliunnya!

Laras berpindah ke ruang tamu, mengawasi pos satpam. Tak ada Pak Satpam yang biasanya terlihat duduk sambil mendengarkan radio. Laras tambah curiga. Ia berniat membangunkan Mama, tapi diurungkannya.

Ia kembali lagi memperhatikan paviliunnya yang kini terang oleh nyala lampu. Terdengar bunyi gemerisik lembaran kertas dibuka-buka. Laras berani menebak maling itu sendirian.

Arsip Papa, batin Laras. Apa yang dicari maling itu?

Laras perlahan membuka pintu samping. Perlahan sekali. Untung Simbok, pembantu rumah, rajin memberi pelumas pada engsel-engsel. Itu berguna seperti sekarang ini.

Perlahan Laras mendekati paviliun. Itu kerajaannya, dan sekarang diacak-acak orang tak dikenal. Ia siap menghadapi segala kemungkinan untuk mempertahankan wilayahnya.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!